Janji Yang Kau Ingkari

Janji Yang Kau Ingkari
85. Menuju halal


__ADS_3

"Iihh ..., amit-amit jatuh cinta sama pria seperti itu!" seru Vira sambil begidik ngeri, membayangkan ke mana-mana selalu bersama dengan manusia sedingin itu. Pasti akan membuat dia harus menyiapkan stok sabar yang lebih banyak, sedangkan Vira sendiri orangnya gampang emosian.


Adisti terkekeh melihat tingkat sepupunya. Sepertinya akan sangat lucu jika benar-benar menjalin hubungan dengan Rio. Mungkin nanti dia bisa bertanya pada sang kekasih, apakah asistennya itu sudah memiliki kekasih atau belum. Wanita itu juga tidak ingin Vira terluka. Adisti akan memastikan bahwa Rio benar-benar masih sendiri dan memang orang yang baik karena memang dirinya juga tidak begitu mengenal.


Selama ini Rio memang ke mana-mana selalu bersama dengan Yasa, tetapi tidak ada yang tahu bagaimana isi hati seseorang. Adisti juga tidak pernah berbicara dengan pria itu, bertanya sedikit hal saja pasti sudah membuat tunangannya cemburu dan melarangnya berbicara dengan pria manapun.


"Jangan begitu, Rio juga laki-laki yang baik selama ini. Dia juga sangat menghormati orang yang lebih tua. Jarang-jarang di zaman sekarang anak muda masih menghormati yang lebih tua. Apalagi Rio juga bisa dikatakan orang terpandang karena banyak juga pengusaha yang mengenalnya," ujar Adisti.


"Tetap saja aku tidak menyukainya. Dia orang yang terlalu sombong."


"Bukan sombong, memang karakternya seperti itu. Kamu saja yang belum mengenalnya, kalau kalian sudah kenal dari hati ke hati pasti kamu akan tahu bagaimana karakter dia sebenarnya. Ingatlah! Jangan menilai seseorang dari sampulnya saja, tapi dari hatinya."


"Terserah padamu. Apa pun yang terjadi aku tidak mau berhubungan dengan dia," pungkas Vira yang tidak ingin membahas hal itu lagi.


"Tadi memang siapa duluan yang nanya? Kan kamu sendiri, sekarang sok-sokan nggak mau tahu tentang dia. Sudahlah, aku mau istirahat. Aku nggak mau terlalu banyak pikiran yang nanti malah mempengaruhi acara pentingku."


Adisti merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata, sementara Vira hanya memandangi sepupunya itu dengan perasaan tidak menentu. Dia tidak tahu dengan perasaannya sendiri, entah apa ini. Gadis itu sangat ingin tahu tentang Rio, tetapi saat Adisti membahasnya Vira merasa malu dan memilih mengakhiri pembicaraan. Padahal dalam hatinya dia masih ingin tahu semua tentang Rio. Sekarang mau bertanya lagi pun rasanya malu.


***

__ADS_1


Hari yang dinantikan akhirnya tiba, di mana Adisti dan Yasa akan meresmikan hubungan keduanya agar bisa mendapatkan label halal. Saat ini pengantin wanita berada di kamar, baru saja selesai merias wajahnya sendiri. Adisti sengaja tidak menggunakan jasa MUA karena dia ingin merias sendiri.


Meski begitu dia masih terlihat begitu sangat cantik dengan balutan kebaya putih, yang juga sengaja dirancang sendiri dengan menggunakan rancangan sederhana. Namun, tetap terlihat begitu elegan. Ditambah dengan tubuhnya yang langsing, membuat siapa pun yang melihat pasti tidak menyangka jika Adisti itu seorang janda dan mengira masih gadis belia. Sedari tadi Adisti begitu gelisah, takut dan gugup menjadi satu.


Apalagi saat ini dirinya sedang menunggu kedatangan calon suami dan penghulu, semakin bertambah pula rasa gugupnya. Dia di kamar juga seorang diri, tadi Vira pamit keluar untuk melihat keadaan sekitar. Namun, hingga kini belum juga kembali. Hal itu semakin membuat Adisti takut terjadi sesuatu di luar dan sepupunya itu tidak berani datang ke sini.


"Aduh! Calon pengantin kelihatannya tegang sekali," tegur Vira yang baru datang.


Adisti pun segera memberondong beberapa pertanyaan. "Kamu dari mana saja, Fir? Apa yang terjadi di luar? Kenapa kamu lama sekali ke sininya? Yasa juga apa sudah datang?"


"Haduh! Satu-satu kalau ngasih pertanyaan. Kamu mau aku jawab yang mana dulu? Aku 'kan bingung kalau ditanya panjang lebar seperti ini."


"Iya, iya, aku tadi dari belakang. Perut aku rasanya lapar, makanya aku makan dulu. Terus mengenai Yasa, dia juga sudah datang barusan, kini hanya tinggal menunggu Pak penghulu saja. Kamu yang sabar nanti juga dipanggil, nggak sabaran banget mau ketemu calon suami," ujar Vira yang sengaja menggoda sepupunya.


"Aku bukannya nggak sabaran, tapi aku khawatir terjadi sesuatu. Kalau Yasa sudah datang syukurlah jadi hanya menunggu iya mudah-mudahan saja pak penghulunya segera datang, jangan sampai malah nyasar ke tempat lain."


Adisti memukul lengan Vira karena kesal. Sepupunya ini bicara seenaknya saja dalam keadaan seperti ini. "Kamu malah doain yang tidak-tidak."


"Bukan begitu! Lagian kamu parno banget sih! Padahal di pernikahan kamu yang pertama tidak terjadi sesuatu. Rumah tanggamu gagal juga karena suamimu yang selingkuh, bukan saat akan akad seperti ini."

__ADS_1


"Namanya juga orang parno, mana memikirkan yang lain. Semua masuk kepala begitu saja. Yang ada di kepalaku cuma apakah pengantin laki-laki dan pak penghulu datang atau tidak, begitu."


Saat keduanya sedang berdebat, pintu kamar diketuk oleh seseorang dari luar. Ternyata yang datang Tante Soraya. Wanita itu tersenyum ke arah kedua keponakannya dan mendekat.


"Kalian ini malah berdebat di sini, pak penghulunya sudah datang. Ayo kita turun!"


"Hah! Sudah datang, Tante. Aduh, aku harus gimana ini? Apa penampilanku sudah baik, Tante?" tanya Adisti yang sibuk dengan tingkahnya sendiri.


"Sudah, kamu sudah cantik. Jangan gugup begitu, ikuti saja alurnya. Lagian kamu, ini pernikahan kedua masa masih gugup saja," ucap Tante Soraya yang sebenarnya hanya ingin menggoda keponakannya saja.


"Rasanya beda sekali, yang sekarang itu rasanya lebih mendebarkan. Dadaku terasa sulit bernapas," ujar Adisti sambil memegangi dadanya yang saat ini berdetak tidak beraturan. Dia bingung harus bagaimana.


"Perbanyak istighfar, tarik napas dalam-dalam. Ayo, kita sambil jalan! Pegang tangan Tante, mudah-mudahan bisa memberikan kamu ketenangan."


Adisti pun mengikuti perintah tantenya. Kali ini benar, dia mendapat kehangatan meskipun masih gugup, tapi rasanya tidak seperti tadi karena sekarang ada seorang yang memberinya kekuatan. Vira pun ikut berjalan di samping sepupunya, menemani pengantin wanita untuk keluar dan melaksanakan ijab Kabul. Tante Soraya menuntun Adisti dan duduk di samping Yasa. Di depannya ada pak penghulu dan juga Om Edwin, pria yang akan menjadi wali untuk Adisti menggantikan sang ayah yang sudah meninggal dunia.


"Apa bisa dimulai?" tanya Pak penghulu pada semua orang yang ada di sana.


Mereka pun mengiyakan dan acara mulai. Semua orang mendengarkan setiap rangkaian acara dengan hikmad. Ustaz mulai membaca doa.

__ADS_1


__ADS_2