
Yasa duduk seorang diri di sebuah restoran. Jantungnya sedari tadi berdetak tidak beraturan. Dalam hati dia merasa was-was, takut jika wanita yang ditunggu tidak akan pernah datang. Pandangannya sejak tadi tidak lepas dari pintu masuk, berharap ada orang yang ditunggu di sana.
Pria itu menundukkan kepala, sepertinya kali ini dia benar-benar kalah. Adisti tidak ingin lagi bertemu dengannya. Tidak ada lagi harapan untuk kembali bersama dengan wanita yang dicintainya itu. Kopi yang ada di depannya pun sudah dingin, tidak nikmat lagi rasanya.
"Maaf, aku terlambat," ucap seorang wanita yang berdiri di dekat meja Yasa.
Seketika pria itu mendongakkan kepala. Wajah yang tadinya muram pun kini berseri, tidak menyangka jika wanita yang ditunggu akhirnya datang juga. Siapa lagi kalau bukan Adisti. Yasa berdiri dari kursinya dan mempersilakan orang itu untuk duduk di depannya.
Pria itu begitu terkesima dengan penampilan Adisti yang terlihat begitu cantik. Sungguh sangat berbeda dengan hari-hari biasanya.
Hari ini Adisti memang sengaja tampil cantik untuk pria yang ada di depannya. Dia sengaja menggunakan gaun terbaik yang dimiliki di butik. Tadi sebelum ke sini wanita itu juga pergi ke sebuah salon untuk mempercantik diri. Hasilnya memang tidak sia-sia, Adisti berhasil membuat Yasa kagum hingga tidak sadar sedari tadi tersenyum begitu lebar.
"Maaf jika aku membuatmu menunggu terlalu lama," ucap Adisty membuat Yasa tersadar dari lamunannya.
"Oh tidak! Kamu tidak terlambat, sekarang juga masih jam makan malam. Aku senang karena kamu akhirnya datang juga," sahut Yasa sambil tersenyum.
"Memangnya kenapa? Apa kamu berpikir kalau aku tidak akan datang?"
"Iya. Aku sempat tidak percaya diri dan mengira kalau kamu tidak akan menerimaku."
"Aku 'kan memang belum mengatakan apa pun. Aku datang bukan berarti menerimamu, kan?" kata Adisti membuat senyum di wajah Yasa luntur.
Wanita itu memang belum mengatakan apa pun, tetapi sebelumnya Yasa sudah mengatakan jika Adisti memberi kesempatan padanya, maka wanita itu harus datang hari Sabtu malam. Jika tidak maka tidak perlu datang, sedangkan sekarang Adisti ada di depannya. Apakah mungkin wanita itu memang sengaja mempermainkan perasaannya. Akan tetapi, rasanya itu tidak mungkin karena Adisti bukan orang yang suka bermain-main, apalagi mengenai perasaan.
__ADS_1
"Tidak perlu terlalu tegang. Kamu datang mengundangku untuk makan malam 'kan? Ini masih belum ada hidangan sama sekali," ucap Adisti sambil memperlihatkan mejanya yang hanya ada secangkir kopi milik Yasa yang sudah dingin.
"Oh iya! Maaf."
Yasa pun memanggil seorang pelayan. Tadi dia sudah memesan beberapa makanan, kini hanya tinggal menghidangkan saja. Memang kebetulan pria itu memesankan makanan kesukaan Adisti.
"Kamu masih ingat makanan kesukaanku?" tanya Adisti sambil melihat hidangan yang ada di depannya.
"Tentu saja aku akan selalu ingat, bahkan sekarang aku mulai menyukainya juga," jawab Yasa yang juga memperlihatkan makanan di depannya, membuat Adisti tersenyum, tidak menyangka dengan makanan yang dipilih pria itu.
Keduanya menikmati makan malam dengan tenang. Meskipun saat ini perasaan Yasa sedang tidak baik-baik saja. Dia sedang memikirkan kira-kira jawaban apa yang akan diberikan oleh Adisti.
"Kenapa dari tadi kamu ngelihatin aku terus? Apa ada yang aneh di wajahku atau cara makanku yang salah, sehingga kamu dari tadi lihatin aku kayak gitu?" tanya Adisti sambil meraba wajahnya.
"Jadi kamu sudah tidak berharap lagi padaku? Kamu sudah menyerah begitu saja?"
"Aku bukan menyerah. Aku hanya mengungkapkan apa yang aku rasakan saja. Aku tidak ingin melihatmu sedih lagi jadi, aku berharap kamu akan bahagia nantinya. Meskipun tidak bersama denganku. Jika memang bersama denganku membuatmu sedih dan bersama orang lain membuatmu bahagia, aku rela."
"Tapi aku maunya selalu bersama kamu. Aku hanya ingin melanjutkan hidupku bersamamu."
"Ma–maksud kamu?" tanya Yasa dengan hati berdebar, dia tidak menyangka akan mendengar kalimat itu dari bibir Adisti.
Adisti menarik napas dalam-dalam dan berkata, "Aku sudah memikirkan semuanya dari satu minggu yang lalu. Aku sudah memutuskan kalau aku ingin memulai hidup yang baru denganmu. Entah takdir seperti apa yang akan kita jalani nanti. Aku hanya bisa berdoa agar kita selalu bahagia."
__ADS_1
"Alhamdulillah, benarkah kamu mau menerimaku kembali? Adisti tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Yasa menggenggam telapak tangan Adisti dan mengucapkan rasa terima kasihnya pada wanita itu karena telah memberi kesempatan padanya. Dia sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi karena terlalu bahagia. Sungguh Adisti benar-benar mengaduk-aduk perasaannya.
"Aku akan membuktikan padamu bahwa aku benar-benar tulus mencintaimu."
"Aku juga berharap begitu. Semoga kita bisa bahagia selalu."
"Tentu. Aku akan berusaha membangun kebahagiaan dalam keluarga kita nanti."
Yasa begitu bahagia, dia tidak tahu harus bagaimana. Terlalu bahagia sampai tidak tahu harus mengungkapkannya seperti apa. Adisti juga tidak kalah bahagia. Beban yang tadi wanita itu rasakan kini akhirnya bisa lepas. Ternyata tidak buruk juga menerima kehadiran Yasa kembali, berharap setelah ini mereka bisa menjalani segala cobaan yang datang bersama-sama.
"Lanjutkan makannya. Setelah ini aku akan antar kamu pulang. Sebenarnya aku ingin ajak kamu jalan-jalan, tapi ini sudah larut. Aku tahu kalau kamu tidak suka keluar malam," ujar Yasa.
Adisti mengangguk dan kembali melanjutkan makannya. Begitu juga dengan Yasa, tetapi pria itu masih sesekali melirik ke arah Adisti. Dalam hati dia takut apa yang terjadi hari ini hanyalah sebuah mimpi. Yasa bersyukur ternyata ini memang benar-benar kenyataan.
Setelah selesai makan malam, pria itu pun mengantar Adisti pulang. Yasa sengaja meminta wanita itu untuk meninggalkan mobilnya di sana. Nanti akan ada orang yang mengambilnya karena dia tidak ingin terjadi sesuatu pada Adisti. Awalnya wanita itu menolak karena sudah terbiasa juga pulang pergi seorang diri, tetapi karena tidak ingin mengecewakan Yasa akhirnya dia menurut saja. Tidak ada salahnya pergi satu mobil dengan pria itu.
"Kapan kamu siap menerima kedatangan keluargaku?" tanya Yasa saat keduanya sedang dalam perjalanan pulang.
Adisti terkejut dan menatap ke arah pria itu. "Apa harus secepat itu?"
"Umurku sudah tidak muda lagi jadi, tidak perlu menunggu terlalu lama. Apa kamu ingin menundanya?" tanya Yasa dengan ekspresi sedih.
__ADS_1
"Bukan begitu maksudku. Aku memang sebelumnya sudah mengenal keluargamu, tapi kita 'kan sudah sangat lama tidak bertemu. Kita tidak tahu bagaimana respon mereka. Kalau keluargaku sudah jelas mereka sudah tidak ada, hanya ada Om Edwin dan Tante Soraya, kedua adik papa. Aku rasa mereka juga tidak keberatan. Aku hanya takut jika keluargamu yang menolak kehadiranku."