Janji Yang Kau Ingkari

Janji Yang Kau Ingkari
76. Bryan menyamar


__ADS_3

Kabar mengenai acara lamaran yang dilakukan oleh Yasa dan Adisti, terdengar di telinga Bryan. Tentu saja Arsylla yang mengatakannya. Pria itu begitu marah karena mantan istrinya itu kembali dengan Yasa. Padahal dia sedang berusaha untuk bisa kembali dengan Adisti, tetapi Bryan tidak akan menyerah begitu saja.


Ini baru lamaran, mereka belum menikah jadi masih ada kesempatan bagi Bryan untuk kembali dengan Adisti. Lagi pula yang menikah saja bisa bercerai, apalagi mereka yang hanya bertunangan. Dia akan merencanakan sesuatu agar bisa kembali dengan mantan istrinya itu.


Bryan datang ke perusahaan Yasa pagi ini. Seperti yang diinstruksikan oleh Arsylla, pria itu pun diterima di sana sebagai office boy. Tentu saja dia tidak datang dengan identitas Bryan. Pria itu telah menyamar, tampilannya pun sudah berubah dengan memakai kumis dan juga kacamata. Rambutnya pun ditata dengan modal lain dan menggunakan nama Revan.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku sudah bekerja di sini seperti katamu," tanya Bryan pada Arsylla saat keduanya bertemu di tangga darurat.


"Baguslah! Sekarang kamu harus mencari cara agar orang yang biasanya membersihkan ruangan Yasa tidak bisa bekerja dan harus kamu yang menggantikannya."


"Kenapa harus aku? Malas sekali harus membersihkan ruangan pria itu," tolak Bryan dengan ketus. Dia ogah membersihkan ruangan pria yang sudah mengambil mantan istrinya.


"Diamlah! Ikuti saja permainanku."


Arsylla pun membisikkan sesuatu di telinga Bryan, seketika pria itu melebarkan matanya ragu untuk melanjutkan rencana ini, tapi dia sudah sampai sejauh ini mana mungkin menyerah begitu saja. Lagipula ini masih permulaan mana mungkin pergi begitu saja.


Arsylla memperhatikan ekspresi Bryan tang terlihat begitu terkejut dan dia tahu jika pria itu ingin menolak. "Kenapa? Apa kamu ragu? Mau menyerah? Kamu tidak akan menjadi apa-apa jika kamu terus berada di bawah mereka. Kamu harus melakukan sesuatu agar kamu bisa hebat dan Adisti bertekuk lutut di depanmu. Kalau kamu takut melakukan hal itu, selamanya kamu akan menjadi pecundang."


Bryan terlihat mengepalkan tangannya. Dia bukanlah pecundang, hanya saja melakukan sesuatu kecurangan pada orang yang begitu berpengaruh rasanya begitu menakutkan. Bryan juga tidak mengenal betul siapa Yasa . Namun, dia meyakini jika pria itu memiliki pengaruh yang kuat, hanya saja selama ini tidak diperlihatkan. Tawaran Arsylla juga sangat menggiurkan, rasanya sayang jika dilewatkan begitu saja.


"Baiklah, akan aku lakukan, tapi kamu harus pastikan jika apa yang aku lakukan tidak akan diketahui oleh siapa pun."

__ADS_1


Arsylla pun mengangguk, dia sangat percaya diri karena dia sangat tahu di dalam ruangan Yasa tidak ada CCTV jadi, apa pun yang akan dilakukan Bryan tidak akan ketahuan. Hanya tinggal bagaimana caranya agar saat Bryan masuk ke dalam ruangan Yasa, tidak terlihat oleh kamera CCTV yang ada di depan ruangan. Dia harus melakukannya dengan hati-hati.


Sore hari Lusi begitu terkejut mendapati seseorang yang tidur di sofa ruang tamunya. Wanita itu pun segera membangunkannya sambil berteriak, "Siapa kamu! Berani-beraninya tidur di rumah orang! Masuk tanpa permisi!"


Bryan yang tengah terlelap pun terbangun. "Mama ini apa-apaan sih! Aku mau istirahat sebentar saja tidak bisa."


Mama Lusi yang mendengar suara putranya pun terkejut dan bertanya, "Kamu siapa? Kenapa panggil aku Mama? Dan kenapa suara kamu mirip Bryan?"


"Aku memang Bryan, masa sama anak sendiri nggak kenal."


"Mana mungkin! Anak saya itu tampan, tidak berkumis seperti kamu, apalagi sampai pakai kacamata"


"Bryan! Kenapa kamu pakai kumis segala? Memang kamu habis ngapain?"


"Aku lagi nyamar, Ma. Sekarang aku kerja di perusahaannya Yasa."


"Apa ini ada hubungannya dengan rencana Arsylla kemarin? Kamu tidak melakukan sesuatu kejahatan, kan? Mama nggak mau kalau sampai kamu terlibat dengan polisi. Kamu harus ingat kalau apa pun yang berhubungan dengan Arsylla itu berbahaya bahkan bisa menghancurkan hidupmu jadi, kamu harus hati-hati. Kamu harus bisa lebih pintar daripada dia, jangan sampai kamu nantinya yang akan dijadikan kambing hitam."


"Mama tenang saja, aku sudah mengantisipasi segala kemungkinannya."


Bryan menyeringai, kemudian pergi ke kamarnya. Di sana terlihat Sahna sedang bermain ponsel di atas ranjang. Pria itu pun tampak tidak peduli dan memilih untuk membersihkan diri di kamar mandi. Sampai Bryan selesai pun sang istri masih duduk di tempatnya dan tidak beranjak sedikit pun. Hal tersebut tentu semakin membuat Bryan geram.

__ADS_1


"Kamu masih di sini? Dari tadi di sini apa kamu tidak menyiapkan makanan? Aku sudah sangat lapar, seharian bekerja. Sana siapkan makanan!" perintah Bryan dengan wajah bengisnya. Namun, wanita itu tidak takut sama sekali.


Sahna pun menadahkan tangannya ke arah sang suami. "Uangnya mana? Kalau kamu makan, beri aku uang akan aku belikan di depan."


"Di lemari pendingin 'kan juga ada makanan, kamu bisa mengolahnya di sana."


"Kamu 'kan tahu aku paling malas buat masak. Apalagi aku harus memasak makanan untuk mamamu. Ogah sekali! Dia masih kuat untuk melakukan pekerjaan rumah, kenapa harus menyuruh aku," sahut Sahna dengan sinis.


"Karena kamu menantu di rumah ini dan kamu harusnya membantu mamaku, bukan bersantai seperti ini! Dulu Adisti yang bekerja memiliki banyak uang saja mau melakukan pekerjaan rumah, tapi kamu yang tidak bekerja sama sekali malah enak-enakan duduk santai saja di rumah tidak melakukan apa pun."


Sahna yang mendengar sang suami membanding-bandingkan dirinya dengan Adisti pun terlihat begitu murka. Dia segera berdiri di depan sang suami dengan tatapan tajam. Dulu Bryan sendiri yang menjanjikan kemewahan, itulah kenapa dirinya mau menikah dengan pria ini, tetapi sekarang semuanya berbanding terbalik, bahkan keluarganya lebih mampu daripada suaminya.


"Ingat, ya! Jangan pernah membanding-bandingkan aku dengan Adisti karena kami berbeda. Mantan istrimu itu tidak bisa memberikan kamu anak, ingat itu! Dia itu hanya wanita mandul, berbeda denganku yang seorang wanita sehat."


"Siapa bilang? Dulu bahkan kami pernah memeriksakan kesehatan kami berdua dan kami sama-sama sehat. Memang Tuhan belum mengirim anak di antara kami. Kamu jangan seenaknya saja berbicara."


"Buat apa juga kalian periksa segala? Kalau pada akhirnya kamu menikahi denganku juga. Itu karena kamu ingin kehadiran seorang anak, yang berarti kamu juga meyakini jika istrimu itu mandul, tidak bisa memberi anak. Kalau kamu percaya pada istrimu, sampai saat ini juga kalian pasti masih selalu bersama. Buktinya sekarang apa? Kamu di sini bersama denganku, di rumah yang sama sekali tidak nyaman," cibir Sahna dengan pandangan meremehkan.


"Kamu jangan seenaknya saja menghina rumah kedua orang tuaku. Hanya di tempat ini kita bisa berteduh. Kalau kamu tidak suka, kamu juga bisa kembali ke rumah orang tuamu, aku sama sekali tidak akan melarangnya."


Sahna mengepalkan tangannya. Dalam hati dia berkata, 'Aku pasti akan kembali ke rumah orang tuaku, tapi nanti setelah anak ini lahir dan menjadi tanggung jawabmu. Aku tidak ingin menambah beban kedua orang tuaku dengan kehadiran anak ini. Meskipun dia anakku, tapi kamu lebih memiliki tanggung jawab atasnya dan kamu juga yang menginginkannya.'

__ADS_1


__ADS_2