
"Kemarin Rio bilang jika ibunya datang dari kampung, apa kamu tidak ingin menemuinya?" tanya Yasa pada Vira.
"Tidak, aku malu. apa kata ibu Rio nanti kalau aku datang mengunjunginya, pasti rasanya akan sangat aneh karena aku dan Rio saja masih dalam tahap perkenalan, tapi sudah lancang menemui ibunya," sahut Vira.
"Siapa bilang seperti itu? Ibunya Rio itu wanita yang baik, tidak mungkin berpikir yang macam-macam. Dia juga percaya pada putranya yang tidak akan mempermainkan perasaan wanita."
"Iya, tetap saja aku merasa malu. Lain kali saja kalau aku dan Rio benar-benar sudah mantap ingin bersama. Saat ini biarkan saja semuanya mengalir apa adanya."
Yasa mengangguk dan tidak memaksa keinginannya pada Vira. Biarlah mereka saja yang memutuskan bagaimana kelanjutan hubungan itu seterusnya. Dia dan sang istri hanya bisa mendukung sepupu dan asistennya.
"Segera selesaikan urusanmu dengan Rio, mau seperti apa nantinya dalam proses pengenalan karena lusa Papa harus kembali dan kamu juga harus ikut. Papa nggak mau ninggalin kamu di sini. Bukannya Papa tidak percaya, hanya saja di sini ada pria yang kamu mengharapkan jadi, Papa takut kamu nanti melakukan kesalahan. Setan sekarang semua sangat ganas-ganas," ujar Edwin.
"Papa apaan sih! Aku juga tidak mungkin melakukan hal di luar batas. Aku masih bisa menjaga diri," sahut Vira yang tidak suka mendengar ucapan papanya.
"Iya, Papa tahu. Sebagai orang tua Papa hanya ingin yang terbaik untuk kamu. Sudah, sebaiknya kamu turuti saja apa yang Papa katakan."
Akhirnya Vira pun mengangguk, dia tidak ingin berdebat dengan papanya yang pasti dirinya akan kalah. Nanti gadis itu akan bicara dengan Rio, entah asisten itu bersedia atau tidak jika mereka melakukan pendekatan dari jarak jauh. Meskipun Rio bukanlah pria yang dia harapkan, tetapi setelah memutuskan untuk menjalani perkenalan, dirinya harus siap untuk kemungkinan apa pun.
__ADS_1
Setelah sarapan Adisti mengajak Vira berbelanja karena kebutuhan banyak yang sudah habis. Tadinya dia ingin mengajak Yasa, tetapi pria itu malah tidur di kamar. Mungkin lelah karena pesta seharian kemarin, padahal dirinya juga sama. Namun, wanita itu masih bisa menahannya.
"Bagaimana pernikahan kamu dengan Yasa? Apa ada perbedaan dengan pernikahanmu yang dulu?" tanya Vira saat sedang dalam perjalanan.
"Kalau itu aku belum bisa menilainya. Kamu 'kan tahu sendiri baru kemarin aku menikah, mana bisa menyimpulkan begitu saja. Aku hanya berharap Yasa bisa menjadi imam yang baik. Aku tidak ingin kejadian di pernikahanku dulu terjadi di pernikahanku yang sekarang. Aku juga ingin bahagia."
Vira mengangguk dan menatap ke arah jendela. Dia memikirkan masa depannya, akankah dirinya dan Rio akan berjodoh? Jika memang mereka nanti akan menikah, apakah pernikahan mereka akan langgeng atau mungkin berakhir di persidangan. Tidak ada yang tahu masa depan, tetapi melihat bagaimana karakter Rio rasanya gadis itu merasa pesimis.
Apakah mungkin pria itu bisa membahagiakannya dan memberi kasih sayang? Jangankan untuk bertegur sapa, untuk sedikit tersenyum saja rasanya begitu mahal, sedangkan dirinya yang sudah terbiasa cerewet dan suka ingin tahu apa pun yang terjadi, merasa tidak percaya diri. Mereka adalah dua karakter yang berbeda sekali, apakah mungkin bisa disatukan?
"Kamu lagi mikirin apa, Vir? Apa kamu lagi ada masalah? Atau ada sesuatu yang mengganggumu? Ceritakan saja, barangkali aku bisa membantu. Itu pun kalau kamu mau berbagi cerita."
Vira menoleh ke arah sepupunya dan berkata, "Aku ingin bertanya padamu dan aku harap kamu mau menjawabnya dengan jujur. Bagaimana menurutmu tentang Rio? Jawab sebagai seorang wanita, bukan sebagai orang yang menganggap Rio seperti saudara."
Adisti berpikir sejenak dan menjawab, "Sebelumnya aku sudah pernah mengatakan, kalau aku tidak begitu dekat dengan Rio, tapi melihat karakter orangnya sepertinya dia orang baik. Memang dia terlihat begitu dingin, tapi cobalah perhatikan baik-baik karakter dan hatinya. Memang apa yang membuatmu ragu padanya? Bukankah sebelumnya kamu ada perasaan padanya?"
"Entahlah, tiba-tiba aku merasa ragu saat melihat sikapnya yang dingin dan kaku saat berbicara membuatku tidak percaya, apakah nantinya dalam rumah tangga dia bisa bersikap hangat pada istri dan anaknya, disaat sekarang saja dia bersikap begitu dingin. Aku takut nantinya akan berakhir di meja hijau."
__ADS_1
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, kita belum sepenuhnya mengenal Rio. Bukankah papamu orang yang hebat, pasti dia juga lebih dulu mencari tahu tentang asisten Rio. Kenapa tidak kamu tanyakan saja padanya, apa saja yang sudah dia ketahui tentang Rio. Sedikit banyaknya pasti adalah informasi yang dikumpulkan anak buah Om Edwin. Secara mereka itu orang-orang hebat."
Vira mengangguk, apa yang dikatakan oleh Adisti memang benar, hanya saja dirinya sampai saat ini belum bertanya apa pun pada papanya. Mungkin setelah ini baru dia akan berbicara dengan papanya dulu, sebelum nanti malam dia akan bertemu dengan Rio untuk membicarakan kelanjutan perkenalan mereka.
Begitu sampai di supermarket yang dituju, keduanya memilih beberapa kebutuhan yang sudah dicatat oleh Adisti. Sesekali mereka bercanda, selalu ada bahan yang menyenangkan untuk dibahas. Adisti juga menggoda sepupunya, kalau Vira nanti harus terbiasa berbelanja seperti ini karena nanti sebagai seorang istri harus menyiapkan keperluan sang suami.
"Kalau masalah beli kebutuhan bulanan seperti ini gampang. Setiap sebulan sekali juga aku selalu berbelanja untuk kebutuhanku dan papa, tidak perlu membiasakan diri karena memang sudah biasa." sahut Vira sambil melihat-lihat produk yang tertata di rak.
"Ya ... baguslah kalau begitu jadi, nanti tinggal menambahkan sedikit daftar saja untuk kebutuhan suamimu."
"Ngomong-ngomong soal belanja, aku penasaran kamu per bulan dikasih uang belanja berapa sama Yasa?" tanya Vira yang sudah mendekatkan tubuhnya ke Adisti.
"Kenapa kamu jadi kepo? Jangan bilang kalau kamu nanti juga ingin meminta nilai yang sama pada Rio? Ingatlah, rezeki orang tidak sama. Jangan menekan suamimu, berapa pun yang dikasih kamu harus menerimanya dengan ikhlas. Insyaallah nanti rezekinya akan berkah dan semakin bertambah. Siapa tahu uang belanja dari Rio lebih besar."
"Aku 'kan cuma ingin bertanya sama kamu, kenapa jadi bahas tentang aku? Kalau kamu nggak mau jawab juga nggak apa-apa, nggak usah bawa-bawa aku," sahut Vira cemberut.
Dia hanya penasaran berapa uang bulanan yang diterima Adisti. Mungkinkah sama dengan gajinya selama bekerja di perusahaan atau lebih banyak karena Yasa sendiri seorang pemilik perusahaan.
__ADS_1