
Adisti masih termenung di ruangannya. Dia sama sekali belum menyentuh pekerjaannya. Apa yang Yasa katakan tadi sungguh benar-benar telah membebani pikirannya. Wanita itu tidak bisa tenang sebelum benar-benar mengambil keputusan, tetapi keputusan apa Adisti sendiri juga masih bimbang.
Di satu sisi dia ingin tidak ingin kembali dengan Yasa, tetapi di sisi lainnya juga tidak rela jika harus melihat pria itu bersama dengan wanita lain. Apalagi hatinya kini sudah terpaut dengan laki-laki itu. Tanpa sadar hati Adisti memang telah kembali jatuh kepada Yasa. Hanya saja wanita itu tidak mau mengakuinya.
Adisti dibuat terkejut saat ada yang menyentuh pundaknya, tidak lain adalah Nadia. Bahkan dia tidak sadar kapan wanita itu masuk ke ruangannya.
"Nadia, kamu membuatku kaget saja, ada apa?" tanya Adisti sambil memegangi dadanya.
"Maaf, Bu. Dari tadi saya sudah mengucap salam dan berkali-kali memanggil Ibu, tapi Ibu hanya melamun saja. Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran Ibu?" tanya Nadia sambil memperhatikan wajah atasannya.
"Tidak ada apa-apa. Sudah lupakan saja, memang kamu kenapa memanggilku?"
"Di depan ada tamu, katanya mau ketemu sama Ibu, sekaligus ingin memesan gaun."
__ADS_1
Adisti menganggukkan kepala dan berkata, "Kamu keluar dulu saja, aku mau cuci muka dulu."
Nadia pun mengangguk dan segera kembali ke depan. Adisti mencoba menenangkan diri terlebih dahulu, barulah pergi menemui tamunya. Sebisa mungkin dia harus profesional meskipun hatinya sedang tidak baik-baik saja. Wanita itu juga tidak mau mengecewakan orang-orang yang sudah mempercayai pekerjaannya. Mengenai Yasa, nanti akan dirinya pikirkan kembali. Bukankah masih ada waktu beberapa hari lagi.
***
"Bagaimana, Tuan? Apa Anda sudah bicara dengan Nona Adisti?" tanya Rio saat berada di ruangan atasannya.
"Sudah. Aku sudah mengatakan semua yang harus aku katakan. Saat ini aku hanya bisa pasrah dan berdoa agar Tuhan melembutkan hatinya dan mau menerimaku. Kalaupun tidak juga aku harus ikhlas menerimanya. Mungkin aku dan dia memang tidak pernah berjodoh." Terdengar helaan napas panjang setelah pria itu menyelesaikan kalimatnya.
"Cinta yang terlalu dipaksakan juga tidak bagus, Rio. Aku tidak ingin Adisti menerimaku karena terpaksa, biarlah dia berpikir dengan hati yang ikhlas. Apa pun nanti jawabannya, berarti itulah yang terbaik untuk kehidupan kami kelak."
Rio hanya bisa diam memandangi wajah lesu Yasa. Kalau memang itu sudah menjadi keputusan atasannya, dia bisa apa. Lagi pula memang benar apa yang dikatakan oleh Yasa. Cinta yang terlalu dipaksakan juga tidak baik, biarlah takdir yang menyatukan mereka. Usahanya juga sudah berakhir sampai di sini saja.
__ADS_1
"Rio, hari ini apa saja kegiatanku?" tanya Yasa yang sengaja ingin menyibukkan diri dengan pekerjaan. Mungkin dengan cara seperti itu dia bisa mengalihkan pikirannya sedikit demi sedikit. Itu juga untuk dirinya belajar melupakan masa lalu dan memulai masa depan yang baru. Entah dengan siapa nantinya.
Rio pun mengatakan apa saja yang sudah menjadi jadwal Yasa hari ini. Tidak ada yang sesuatu yang terlalu penting, hanya makan siang dengan klien dan juga menghadiri rapat internal perusahaan. Hal yang membosankan, tetapi harus dikerjakan.
"Nanti malam Anda juga mendapat undangan dari Tuan Andre untuk makan malam di rumahnya. Apa Anda mau menghadirinya?"
Andre adalah rekan bisnis Yasa. Pria itu sengaja ingin mengundang Yasa untuk dikenalkan dengan putri semata wayangnya. Ini bukan hal yang baru, itu juga sering terjadi, tetapi Yasa selalu punya seribu alasan untuk menolaknya. Rio pun sangat mengerti akan hal itu karena dia juga kurang menyukai Andre. Namun, demi perusahaan mereka tetap harus bersikap sopan padanya.
"Nanti kamu temani aku datang ke rumahnya," jawab Yasa santai tanpa melihat asistennya.
Rio tidak menyangka jika Yasa mau menerima undangan itu. Padahal tadi dia sudah merencanakan alasan yang tepat untuk menolak undangan tersebut.
"Kenapa Anda datang? Bukankah Anda selalu menolaknya?"
__ADS_1
"Tidak apa-apa sekali-kali datang. Kan ada kamu jadi, nanti kalau terjadi sesuatu di sana ada kamu yang akan menolongku."
Rio memutar bola matanya malas. Kalau sudah seperti ini pasti dirinya yang akan mendapat getahnya. Padahal hari ini dia ingin bersantai di rumah, tetapi atasannya malah memberinya pekerjaan.