
"Adisti, kenapa calon suamimu belum sampai juga?" tanya Om Edwin.
"Mungkin masih diperjalanan, Om," jawab Adisti yang mencoba untuk membuat semua orang tenang, padahal dirinya juga sedang khawatir, tetapi dia coba tutupi.
"Masa dari tadi belum sampai-sampai sih!"
Vira yang tahu kebingungan Adisti pun segera mendekati sang papa agar tidak bertanya lagi. Dia tidak ingin sepupunya semakin gelisah karena sejak tadi saja sudah tidak tenang.
"Papa, sebaiknya kita tunggu saja di ruang tamu. Sebentar lagi juga pasti akan datang," ucap Vira sambil mengajak sang papa pergi dari sana.
Edwin yang mengerti pun mengangguk dan mengikuti putrinya. Mungkin dirinya saja yang terlalu khawatir berlebihan. Lagipula ini juga masih kurang sepuluh menit dari waktu yang dijanjikan. Memang dasar orang tua yang tidak sabaran menunggu.
Benar saja, lima menit kemudian tampak beberapa mobil memasuki pekarangan rumah keluarga Adisti. Orang-orang yang ada di dalam rumah tentu saja terkejut karena tadinya yang mengira yang datang hanya Yasa dan kedua orang tuanya saja. Yasa juga tidak mengatakan apa pun mengenai siapa saja yang akan ikut. Adisti pun juga tidak bertanya, tetapi ini malah ada beberapa mobil yang mengikutinya. Untung saja ada beberapa tetangga yang datang membantu.
Semua orang pun turun satu persatu. Jika dihitung semuanya berjumlah sekitar dua puluh lima orang. Semua orang salinh bersalaman satu sama lain, kemudian duduk di ruang tamu yang kini sudah digelar permadani. Adisti keluar dengan ditemani Tante Soraya dan Vira. Mereka duduk di tempat yang sudah disediakan.
Adisti tersenyum, pandangannya menatap satu persatu tamu yang hadir. Meskipun sedikit kaku, tetapi sebisa mungkin wanita itu menyambut tamunya dengan baik dan tersenyum. Hingga pandangannya tanpa sengaja tertuju pada Haris. Adisti sangat tahu siapa pria itu, yang merupakan sepupu dari Yasa.
Haris yang dulu selalu saja membuat ulah dengannya dan menjelek-jelekkan Yasa di depannya. Saat pandangannya dengan laki-laki itu bertemu, terlihat Haris menyeringai ke arahnya. Namun Adisti sama sekali tidak peduli dan lebih memilih menatap tamu yang lainnya. Dalam hati dia bertanya-tanya kenapa Yasa mengajak Haris.
Sedari dulu Adisti selalu mengatakan pada Yasa jika dia tidak menyukai keberadaan sepupu dari kekasihnya itu, tetapi mau bagaimana lagi karena Yasa masih ada ikatan keluarga, pastinya mereka masih terhubung. Nanti saat dirinya menikah dengan sang kekasih pasti setiap ada acara keluarga akan selalu bertemu dan Adisty harus mulai terbiasa dengan hal itu.
__ADS_1
Seseorang dalam merupakan perwakilan dari keluarga Yasa menyampaikan keinginan keluarganya datang ke sini, yaitu untuk melamar Adisty untuk Yasa dan menjadi menantu di keluarga mereka. Pihak keluarga Adisti pun menanggapinya dengan baik dan menerima nist tersebut. Hingga akhirnya Yasa sendiri yang mengutarakan niatnya untuk melamar sang kekasih secara langsung di depan kedua keluarga. Adisti pun menerimanya dengan ikhlas.
Kedua keluarga begitu senang dan bersyukur, berharap kedua calon pengantin bisa melalui setiap rintangan yang akan mereka hadapi. Para orang tua pun membicarakan hari baik untuk melaksanakan pernikahan mereka. Hingga akhirnya kesepakatan dibuat jika akad nikah dan pesta pernikahan akan dilakukan dua bulan lagi. Rasanya itu cukup segala persiapan mengingat siapa keluarga mereka.
Lagipula apa pun bisa terlaksana dengan adanya uang. Tidak sulit bagi mereka untuk mengeluarkan segala yang dimiliki. Cincin sudah melingkar di jari manis Adisti, tentu saja Yasa yang memakaikannya, bergantian dengan wanita itu yang memasangkannya di jari manis tunangannya.
Om Edwin selaku pengganti orang tua Adisti berbincang bersama para tamunya dengan begitu hangat. Dia juga mempersilahkan mereka untuk menikmati segala hidangan yang ada.
"Hari ini kamu cantik sekali," bisik Yasa pelan yang hanya bisa didengar keduanya.
Wajah Adisti memerah dan membuat wanita itu menundukkan kepala karena merasa malu. Dia juga takut jika orang lain mendengarnya. Setelah bisa menguasai diri, wanita itu menegakkan kepala mencoba melihat sekeliling ternyata semua orang sibuk menikmati hidangan.
"Tentu saja selalu cantik karena bagiku kamu adalah wanita yang paling cantik di dunia ini. Hanya saja hari ini aku melihatmu tampak lebih spesial."
"Laki-laki memang pandai menggombal."
"Aku tidak menggombal. Aku mengatakan yang sejujurnya karena menurutku hanya kamu memang yang paling cantik."
Adisti memalingkan wajahnya agar Yasa tidak melihatnya, sudah dipastikan saat ini wajahnya pasti sudah memerah. Sungguh pria itu memang pandai membuatnya salah tingkah.
"Oh ya, kenapa ada Haris juga tadi?" tanya Adisti yang sengaja ingin mengalihkan pembicaraan. Dia juga dari tadi sudah penasaran dengan kehadiran pria itu, tetapi baru kali ini bisa bertanya secara langsung.
__ADS_1
Mama yang mengundangnya. Aku juga tidak tahu kalau dia bakalan ikut juga karena memang aku tidak mengundangnya. Aku tahu kamu tidak suka dengannya dan selalu berselisih, tetapi mau bagaimana lagi, bagaimanapun juga dia sepupuku. Mau tidak mau dia akan selalu hadir di acaraku."
Adisti membuang napas kasar, bukan maksudnya untuk memutus silaturrahmi antara keluarga. Hanya saja Harus memang bukan orang baik. Dari dulu pria itu selalu saja punya cara untuk membuat orang lain kesal dan sakit hati. Mudah-mudahan saja sekarang sudah berubah seiring berjalannya waktu.
"Iya, aku mengerti, tidak apa-apa. Dia juga sepupumu. Apalagi hubungan kalian juga sangat dekat."
"Tidak juga. Aku sudah tidak dekat lagi dengan dia sejak putus darimu. Aku juga sudah tahu jika selama ini dia hanya bersikap baik saat di depanku saja dan selalu menjelekkanku di belakang. Maafkan aku yang dulu tidak percaya padamu dan membuat kita sering bertengkar."
"Sudahlah, lupakan saja. Semua juga sudah berlalu."
Semua orang masih tampak asyik berbincang sambil menikmati hidangan yang ada. Hingga semua pun telah selesai. Yasa beserta keluarganya berpamitan untuk pulang. Tidak lupa juga keluarga Adisti memberikan bingkisan untuk dibawa oleh-oleh.
Adisti dan keluarga mengantar kepergian keluarga Yasa hingga teras rumah. Semua orang saling bersalaman dan pergi meninggalkan rumah itu. Para tetangga pun juga ikut pergi karena memang acara sudah selesai. Adisti mengucapkan terima kasih kepada mereka karena sudah mau hadir dan ikut membantu acara ini berjalan lancar.
"Dari tadi senyum-senyum terus sambil lihatin cincin. Aku kan jadi iri lihatnya," ucap Vira pada sepupunya yang saat ini berada di kamarnya.
"Apa sih kamu! Memangnya aku nggak boleh senyum?"
"Bukan nggak boleh, tapi nanti takutnya disangka orang gila karena senyum-senyum sendiri."
Adisti memukul lengan Vira hingga sepupunya itu mengadu kesakitan. "Sudahlah, kamu sendiri kapan lamarannya? Bukankah kamu kemarin bilang mau dijodohin Om Edwin sama seseorang?"
__ADS_1