Janji Yang Kau Ingkari

Janji Yang Kau Ingkari
60. Sahna kesal


__ADS_3

Hari ini Adisti mendatangi gedung pengadilan karena akan digelar sudang putusan. Bohong jika dia mengatakan dirinya baik-baik saja. Nyatanya hati dan perasaannya sedang kacau, gelisah, gugup, sesak, dan berbagai rasa yang ada di hatinya. Ingin sekali wanita itu tidak datang di persidangan ini. Namun, pengacara memaksanya untuk datang.


Bagaimanapun juga dirinya harus tahu bagaimana hasil akhirnya. Kalau memang gugatan dikabulkan, maka Bryan harus mengucapkan kata talak secara langsung kepada istrinya. Pengacara juga mengatakan apa pun hasilnya nanti Adisti harus menerima. Jika tidak sesuai dengan keinginan maka bisa mengajukan banding.


"Apa Anda siap, Bu?" tanya pengacara pada Adisti yang dijawab dengan anggukan oleh wanita itu.


Meski hati Adisti sedang tidak baik-baik saja, tetapi dia harus tetap menghadapi semuanya. Dirinya juga sudah menyiapkan segala kemungkinan.


Adisti dan pengacara Julio memasuki sidang beriringan. Di sana belum tampak keberadaan Bryan, entah pria itu akan datang atau tidak. Apa pun yang dilakukannya Adisti juga tidak peduli, wanita itu hanya berharap agar semuanya bisa cepat selesai dengan mudah dan dia juga tidak perlu lagi berurusan dengan pria itu.


Sampai akhirnya sidang akan digelar. Namun, belum ada tanda-tanda keberadaan suaminya itu. Adisti sempat kesal, takut jika Bryan merencanakan sesuatu untuk semakin mempersulit semuanya.


"Maaf saya terlambat," ucap seorang pria yang baru saja datang, tidak lain dia adalah Bryan bersama dengan pengacaranya.


Untung saja hakim belum masuk ruang sidang, jadi tidak perlu beralasan. Bryan berjalan menuju kursi yang disediakan sambil menatap Adisti, berharap wanita itu mau merubah keputusannya. Namun, sayang istrinya sama sekali tidak melihat ke arahnya karena memang Adisti tahu jika saat ini sang suami menatapnya.


Para hakim memasuki ruang sidang, seketika suasana menjadi hening. Sidang kemudian mulai dengan para hakim membacakan tuntutan yang Adisti berikan saat pengajuan gugatan cerainya. Semua orang mendengarkan dengan saksama. Adisti dan Bryan sama-sama menundukkan kepala dengan pikirannya masing-masing.


Adisti yang menunggu dengan harap-harap cemas mengenai keinginannya yang dikabulkan atau tidak, sementara Bryan berharap pengadilan menolak gugatan tersebut. Meskipun itu sangat mustahil mengingat kesalahan yang sudah dia lakukan selama ini. Setelah menunggu beberapa saat, hingga akhirnya hakim pun memutuskan jika gugatan cerai Adisti dikabulkan.


Akhirnya Adisti menyandang status jandanya. Bryan tidak perlu mengucapkan kalimat talaknya karena memang sebelumnya pria itu sudah pernah menjatuhkan kalimat tersebut. Sidang pun akhirnya selesai. Adisti berterima kasih kepada Julio yang selama ini sudah membantunya dalam mengurus segala sesuatunya.


"Dis, Selamat akhirnya keinginan kamu terwujud juga. Maafkan aku jika selama ini tidak menjalankan tugas seorang suami dengan benar, tapi aku akan berusaha untuk menjadi lebih baik dan semoga saat hari itu tiba, aku bisa kembali bersama denganmu," ucap Bryan saat semua orang sudah pergi menyisakan keduanya dan pengacara masing-masing.

__ADS_1


Adisti menolehkan kepalanya menatap mantan suaminya. "Sekalipun hanya ada kamu seorang pria di dunia ini, aku tidak akan pernah kembali denganmu. Sudah cukup enam tahun menyakitkan kita bersama, tidak akan ada lagi sejarah terulang kembali."


Meskipun dikatakan dengan senyuman, tetap saja kalimat itu terdengar begitu menyakitkan. Adisti sudah tidak peduli lagi dan berlalu dari sana. Tanpa diketahuinya ternyata mantan madunya sudah menunggu di tempat parkir. Sahna sengaja ingin datang karena ada yang mau dikatakan pada Adisti.


"Hai, bagaimana hasil persidangan? Kalian sudah sah bercerai, kan?" tanya Sahna dengan memandang sinis ke arah wanita yang ada di depannya.


"Ya, seperti keinginanku. Semuanya berjalan dengan lancar," sahut Adisti santai.


"Syukurlah kalau begitu. Aku harap setelah ini kamu tidak lagi menggoda suamiku karena kalian sudah tidak memiliki hubungan apa-apa."


Ingin sekali Adisti tertawa terbahak-bahak. Namun, dia tidak ingin merendahkan harga dirinya. Apalagi ini di tempat umum yang pastinya akan menjadi pusat perhatian banyak orang.


"Seharusnya kalimat itu kamu tunjukkan pada dirimu sendiri waktu itu, kenapa baru sekarang terucap dari bibirmu? Tapi kamu tidak perlu takut, tanpa kamu mengatakannya pun aku juga sudah menjauhi Bryan. Suamimu saja yang kegatelan selalu saja mencariku ke tempatku bekerja." Adisti menatap sinis ke arah Sahna agar wanita itu mengerti jika dirinya tidak seperti apa yang dipikirkannya.


"Kekuasaan! Kekuasaan yang mana? Aku tidak pernah merebut apa pun dari suamimu. Perusahaan ini adalah perusahaan keluargaku."


"Memang ini adalah perusahaan keluargamu, tapi Bryan yang sudah membesarkannya hingga seperti sekarang." Dada Sahna terlihat naik-turun, menandakan jika dirinya benar-benar sangat marah.


Adisti menggelengkan kepala, entah darimana Sahna mendengar berita bohong tersebut. "Kamu jangan ngaco! Perusahaan ini sudah ada dari dulu, sebelum aku menikah dengan Bryan. Perusahaan itu juga sudah besar sebelum suamimu bekerja di sana, bahkan sejak kepemimpinannya perusahaan sama sekali tidak berkembang."


"Kamu pasti bohong. Kamu sengaja ingin menutupi semua padahal sudah jelas-jelas perusahaan itu sekarang sudah besar," kilah Sahna yang tidak percaya.


"Terserah kamu kalau tidak percaya. Jika kamu mau menuntut juga silakan, aku sudah tidak peduli. Berurusan denganmu sama saja berurusan dengan anak kecil." Adisti pun pergi begitu saja di sana.

__ADS_1


Sahna yang kesal pun berteriak memanggil Adisti, tetapi sama sekali tidak digubris. "Hei! Aku belum selesai berbicara, seenaknya saja pergi begitu saja."


Sahna memukul kepalan tangannya ke bawah, menandakan jika dirinya sedang kesal karena tidak mendapatkan apa yang diinginkan.


"Kamu ngapain di sini dan kamu lihatin apa?" tanya Bryan yang tanpa disadari oleh Sahna telah berdiri di belakangnya.


Seketika wanita itu membalikkan tubuhnya, menatap sang suami dengan kaku. Dia bingung harus menjawab apa, tidak mungkin Sahna mengatakan yang sejujurnya mengenai alasan dia datang hari ini. Namun, melihat ekspresi Bryan yang terlihat garang juga percuma, pasti pria itu bisa menebak apa yang sudah terjadi pada dirinya dan kenapa bisa berada di tempat ini.


"Kenapa diam saja? Aku sering bertanya padamu untuk apa kamu di sini? Jangan bilang kamu sedang ada masalah dan ingin agar aku menyelesaikannya," sahut Bryan saat melihat sang istri hanya diam saja.


"Tidak, aku sengaja datang ke sini untuk menjemput kamu. Bukankah hari ini sidang pembacaan keputusan dari pengadilan? Bagaimana hasilnya?" tanya Sahna yang sengaja ingin mengalihkan pembicaraan.


"Sesuai dengan permintaan Adisti, pengadilan mengabulkan gugatan cerai dan sekarang aku sudah berpisah dengan Adisti."


"Kamu tidak berniat untuk mengajukan banding, kan?"


Sahna menatap sang suami, berharap pria itu tidak berpikir ke arah sana. Meskipun saat ini kehidupan rumah tangganya sedang tidak baik-baik saja, tetapi entah kenapa wanita itu tidak rela jika Bryan kembali dengan Adisti, setelah apa yang sudah wanita itu lakukan. Akan tetapi, jika memang mereka berpisah sang suami harus bekerja di mana?


Hampir beberapa perusahaan menolaknya karena dirinya diberhentikan secara paksa dari perusahaan Adisti, yang selama ini begitu terkenal. Mereka berpikir pasti pria sudah melakukan kesalahan jadi, untuk mengantisipasi lebih baik menolaknya. Apalagi Bryan juga sebelumnya sudah mengenal beberapa petinggi beberapa perusahaan. Namun, mereka enggan berurusan dengan pria itu.


"Tidak, untuk apa mengajukan banding kalau nanti hasilnya akan sama. Aku juga tidak memiliki uang untuk membayar pengacara," jawab Bryan apa adanya.


Namun, dalam hati dia ingin suatu hari nanti bisa kembali lagi bersama dengan Adisti. Namun, tidak mungkin pria itu mengatakannya pada sang istri. Lebih baik memendam semuanya seorang diri.

__ADS_1


"Ayo,kita pulang! Tidak baik terlalu lama di sini."


__ADS_2