Janji Yang Kau Ingkari

Janji Yang Kau Ingkari
105. Melihatnya bersama


__ADS_3

"Tetap saja rasanya berbeda. Aku ingin Adisti ada di sini menemaniku," ucap Vira dengan cemberut.


"Kalau begitu kamu hubungi dia saja, biar bisa menemani kamu," sahut Edwin.


"Kalau Adisti ke sini, siapa yang nanti akan membantu ibunya Rio? Kasihan beliau mengurus semuanya sendiri." Vira benar-benar dilema, bingung harus bagaimana. Satu sisi kasihan pada Bu Aisyah, tetapi juga ingin ada seseorang yang menemani.


"Kenapa kamu harus repot memikirkannya? Bukankah kamu ingin Adisti ada bersamamu?"


"Iya, sih, Pa, tapi kasihan juga ibunya Rio kalau Adisti juga ada di sini. Beliau 'kan sudah tua."


"Kamu ini aneh sekali, tadi katanya ingin Adisti di sini, tapi Papa suruh kamu telepon dia kamunya malah kasihan sama ibunya Rio, jadi kamu maunya bagaimana? Adisti juga tidak mungkin bisa membelah dirinya jadi dua."


"Papa! Malah bikin aku jadi pusing. Sudahlah, biarkan saja Adisti di sana membantu ibunya Rio. Kasihan juga beliau sudah tua."


"Papa tadi juga bilangnya begitu, tapi kamu tidak mau mendengarkan. Papa malah bikin aku jadi tambah kesal saja."


Edwin tertawa kemudian memeluk sang putri dari samping. Dia tidak menyangka jika akhirnya Vira menikah juga, padahal selama ini pria itu menganggap sang putri seperti anak kecil yang setiap hari selalu bersamanya. Pergi ke mana pun juga Vira akan selalu diajak.


"Nak, apa kamu sudah yakin akan menjadikan Rio sebagai pengganti Papa!" tanya Edwin yang tiba-tiba berubah serius.


"Kenapa Papa bilang begitu? Tidak akan ada yang bisa menggantikan Papa di hatiku. Selamanya Papa adalah pria pertama yang aku cintai, tidak akan terganti, sementara Mas Rio memiliki tempat tersendiri sebagai pasangan hidupku. Aku juga sudah sangat yakin dengan pilihanku, apalagi dengan restu dari Papa, itu akan membawa kehidupanku pada kebahagiaan. Aku harap Papa akan selalu mendoakanku agar selalu bahagia. Setiap masalah yang akan aku hadapi juga bisa teratasi dengan mudah."


"Amin, tentu saja papa akan selalu mendoakanmu. Sebagai orang tua Papa hanya ingin terbaik untukmu dan mudah-mudahan saja Papa tidak salah pilih tentang Rio."


Vira tersenyum sambil mengangguk, sungguh dia sangat beruntung memiliki orang tua seperti Edwin. Meskipun terkadang terlalu berlebihan dalam memanjakannya, tetapi dia tahu jika itu hanya sebuah bentuk kasih sayang saja.

__ADS_1


"Pa, setelah acara lamaran selesai, kita pergi ke makam mama, yuk! Meskipun selama ini kita selalu mengirim doa untuk almarhumah, tapi 'kan kita jarang sekali mendatangi makamnya karena memang jauh, di kota yang sama dengan Adisti. Si Adisti bisa kapan saja datang ke makam kedua orang tuanya, sementara kita hanya sesekali saat pergi ke sana. Kemarin saja yang terakhir saat pernikahan Adisti, kita hanya sempat mengunjungi sebentar sekali karena terburu-buru dengan pekerjaan papa dan harus pulang."


"Iya, Papa setuju sama kamu. Nanti setelah semua acara selesai, kita ke makam Mama sekalian juga kamu ajak Rio biar dia tahu makam almarhumah mertuanya."


"Iya, Pa. Nanti aku akan bilang sama Rio."


***


Sementara itu, Adisti dan Bu Aisyah berkeliling di mall membeli banyak barang untuk hantaran. Adisti merasa begitu senang bisa berbelanja dengan Bu Aisyah karena memang beliau orang yang baik. Wanita itu juga merasa memiliki seorang ibu yang bisa diajak berbelanja.


"Nak Adisti, mau beli sesuatu? Biar Ibu yang bayarin, kebetulan Rio kasih ATM ke Ibu, isinya juga banyak jadi kita bisa beli apa saja, kamu mau beli apa?"


"Tidak usah, Bu, kemarin aku sudah berbelanja," sahut Adisti yang merasa tidak ensk. Lagian dua juga ikhlas menemani ibunya Rio, tidak ingin mendapat imbalan apa pun.


"Kalau begitu bolehlah, Bu. Mumpung Ibu bawa uang Rio jadi kita bisa manfaatkan saja."


"Oke, kamu mau apa?"


Adisti melihat ke kiri dan kanan, mencari tempat tang sekiranya cocok untuk mereka berdua. Hingga pandangannya tertuju pada sebuah toko yang cukup besar di sana.


"Mau beli baju di sebelah sana! Nanti aku juga pilihin buat Ibu."


Adisti mengamit tangan Bu Aisyah dan mengajaknya ke salah satu toko pakaian yang ada di mall tersebut. Memang bukan baju yang mahal, tetapi justru membuat Adisti senang karena bisa membelinya dengan orang yang yang membuatnya nyaman.


Setelah lelah berkeliling, keduanya memutuskan untuk menikmati makan siang di sana. Adisti juga sudah mengirim pesan pada Yasa jika dia akan makan siang di luar bersama dengan Bu Aisyah. Pria itu pun mengizinkan, baginya asalkan sang istri bahagia dia pun ikut senang.

__ADS_1


"Nak Adisti, bahagia jadi istri Yasa?" tanya Bu Aisyah.


"Alhamdulillah, Bu, aku bahagia sekali. Mas Yasa juga memperlakukan aku dengan baik. Kita saling mengisi satu sama lain, aku juga tidak ingin terlalu menuntut sesuatu hal pada Mas Yasa, dia 'kan manusia biasa, aku juga bukan manusia yang sempurna. Setiap orang pasti memiliki kekurangan masing-masing."


Bu Aisyah mengangguk dan berkata, "Iya, tapi Ibu senang kalau kamu bahagia. Ibu sudah menganggap Yasa seperti anak Ibu sendiri, Ibu hanya takut jika dia tidak bisa membahagiakan kamu karena Ibu merasa itu tanggung jawab Ibu sebagai orang tua, yang harus selalu mengingatkan anaknya agar tidak melakukan kesalahan. Jika Yasa melakukan kesalahan, tegurlah dia dengan baik-baik. Jika tidak bisa, kamu bisa menaikkan suaramu, tapi jangan pernah sekali pun menggunakan kekerasan fisik karena Ibu juga tidak ridho jika hal itu terjadi. Begitupun dengan Yasa, Ibu juga sudah memperingatkannya sebelumnya jadi, kalian harus sama-sama saling mengerti satu sama lain."


"Iya, Bu. terima kasih atas nasehatnya. Aku akan selalu mengingat apa yang Ibu katakan. Aku sangat senang ada ibu di sini jadi, aku merasa seperti memiliki orang tua kembali," sahut Adisti dengan mata berkaca-kaca.


"Yasa sudah Ibu anggap seperti anak sendiri, begitu pun juga dengan kamu, tapi Ibu tidak pernah melihat kedua orang tua kamu. Apa mereka tinggal di luar negeri?"


"Tidak, Bu. Mama dan Papa sudah meninggal. Tuhan sudah lebih dulu memanggil mereka saat aku masih SMA."


"Maaf, Ibu tidak tahu jadi menyinggungmu."


"Tidak apa-apa, Bu, aku juga mengerti jika Ibu hanya sekedar bertanya saja."


Makanan pesanan mereka datang, keduanya pun segera menikmati bersama. Saat sedang menikmati makanan, tiba-tiba saja pandangan Adisti tertuju pada pasangan laki-laki dan perempuan yang juga sedang menikmati makanan di sana. Tanpa menyia-nyiakan waktu dia pun mengambil gambar mereka.


Ternyata tanpa mencari tahu pun Adisti bisa tahu jika kedua orang itu ternyata saling mengenal. Mungkin juga mereka bekerja sama seperti kecurigaannya. Orang itu tidak lain adalah Haris dan Irene. Meskipun Adisti tidak pernah bertemu dengan Irene, tetapi hanya dengan melihat fotonya sekali saja membuat wanita itu hafal bagaimana postur tubuh dan wajahnya.


"Kamu lagi lihatin siapa, Nak?" tanya Ibu Aisyah sambil melihat ke arah tatapan Adisti.


"Tidak apa-apa, Bu. Hanya teman saja. Ibu lanjutkan saja makannya."


Bu Aisyah pun mengangguk, sementara Adisti segera mengirim gambar yang tadi dia ambil ke ponsel sang suami. Semoga setelah ini Yasa bisa mencari tahu lebih banyak lagi tentang mereka. Mereka juga tidak perlu berpura-pura bertengkar.

__ADS_1


__ADS_2