Janji Yang Kau Ingkari

Janji Yang Kau Ingkari
82. Yasa pulang


__ADS_3

Mama Lusi begitu marah saat bertemu dengan Arsylla. Tadi dia meminta izin pada petugas untuk bertemu dengan teman Bryan yang ditangkap bersama. Ternyata itu memang benar Arsylla. Ingin sekali Mama Lusi menghajarnya hingga babak belur. Namun, petugas lebih dulu mencegah dan meminta Mama Lusi untuk meninggalkan kantor polisi.


Wanita itu pun pergi dengan perasaan kesal. Saat ini yang dituju hanyalah satu tempat yaitu Adisti. Semua ini juga karena mantan menantunya itu. Dia harus berbicara dengan Adisti agar mau membebaskan Bryan. Mama Lusi yakin dalam hati mantan menantunya masih mencintai Bryan. Nanti dengan sedikit bujuk rayu pasti Adisti akan luluh.


Mama Lusi menaiki taksi online menuju butik milik Adisti. Namun, sayang begitu sampai di sana mantan menantunya tidak ada. Para pegawai di sana juga tidak ada yang tahu ke mana atasannya pergi. Mama Lusi marah-marah pada semua orang hingga satpam mengamankannya. Wanita itu pun pergi ke rumah Adisti, tetapi di sana juga sama tidak ada karena tidak ada tempat yang dituju lagi, dia segera pulang.


Mama Lusi juga perlu berbicara dengan Sahna mengenai apa yang dikatakan oleh menantunya tadi. Apa menantunya benar pergi dari kehidupan putranya atau tidak. Jika memutuskan menyerah dan berpisah, Mama Lusi garap Sahna tidak menuntut apa pun pada Bryan, sudah cukup penderitaan putranya kini.


***


Yasa tersenyum senang setelah mendapat laporan dari anak buahnya mengenai apa yang terjadi pada Bryan dan Arsylla. Dia tidak mau kehilangan satu berita pun tentang kedua orang itu, sampai mereka benar-benar dihukum dengan setimpal.


"Kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi sampai membuat kamu senang begitu?" tanya Adisti sambil memperhatikan tunangannya.


Mereka baru sampai di rumah Yasa. Pria itu memaksa untuk pulang dari rumah sakit. Adisti pun sudah tidak bisa membujuk, bahkan sekarang di rumahnya juga hanya ada bibi. Kedua orang tuanya pergi menghadiri pesta rekan bisnisnya.


"Tentu saja aku akan selalu senang jika kamu berada di sisiku," sahut Yasa sambil tersenyum ke arah sang kekasih.


"Kamu tadi senyum bukan karena itu, pasti ada hal lain. Cepat katakan apa yang sebenarnya terjadi!"


"Tidak ada, semuanya masih biasa saja. Aku hanya senang karena orang-orang yang ingin membebaskan Bryan dan Arsylla sudah tidak ada. Itu akan mempermudah memberi hukuman untuk mereka. Kali ini aku tidak akan memaafkan mereka dengan alasan apa pun dan aku harap kamu juga tidak akan pernah memintaku untuk melepaskan mereka. Terlepas dari keduanya pernah dekat dengan kamu."

__ADS_1


"Mana mungkin aku memintamu untuk melepaskan mereka. Mereka yang sudah membuat masalah sendiri, biarlah mereka menanggung akibatnya juga. Mungkin ini juga pelajaran bagi mereka kedepannya, kalau kita membebaskannya mungkin nanti mereka akan kembali menggigit. Sudah untung kemarin aku tidak melaporkan mereka, tapi sekarang mereka malah semakin menjadi."


"Itulah alasanku kenapa sampai sejauh ini. Aku tidak ingin ada lagi yang disakiti oleh mereka, apalagi orang yang aku cintai. Melihatmu kemarin yang dihadang oleh preman saja sudah membuat sulit bernapas, apa lagi jika sampai terulang kembali. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika kamu sampai terluka."


"Sudah, jangan mengingat lagi. Yang penting sekarang mereka sudah mendapat balasannya. Mengenai rencana pernikahan kita bagaimana? Kita belum mencari WO untuk acara nanti, kamu keburu masuk rumah sakit. Sekarang bagaimana?"


"Aku serahkan semuanya sama kamu mau pakai WO siapa dan mau acaranya bagaimana. Aku ikuti rencana kamu saja, biasanya wanita punya banyak rencana."


Adisti menatap Yasa dan bertanya, "Memang kamu tidak memiliki rencana acaranya mau seperti apa? Kenapa semuanya diserahkan padaku? Apa kamu tidak akan menyesal nantinya kalau acaranya tidak sesuai dengan keinginanmu?"


"Itu tidak akan terjadi. Bagiku asalkan pengantin wanitanya kamu, semua tidak masalah mau acara seperti apa. Aku juga percaya padamu, rencanamu pasti bagus."


"Ada apa? Kenapa kamu menggeleng? Apa ada sesuatu yang tidak kamu sukai?" tanya Yasa sambil memperhatikan wanita di sampingnya.


"Oh ... tidak, hanya sedang memikirkan rencana pernikahan mau seperti apa nanti, tapi tiba-tiba entah kenapa malah terbayang bayangan yang tidak mengenakkan," jawab Adisti dengan memamerkan deretan giginya.


"Apa kamu teringat pernikahanmu yang dulu?" tanya Yasa lagi membuat wanita itu menggelengkan kepala dengan cepat karena memang dia sama sekali tidak mengingat apa pun tentang masa lalunya.


Adisti percaya bahwa Yasa akan memberikan kehidupan yang baru dan tidak akan menghianatinya. Akan tetapi, bagaimana dia menjelaskan pada pria itu? Semuanya terasa serba salah.


"Bukan. Aku hanya pernah mendengar cerita tentang rencana pernikahan temanku saja, ini tidak ada hubungannya dengan masa laluku. Tidak usah membahasnya lagi. Sekarang hanya kita berdua, oke? Setelah ini aku tidak ingin ada pembahasan lagi soal Bryan ataupun keluarganya. Tidak apa-apa, kan? Aku bosan mendengar cerita tentang mereka."

__ADS_1


Seketika Yasa tersenyum dan mengangguk. Dia juga tidak keberatan, malah merasa sangat senang. Jika sang istri tidak ingin membahasnya lagi itu artinya Adisti sudah benar-benar melupakan perasaannya pada mantan suaminya itu. Yasa merasa lega karena kini di hati wanita itu hanya ada dirinya. Ke depannya dia yang akan selalu mengisi dan tidak akan membiarkan orang lain masuk ke dalam hati tunangannya.


Tidak berapa lama kedua orang tua Yasa pulang. Mereka terkejut mendapati sang putra sudah berada di rumah bersama Adisti, padahal keduanya berencana akan pergi ke rumah sakit setelah ini.


"Yasa, kenapa kamu bisa berada di rumah? Apa kamu sudah sembuh?" tanya Mama Riana yang segera mendekati sang putra dan duduk di samping.


"Aku sudah baik-baik saja, Ma, makanya aku sudah boleh pulang. Lagian lama-lama di rumah sakit malah akan semakin membuatku bertambah parah bukannya sembuh."


"Halah! Bukannya kamu senang karena ada yang jagain," cibir Mama Riana dengan melirik sinis putranya.


"Kalau masalah itu beda lagi, Ma."


"Modus."


"Kok modus! Aku itu bicara apa adanya, kenapa malah dibilang modus? Lagian aku harus segera pulang dari rumah sakit untuk menyiapkan pernikahanku. Aku tidak mau ada sesuatu yang kurang dalam pernikahanku nanti. Masa seorang pimpinan perusahaan, tapi pestanya malah kacau balau, kan malu-maluin."


"Kamu ini sekarang kenapa malah jadi banyak alasan dan cerewet sekali? Padahal biasanya diajak bicara saja menjawabnya irit, kenapa sekarang malah jadi berubah? Jangan-jangan saat kemarin di rumah sakit kamu kerasukan? Mama jadi takut sama kamu." Mama Riana menatap ke arah sang putra sambil begidik ngeri, membuat Yasa kesal.


"Mama ini apa-apaan sih! Siapa juga yang kerasukan. Aku itu lagi mempersiapkan acara pernikahan kenapa malah dibilang kerasukan."


Papa Doni dan Adisti hanya bisa terkekeh mendengar perdebatan antara mama dan anak itu. Terasa seperti membuat hiburan tersendiri untuk mereka.

__ADS_1


__ADS_2