Janji Yang Kau Ingkari

Janji Yang Kau Ingkari
99. Takut tidak bisa hamil


__ADS_3

"Mas, mengenai kasus Bryan dan Arsylla bagaimana kelanjutannya? Kamu tidak pernah cerita sama aku lagi. Apa sidangnya sudah mulai?" tanya Adisti.


"Baru sidang pertama saja, sidang kedua dua minggu lagi. Aku sengaja tidak menceritakan sama kamu agar kamu tidak kepikiran. Nanti saja hasilnya baru aku kasih tahu sama kamu," jawab Yasa.


"Apa kamu datang ke sidang pertama kemarin?"


"Tidak. Aku menyerahkan semuanya pada pengacara, tapi aku meminta mereka agar membuat Bryan benar-benar dihukum. Aku tidak akan bisa menerima jika Bryan bebas begitu saja. Begitu juga dengan Arsylla karena otak dari semua ini adalah wanita itu. Dia benar-benar masalah dan penyakit diantara semuanya," ujar Yasa dengan tatapan tajam ke depan.


"Iya, kamu benar. Dia adalah dalang dari semuanya. Andai saja dulu aku tidak terhasut ucapannya untuk berpisah denganmu, pasti dari dulu kita sudah bahagia."


"Sudah, tidak perlu mengingat masa lalu. Yang penting sekarang kita bisa bersama dan akan selalu bahagia. Aku tidak akan membiarkan orang lain mengganggu rumah tangga kita."


"Iya, Mas. Aku juga bahagia dan akan selalu bahagia bersama denganmu."


***


Satu minggu telah berlalu, Hari ini Adisti dan Yasa akan pindah ke rumah yang sudah dipersiapkan pria itu. Rumahnya begitu besar dan luas. Yasa juga sudah menyiapkan tiga pembantu wanita di rumah. Ada satu tukang kebun dan juga satu orang satpam. Jika masih kurang Adisti juga bisa mempekerjakan orang lagi, tidak masalah bagi pria itu asalkan sang istri nyaman.


Adisti mendes*h lelah, tadinya dia sudah meminta sang suami untuk membeli rumah yang kecil saja, tetapi apa boleh buat jika Yasa sudah terlanjur membelinya. Pria itu beralasan jika nanti akan kurang luas dan anak-anak juga tidak bebas bergerak kalau rumahnya kecil. Anak-anak akan kesulitan untuk bermain. Lagi pula Yasa tidak ingin sang istri merasa kesepian di rumah. Kalau rumahnya besar penghuninya juga banyak jadi Adisti bisa melakukan apa pun yang dia suka.


Taman di rumah itu juga begitu sangat luas. Mungkin nanti sang istri bisa menanam apa saja di sana. Adisti memang suka memiliki taman yang luas. Nanti dia akan meminta sang suami untuk membangunkan gazebo di tengah-tengahnya.

__ADS_1


"Bagaimana, Sayang? Apa kamu suka rumahnya?" tanya Yasa saat melihat-lihat keadaan rumah.


"Aku 'kan sudah bilang rumahnya jangan terlalu besar seperti ini, Mas. Rumah ini ni terlalu besar."


"Dari tadi kamu ngeluh seperti itu terus, kan sudah aku jelaskan biar nanti kalau ada anak-anak rumah bisa ramai jadi, mereka juga nggak bosen."


Wajah Adisti berubah murung, dalam hati dia takut membuat sang suami kecewa, dirinya juga tidak bisa berbuat apa-apa. Itu semua murni ketentuan Yang Maha Kuasa.


"Itu juga kalau aku bisa hamil. Bagaimana kalau aku tidak bisa memberimu anak? Dulu aku dengan Bryan sudah mengusahakannya selama enam tahun dan aku terap tidak bisa hamil juga. Aku tidak ingin membuatmu kecewa karena harapanmu tidak tercapai."


"Kalau kamu tidak hamil dan memberiku anak, kita bisa mengadopsi anak. Kenapa kamu mempersulit sesuatu yang mudah. Dokter juga mengatakan kalau kamu sehat, hanya memang Tuhan belum memberi rezekinya. Aku juga tidak tahu apa aku sehat atau tidak karena aku belum memeriksakan diri."


"Aku menikah denganmu bukan untuk membuat anak saja, tapi untuk aku bahagia bersamamu dan membangun rumah tangga berdua. Kalau memang kamu tidak diberi kesempatan untuk hamil mungkin itu sudah jalan dari Tuhan agar kita menyayangi anak-anak yang terlantar. Di luaran sana banyak anak-anak jalanan yang kurang kasih sayang, kita sebagai orang yang mampu, bisa memberikan kasih sayang kepada mereka. Meskipun ada rasa berbeda untuk mereka saat orang tua kandung mereka sendiri memberikan kasih sayang, tapi setidaknya kita bisa mengobati rasa kesepian yang mereka alami."


Adisty mengangguk membenarkan apa yang dikatakan Yasa. Entah nanti bagaimana tanggapan keluarga sang suami, apakah mereka akan menerima atau tidak, mengingat Yasa adalah anak tunggal. Sampai detik ini Adisti juga belum pernah bertemu secara langsung dengan papa mertuanya, yang juga merupakan rival dari Gunawan. Dia sendiri belum pernah menanyakan tentang kisah kedua orang tua Yasa pada sang suami.


Wanita itu juga ingin menjelaskan tentang cerita sebenarnya yang dia dengar dari Gunawan. Adisti tidak ingin kesalahpahaman selalu terjadi. Bagaimanapun juga dia sudah menganggap Gunawan seperti papanya sendiri. Sekarang Faisal adalah papa mertuanya, cepat atau lambat suatu hari nanti mereka juga pasti akan bertemu dalam suatu acara karena mereka sudah terikat dengan anak mereka masing-masing.


Faisal sendiri saat ini tinggal di luar negeri seorang diri. Dia juga tidak pernah menikah. Banyak wanita yang ingin mendekatinya dan berniat menjalin sebuah hubungan, tetapi selalu ditolak karena baginya wanita yang dicintai adalah mantan istrinya.


"Mas, papa kamu kapan pulang? Bukankah kamu pernah mengatakan kalau papa akan pulang setelah kamu menikah, kenapa sampai sekarang belum pulang juga."

__ADS_1


"Aku juga nggak tahu. Kemarin aku sempat hubungin papa dan menanyakan kapan akan pulang, tapi papa masih enggan, katanya masih nyaman di sana."


Wajah Adisti jadi lesu, padahal dia sudah bersemangat menyambut kedatangan sang mertua. "Apa papa tinggal sendiri di sana?"


"Tidak. Ada dua pelayan di sana, dua-duanya laki-laki karena papa memang tidak ingin memperkerjakan wanita. Dulu pernah ada pelayan wanita yang sengaja ingin menjebak papa agar menikahinya, secara dia duda kaya siapa yang tidak mau. Papa saat itu sangat marah besar setelah tahu kejadian yang sebenarnya. Papa pun akhirnya memecatnya dan juga temannya, padahal temannya tidak tahu sama sekali, tapi ikut kena imbasnya karena dia juga wanita. Sejak kejadian itu papa memperkerjakan hanya laki-laki saja. Papa juga mengurus keperluannya sendiri, pelayan hanya membersihkan rumah saja, bahkan memasak juga papa sendiri. Mungkin karena dia memang nggak ada kerjaan jadinya dia gabut."


"Kenapa tidak kamu paksa papa saja agar pulang lebih cepat. Kenapa papa sepertinya enggan sekali untuk pulang, apa di sana ada seseorang yang membuat papa tidak mau pulang?" tanya Adisti yang sengaja ingin mengorek informasi.


"Justru sebaliknya, Sayang."


Kedua alis Adisti mengerut, dia memicingkan mata seolah bertanya pada sang suami maksud dari kata-kata pria itu sebenarnya.


Yasa yang mengerti maksud sang suami pun segera menjawab, "Papa malu pulang ke sini."


"Malu? Malu kenapa?"


"Papa sempat salah paham dengan seseorang dan menuduh temannya yang tidak-tidak. Baru dua tahun lalu Papa mengetahui apa yang terjadi sebelumnya dan semuanya sudah terlambat. Hal itulah yang membuat papa tidak mau pulang."


"Salah paham apa sih, Mas? Kamu bicaranya berbelit-belit membuat aku pusing saja. Memang apa yang terjadi?"


Yasa menatap sang istri, dia ragu harus menceritakan masalah ini atau tidak karena ini adalah rahasia kedua orang tuanya, tapi ada orang lain juga yang terlibat. Mungkin Adisti juga bisa membantu agar sang papa bisa lepas dari rasa bersalahnya.

__ADS_1


__ADS_2