
"Dari mana kamu tahu kalau aku bekerja di sini?" tanya Adisti dengan menatap tajam ke arah Haris.
Pria itu tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata, "Apa sih yang tidak bisa diketahui oleh Haris? Bahkan semua tentangmu aku juga tahu. Apa perlu aku jabarkan satu persatu semua yang aku ketahui?"
"Tidak perlu banyak omong kosong. Katakan saja apa yang membuatmu datang kemari? Aku tidak punya banyak waktu meladeni ucapanmu yang tidak bermutu itu," sela Adisti dengan sinis.
"Woe! Hebat sekali! Aku hanya ingin berbincang-bincang dengan calon sepupuku, apa ada yang salah?"
"Sudah aku katakan kalau aku sekarang sedang banyak pekerjaan jadi, lebih baik kamu segera pergi dari sini."
Adisti benar-benar geram dengan tingkah Haris yang tidak tahu malu. Dia sudah sangat berusaha untuk mengendalikan diri, tetapi sepertinya pria itu terus saja memancingnya. Mungkin memang harus menggunakan kekerasan.
"Sayangnya aku tidak mau. Aku masih ingin di sini melihat-lihat tempatmu bekerja. Siapa tahu nanti di sini aku mendapatkan jodoh dan kita nanti bisa menikah bersama, kan pasti menyenangkan."
"Aku ulang sekali lagi, Haris. Aku mohon kamu segera pergi dari sini. Aku tidak ingin membuat keributan jadi, cepatlah pergi dari sini."
"Sudah aku katakan aku tidak mau." Haris segera mendahului wanita itu untuk masuk ke dalam butik. Adisti pun memberi kode pada satpam untuk menghadang langkah Haris.
"Apa-apaan ini! Kenapa kamu menghalangi jalanku?" teriak Haris pada pria yang ada di depannya.
"Maaf, Pak, Anda sudah mengganggu ketenangan di butik ini jadi, saya harap Anda segera pergi sebelum saya bertindak kasar," sahut satpam yang berjaga di depan butik.
"Saya ini calon sepupu pemilik butik, bagaimana bisa kamu mengusir saya?"
"Tapi sayangnya saya sendiri yang memerintahkan dia untuk mengusirmu jadi, lebih baik kamu segera pergi dari sini, sebelum aku menghubungi kantor polisi karena kamu sudah membuat kegaduhan di sini dan membuat pengunjung di butik merasa tidak nyaman."
__ADS_1
"Ayolah, Dis! Aku ingin melihat-lihat tempatmu bekerja saja. Kenapa kamu tega sekali padaku sampai berbuat seperti ini."
"Aku tidak peduli dengan apa yang ingin kamu lakukan. Aku sudah sangat hafal dengan apa yang ada di kepalamu jadi, sebelum kamu melakukan keinginanmu sebaiknya kamu secara pergi dari sini."
Haris mengepalkan tangannya, dia berusaha untuk tetap tersenyum dan bersikap baik. Pria itu pun akhirnya pergi dari sana juga. Nanti jika ada kesempatan pasti dirinya akan datang lagi ke butik itu.
"Pak, nanti kalau orang itu datang lagi usir saja ya. Apa pun yang dia katakan, Bapak jangan terpengaruh. Pokoknya saya tidak ingin dia masuk ke dalam butik," ucap Adisti pada satpam setelah Haris tidak terlihat.
"Baik, Bu. Saya akan melaksanakannya."
Adisti mengangguk dan segera masuk ke dalam butiknya. Di sana sudah ada Naina dan Nadia yang sudah menunggu. Beberapa karyawan juga menatapnya.
"Siapa tadi, Bu? Kenapa sepertinya marah-marah?" tanya Nadia yang memang belum pernah bertemu Harus, padahal sudah cukup lama dia bekerja pada Adisti.
"Bukan siapa-siapa. Sudah lupakan saja, kalian kembalilah bekerja dan Nadia kamu ikut ke ruangan saya. Ada yang ingin saya bicarakan dengan kamu."
Adisti pun melangkahkan kaki menuju ruangannya dan diikuti oleh Nadia, sementara Naina kembali ke tempat kerjanya. Para pegawai juga kembali melayani para pembeli yang sempat terhenti karena penasaran apa yang terjadi pada atasannya.
"Duduklah!" perintah Adisty pada asistennya. Nadia pun mengangguk dan duduk di depan meja atasannya.
"Bisa kamu jelaskan ini apa?" tanya Adisti sambil menyerahkan sebuah map yang dia dapat dari Naina kemarin ke depan Nadia. Asisten itu pun membuka map tersebut dan melihat apa isinya dan terkejut saat melihatnya. Namun, berusaha untuk terlihat bingung.
"Maksud Ibu apa? Aku sama sekali tidak mengerti. Kenapa memperlihatkan rincian keuangan butik? Apa hubunganku dengan semua ini? Bukankah ini sudah menjadi tanggung jawab Naina sekarang?"
"Justru itu, Naina bekerja di sini hanya beberapa bulan, sementara ini ada pengeluaran uang sekitar satu tahun yang lalu dan itu masih atas tanggung jawab kamu. Sekarang bisa kamu jelaskan ke mana dan untuk apa uang itu. Bagaimana juga bisa dua bulan lalu ada pemasukan uang yang tidak diketahui asalnya dengan jumlah yang sama. Katakan saja yang sejujurnya. Kamu tahu 'kan kalau aku paling tidak suka dibohongi? Jika sampai aku tahu apa yang sebenarnya terjadi, aku juga tidak akan segan ada orang itu."
__ADS_1
Nadia meneguk ludahnya yang kasar, hati-hati menatap ke arah atasannya sambil menundukkan kepala. Sungguh dia tidak bermaksud jahat pada Adisti.
"Maaf, Bu," ucapnya pelan
"Maaf? Maaf untuk apa?" tanya Adisti yang berpura-pura tidak tahu agar gadis di depannya mau mengakui kesalahannya.
"Saya akui jika sudah melakukan kesalahan. Saya juga terpaksa melakukannya, itu semua karena sata membutuhkan uang itu untuk pengobatan ibu saya."
"Pengobatan ibu kamu? Tapi kenapa harus mencuri? Bukankah kamu dengan mudah bisa meminjamnya pada saya? Saya juga tidak pernah merasa keberatan untuk meminjamkannya."
"Saya tidak mencuri, Bu. Saya hanya meminjamnya, saya juga sudah mengembalikan uang itu dengan nominal yang sabar tanpa kurang satu rupiah pun," sela Nadia yang tidak suka dengan kata-kata atasannya.
"Mengambil milik orang lain tanpa persetujuan dari sang pemilik itu apa namanya kalau bukan mencuri? Kamu memang sudah mengembalikannya sesuai dengan jumlah yang kamu ambil, tapi tetap saja kamu sudah mengambil uang restoran!"
"Saya mohon maaf, Bu. Sungguh saya tidak bermaksud untuk berbuat jahat. Saat itu saya memang benar-benar membutuhkan uang untuk ibu."
Adisti menarik napas dalam-dalam, bingung harus mengambil keputusan apa. Bagaimanapun juga Nadia selama ini sudah bekerja padanya dan tidak pernah melakukan kesalahan. Hanya memang kali ini saja dan sangat keterlaluan. Kalau dia memaafkan asistennya, takut nantinya pegawai lain akan berpikir jika dirinya tidak tegas pada orang yang sudah melakukan kesalahan. Namun, jika memecat Nadia juga tidak tega. Apalagi Nadia juga tulang punggung keluarga.
"Baiklah, aku memaafkanmu kali ini, tapi kamu bukan lagi asistenku. Kamu aku pindahkan sebagai pegawai biasa, itu pun kalau kamu masih mau bekerja di sini."
Nadia terdiam, bingung apakah dia masih menerima pekerjaan atau tidak. Jika sekarang menjadi pegawai biasa, otomatis gajinya juga akan turun. Gaji yang kemarin saja terkadang kurang apalagi sekarang harus menjadi pegawai biasa, tetapi di zaman sekarang mencari pekerjaan sangat sulit, belum tentu dirinya bisa langsung dapat pekerjaan. Mungkin sebaiknya dia menerima saja nanti sambil mencari pekerjaan yang lain.
"Saya menerimanya, Bu."
"Baiklah kalau begitu, ini adalah kesempatan terakhir untukmu. Kalau suatu hari nanti aku melihatmu melakukan kesalahan lagi, aku akan menindakmu dengan tegas. Tidak ada kata maaf sama sekali."
__ADS_1
"Terima kasih, Bu. Saya berjanji akan tidak akan mengulangi kesalahan yang Sama."
"Saya pegang janji kamu."