Janji Yang Kau Ingkari

Janji Yang Kau Ingkari
74. Persiapan pernikahan


__ADS_3

"Nggak jadi. Ternyata pria itu buaya. Aku juga nggak tahu kenapa tiba-tiba papa melihat pria itu pergi ke sebuah hotel bersama dengan seorang wanita. Papa mengikutinya dan akhirnya tahu jika pria itu suka main wanita," ujar Vira dengan kesal dan sedih bersamaan. Bukan sedih karena gagal berjodoh dengan laki-laki itu, tetapi sedih karena sang papa dibohongi.


"Benarkah? Biasanya Om Edwin sangat seleksi dalam memilih orang yang dia percayai. Kenapa sekarang tiba-tiba kecolongan begitu? Untung saja kamu dan dia belum sampai menikah," sahut Adisti yang hampir tidak percaya dengan cerita sepupunya.


"Jangankan menikah, orang berkenalan saja cuma sekali."


"Iya, makanya seharusnya kamu bersyukur belum sampai berhubungan dengannya. Terus sekarang bagaimana? Apa Om Edwin masih ingin menjodohkan kamu lagi? Mungkin dengan pilihannya yang lain?"


"Sampai detik ini papa masih belum membicarakan hal itu sejak gagal kemarin. Aku juga nggak mau banyak bertanya padanya, dia juga pasti masih merasa kecewa. Sekarang gagal saja sudah membuat aku senang, walaupun sebenarnya aku juga sedih karena papa terlihat begitu kecewa pada pria itu. Sepertinya papa memang sudah sangat percaya padanya."


"Apa kamu tahu Om Edwin kenal dia di mana? Sampai sebegitu percayanya sama pria itu," tanya Adisti yang sangat penasaran. Selama mengenal Edwin, pria itu sangat selektif dalam segala hal, termasuk menilai seseorang. Bahkan tidak segan menyelidikinya meskipun hanya sekadar teman.


"Katanya pria itu nolongin papa, tapi aku nggak tahu nolongin yang seperti apa. Aku nggak bertanya pada papa lebih lanjut karena waktu itu aku juga sedang kesal karena perjodohan."


"Semoga saja Om Edwin bisa menemukan seseorang yang benar-benar baik dan bisa dijadikan menantunya."


Kali ini Vira yang memukul Adisti dengan keras. "Enak saja! Aku 'kan belum mau menikah."


"Memangnya kapan kamu maunya menikah? Kamu tidak mungkin selamanya sendiri 'kan? Ingatlah umurmu, sudah semakin tua, pasti Om Edwin juga ingin melihat putrinya bahagia."


Tiba-tiba saja wajah Vira yang tadinya kesal kini berubah sendu. "Justru itu, kalau aku menikah sekarang, pasti papa akan sendiri di rumah. Dia nggak ada temennya, tidak ada yang mengingatkan untuk minum obat dan pola makannya.

__ADS_1


"Kamu sok-sokan peduli sama Om Edwin. Kamu dulu juga tinggal terpisah kota dengan papamu, kamu baik-baik saja. Kenapa sekarang sok-sokan peduli begitu?" cibir Adisti.


"Itu 'kan dulu, berbeda dengan sekarang. Papa sekarang berumur, tubuhnya gampang sakit, papa juga sulit sekali kalau disuruh minum vitaminnya. Aku ingin menemani papa, tidak mau terpisah dengannya."


"Itu kamu tahu kalau papamu sudah berumur, makanya dia ingin kamu menikah dan bahagia. Kenapa kamu tidak cari calon suami yang mau tinggal bersama denganmu dan Om Edwin saja? Pasti dari sekian banyak pria, ada yang mau."


Vira mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak ingin membahas hal itu lagi Lebih baik sekarang kita membicarakan masa depan kamu dan juga mengenai pernikahanmu yang akan dilangsungkan dua bulan lagi. Bukankah kamu sendiri yang akan menyiapkannya? Apa kamu sudah ada gambaran mau pesta yang seperti apa?" tanya Vira yang sengaja ingin mengalihkan pembicaraan.


Dia sendiri tidak begitu tahu dengan masa depannya nanti mau seperti apa. Biarlah waktu yang menjawabnya.


"Tentu saja aku punya keinginan. Dulu aku tidak bisa mewujudkan keinginanku, saat pernikahan pertama karena semua keluarga Bryan yang mengaturnya. Sekarang ada kesempatan, aku akan mewujudkannya, tapi nanti saja merencanakannya. Biar aku bicarakan dengan Yasa dulu, dia setuju atau tidak. Kalau nanti Yasa tidak setuju juga tidak apa-apa. Apa pun konsep pernikahan kami nanti, yang penting semuanya berjalan dengan lancar dan bisa terselesaikan dengan baik. Aku hanya ingin ini menjadi pernikahanku yang terakhir untukku. Apa pun nanti cobaan yang datang, insya Allah aku siap menghadapinya."


Keesokan paginya, Yasa datang menjemput Adisti untuk diantara ke butik. Selama perjalanan keduanya membicarakan mengenai pesta pernikahan. Yasa sendiri sudah menyerahkan semuanya pada tunangannya. Dia sama sekali tidak peduli bagaimana nanti pestanya, yang penting pengantin wanitanya adalah Adisti. Apa pun pasti akan pria itu lakukan.


"Benar kamu akan menyetujui rencanaku? Bagaimana nanti kalau aku menginginkan konsep dengan nuansa pink? Apa kamu mau pakai jas warna pink juga?" tanya Adisti, seketika membuat Yasa terkejut.


Selama ini dia tidak pernah memakai pakaian dengan warna itu. Bukan karena tidak suka, hanya saja menurutnya itu khas warna wanita. Sekarang saat calon istrinya menginginkan dirinya memakai itu, rasanya sangat aneh baginya. Namun, demi sang pujaan hati, akan pria itu lakukan.


"Kalau memang itu keinginanmu, aku pasti akan memakainya," sahut Yasa dengan senyum paksa, membuat Adisti terkekeh.


Dia tidak mungkin setega itu pada calon suaminya. Meskipun Yasa bilang tidak apa-apa, tapi pasti dalam hatinya pria itu menjerit.

__ADS_1


"Baiklah, biar nanti aku bicarakan dengan Mama Riana."


"Iya, nanti saat jam makan siang Mama akan datang ke butik kamu. Dia ingin bertanya bagaimana konsep pernikahan yang kamu inginkan. Mungkin nanti juga datang bersama dengan orang-orang dari WO," ujar Yasa yang dijawab dengan anggukan oleh Adisti. "Mengenai gaun pengantin, apa benar kamu yang akan merancangnya sendiri? Apa kamu tidak lelah harus menyiapkan segala sesuatunya sendiri? Bukan maksudku untuk meremehkan pekerjaan kamu, tapi aku tidak mau saat hari pernikahan kita nanti kamu malah jatuh sakit."


"Kamu tenang saja, lagipula aku juga membuat gaun pengantin yang simpel dan tidak terlalu mewah jadi, aku bisa menanganinya sendiri. Kalau masalah baju keluarga, biar karyawanku saja yang mengerjakannya. Pekerjaan mereka juga sangat bagus."


"Semua aku serahkan kepadamu."


Yasa mengambil dompet yang ada di saku jasnya dan mengambil salah satu kartu dan menyerahkan nya kepada Adisti. "Pergunakan ini untuk semua keperluan pernikahan kita Kalau nanti masih kurang bilang saja padaku, nanti biar aku transfer."


"Tidak perlu, aku juga ada uang," sela Adisti yang merasa tidak enak karena semua seolah bergantung pada sang kekasih


"Sudah, kamu pakai saja ini. Aku laki-laki, mana mungkin membebankan semua urusan pesta padamu karena memang semua kamu tangani sendiri jadi, aku kirim uang saja sama kamu. Biaya gaun pengantin juga kamu ambil saja dari sini, mudah-mudahan masih cukup."


Adisti masih ragu untuk mengambilnya. Bukan bermaksud menyombongkan diri, dia tahu maksud Yasa baik dan pria itu juga bermaksud untuk bertanggung jawab. Hanya saja dia tidak ingin nanti orang-orang menganggapnya memanfaatkan sang kekasih.


"Sudah, jangan banyak berpikir, ini adalah tanggung jawabku."


Akhirnya Adisti pun menerimanya juga. Entah nanti dia mempergunakan kartu itu atau tidak, biarlah itu dipikirkan nanti. Tidak berapa lama akhirnya mobil Yasa sampai juga di depan butik milik Adisti. Wanita itu pun segera turun dan melambaikan tangannya pada sang kekasih yang mulai meninggalkan dirinya. Saat akan masuk, tiba-tiba seseorang datang menyapanya.


"Halo, selamat pagi calon ipar sepupu, apa kabar? Sudah lama tidak bertemu," sapa Haris yang membuat Adisti terkejut. Dari mana pria itu tahu alamat butiknya.

__ADS_1


__ADS_2