Janji Yang Kau Ingkari

Janji Yang Kau Ingkari
44. Sidang pertama


__ADS_3

"Kamu semakin hari semakin kurang ajar. Bryan sudah sangat baik padamu, dia mau menikahimu yang hanya wanita kampung. Seharusnya kamu bersyukur memiliki suami seperti Bryan," ucap Lusi dengan nada tinggi.


"Aku bersyukur? Apa yang harus aku syukuri saat ini jika ternyata sekarang Bryan sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Mama tentu tahu kalau kita hidup juga perlu uang untuk kehidupan sehari-hari," sahut Sahna dengan suara yang tidak kalah tinggi.


Lusi terdiam, benar apa yang dikatakan Sahna, bahkan dirinya pun sudah gatal ingin berbelanja, tetapi egonya terlalu tinggi dan tidak ingin disalahkan jadi, dia tetap menyalahkan Sahna atas apa yang terjadi pada hidupnya. Padahal dirinya juga turut andil atas semua yang terjadi.


"Itu semua terjadi juga karena kehadiran kamu! Kamu dan anak kamu itu membawa sial, makanya keluarga saya jadi seperti ini. Padahal sebelumnya semua baik-baik saja."


"Tanpa sata datang pun nasib Anda memang sudah jelek."


"Sudahlah, Sahna tidak usah berdebat lagi. Lebih baik kita sarapan, sebentar lagi aku harus pergi. Ada yang lebih penting daripada mendengar ocehanmu yang tidak jelas." Bryan pun segera duduk dan menikmati sarapannya.


Meskipun hidangan yang ada di depannya benar-benar tidak menggugah selera. Namun, karena dirinya juga butuh tenaga untuk hadir di persidangan dia perlu memakannya. Mengenai Sahna biarlah wanita itu melakukan sesuatu yang dia sukai. Bryan juga tidak peduli lagi.


Jika perlu ingin sekali pria itu memulangkan istrinya ke kampung halamannya. Dia sudah tidak peduli lagi dengan anak yang ada dalam kandungan Sahna. Untuk kehidupan mereka sehari-hari saja sudah kesulitan, entah bagaimana mereka harus membesarkannya nanti. Jika bersama dengan kedua mertuanya pasti kehidupan anaknya lebih terjamin karena kehidupan orang tua Sahna juga cukup mapan.


Biarlah dia dikatakan pria yang tidak bertanggung jawab, yang penting kehidupannya tidak direcoki oleh istri dan anaknya. Kalau nanti dirinya bisa kembali bersama dengan Adisti dan mau menerima anaknya, itu juga semakin bagus. Meskipun rasanya tidak mungkin, buktinya sekarang Adisti lebih memilih berpisah darinya. Seharusnya kemarin Bryan bisa lebih berhati-hati dan tidak seceroboh ini.


Setelah sarapan selesai, Bryan pergi begitu saja tanpa berpamitan pada istrinya. Sahna pun tidak mau ambil pusing, yang ada dirinya akan jadi semakin emosi, biarlah sang suami melakukan apa yang dia suka. Lagi pula hari ini pria itu kan juga akan bercerai dengan istri pertamanya. Setelah itu Adisti juga tidak akan mau kembali bersama dengan Bryan.


***


Yasa sedang sibuk dengan berkas yang ada di mejanya. Entah kenapa hari ini banyak sekali pekerjaan, padahal dia ingin datang dan menyemangati Adisti dalam sidang perceraiannya. Suara ketukan pintu membuat pria itu semakin kesal. Namun, tetap meminta orang tersebut untuk masuk, siapa tahu memang ada sesuatu yang benar-benar penting. Lebih baik lagi jika orang itu bisa membantunya untuk segera menyelesaikan pekerjaannya.

__ADS_1


"Selamat pagi, Yasa. Sepertinya kamu hari ini sibuk sekali, ya? Padahal kamu di sini bos, seharusnya kamu bisa bersantai menikmati hidup," sapa seorang wanita.


Yasa memutar bola matanya malas, setelah mengetahui orang yang datang siapa lagi kalau bukan Arsylla. Ingin sekali pria itu mengusirnya saja dari ruangannya, tetapi Yasa masih tahu etika dan tidak ingin menyakiti wanita. Kehadiran Arsylla di perusahaan ini juga janjinya waktu itu.


Arsylla bekerja sebagai staf biasa. Awalnya wanita itu menolak dan menginginkan posisi sekretaris, tetapi Yasa menolak karena dia selalu mempekerjakan laki-laki sebagai asistennya. Yasa juga mengatakan jika Arsylla menolak menjadi staf, wanita itu bisa pergi dari perusahaan. Mau tidak mau akhirnya Arsylla menerima.


"Sekarang masih jam kerja, kalau kamu datang untuk urusan pribadi sebaiknya kamu kembali ke tempat kerjamu. Aku tidak suka mempekerjakan orang yang tidak bertanggung jawab dalam pekerjaannya."


Arsylla kesal hingga dia mengepalkan tangannya. Namun, ekspresinya mencoba untuk terlihat biasa saja. Wanita itu tidak ingin terlihat jelek di mata Yasa, dirinya masih ada misi yang harus dilakukan pada pria yang ada di depannya.


"Iya, aku minta maaf. Aku hanya ingin bertanya padamu, bukankah hari ini adalah sidang perceraian pertama Adisti? Apa kamu tidak ingin datang? Bukannya kamu masih mengharapkan dia?" Arsylla duduk di depan meja Yasa tanpa diperintahkan atasannya.


"Mengenai Adisti dan aku, itu bukan urusanmu. Urus saja urusanmu sendiri, tidak perlu ikut campur dengan hal lainnya. Sekarang kembalilah bekerja."


Wanita itu penasaran apakah pria itu sama seperti dulu atau tidak, tapi ternyata sama saja, bahkan sekarang terlihat begitu berwibawa. Rasa iri dalam hati Arsylla pada Adisti semakin besar. Setelah ditinggal bertahun-tahun ternyata cinta itu masih tetap untuk satu wanita. Kenapa selalu saja Adisti padahal di luaran sana masih banyak gadis yang lebih cantik dan pintar. Tidak ada yang spesial juga dari seorang calon janda.


Ponsel Yasa berdering, ada sebuah pesan masuk, sebuah video dari orang yang dia suruh untuk datang di persidangan Adisti dan Bryan. Pria itu pun segera memutarnya, ternyata itu adalah jalannya persidangan. Di sana terlihat begitu tegang saat pihak pria menyatakan keinginannya untuk tetap mempertahankan rumah tangganya. Namun, pihak Adisti tetap kekeh ingin bercerai.


Ternyata Adisti tidak datang, semua diwakilkan oleh pengacaranya dan sidang pun akhirnya ditunda satu minggu lagi. Hakim meminta agar pihak wanita datang untuk agenda mediasi minggu depan. Pengacara hanya menyanggupinya, entah kliennya akan datang atau tidak. Sebelumnya Adisti mengatakan tidak akan pernah datang kecuali untuk putusan.


Yasa terlihat begitu geram dengan tingkah Bryan yang seolah merasa tidak bersalah, padahal sudah jelas jika dirinyalah penyebab perceraian itu. Entahlah dia harus senang atau tidak dengan perselingkuhan yang dilakukan oleh Bryan. Di satu sisi dia senang akhirnya wanita yang dicintainya bisa lepas dari pria itu. Ada kemungkinan untuk dirinya bisa hadir dalam kehidupan Adisti. Di sisi lainnya pria itu sedih saat melihat wanita yang dicintainya begitu terluka dengan apa yang sudah terjadi.


***

__ADS_1


Sementara itu, Adisti yang berada di ruang kerjanya hanya bisa menahan kekesalannya. Setelah mendapat telepon dari pengacaranya, bahwa minggu depan dirinya diminta untuk datang dalam agenda mediasi dia merasa ragu. Bukan karena takut pada Bryan, hanya saja wanita itu tidak ingin membuat masalah di ruang persidangan. Adisti sangat tahu bagaimana suaminya, pasti pria itu sedang berusaha untuk bisa kembali bersama dengan dirinya apa pun yang terjadi.


Ponsel Adisti yang berada di meja berdering, tertera nama Roni di sana. Wanita itu pun segera mengangkatnya.


"Ada apa, Roni? Apa ada berita yang begitu penting?" tanya Adisti karena memang dia tidak merasa memberi pekerjaan pada anak buahnya itu.


"Ini mengenai Arsyilla, Nyonya dan juga pria yang saat ini sedang ingin mendekati Anda," jawabnya yang berada dalam sambungan telepon.


Adista sedikit mengerutkan keningnya, tidak mengerti maksud Roni, siapa pria yang ingin mendekatinya, membuat dia jengah saja. Urusannya dengan Bryan saja belum selesai, ini malah ditambah dengan urusan lainnya. Kenapa para pria suka sekali menambah masalah.


"Kamu jangan bicara yang macam-macam, Roni. Saya tidak sedang dekat dengan pria mana pun. Apa kamu sedang ingin mencari masalah denganku?" tanya Adisti dengan ketus.


"Saya tahu, Nyonya, tapi pria itu yang sedang berusaha mendekati Anda."


"Memangnya siapa laki-laki itu?" tanya Adisti yang memang sudah penasaran.


"Dia adalah bagian dari masa lalu Anda. Namanya Tuan Yasa, yang saat ini juga sudah membeli saham di perusahaan Tuan Gunawan hanya demi bisa dekat dengan Anda."


Adisti menganggukkan kepalanya sambil berkata, "Oh, jadi itu tujuannya? Memang apa yang dia harapkan dariku? Apa kamu tahu alasannya?"


Roni tidak tahu harus menjawabnya atau tidak, tetapi bagaimanapun Adisti juga berhak tahu yang sebenarnya agar bisa berhati-hati di kemudian hari. "Yang saya tahu dia ingin kembali bersama dengan Anda seperti dulu."


Adisti terdiam dengan pandangan lurus, dia memang sudah memperkirakan hal ini. Namun, tidak menyangka bahwa hal itu benar-benar akan terjadi. Wanita itu sama sekali tidak tertarik untuk kembali pada masa lalunya, mengingat luka yang dulu pernah pria itu berikan.

__ADS_1


"Lalu mengenai Arsylla, ada apa dengan wanita itu? Apa dia membuat ulah lagi?" tanya Adisti yang sengaja ingin mengalihkan pembicaraan.


__ADS_2