
"Mereka sudah ditangkap, Tuan. Saya juga sudah menyerahkan bukti pada pihak yang berwajib, biar mereka yang segera mengurus semuanya," ucap Rio pada atasannya yang masih berada di rumah sakit. Sekarang di ruangan itu hanya tinggal mereka berdua.
"Kamu sudah mengcopy semua bukti, kan? Aku tidak ingin ada kesalahan sedikit pun nantinya malah akan membuat mereka lepas," sahut Yasa dengan pandangan lurus ke depan.
"Tentu saja, Tuan. Di zaman sekarang kita tidak bisa percaya pada siapa pun jadi, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya."
"Bagus. Kalau begitu sekarang pastikan jika Arsylla dan Bryan tidak akan bebas dengan mudah. Tutup semua akses yang memungkinkan orang luar memberi bantuan, termasuk juga seorang pengacara."
"Baik, Tuan. Akan saya laksanakan."
"Kamu boleh pergi."
"Em ... mengenai Nona Adisti bagaimana, Tuan? Dari kemarin beliau menghubungi saya terus dan menanyakan mengenai pelaku. Apa saya harus menceritakan padanya?" tanya Rio ragu.
"Tidak perlu, biarlah itu menjadi urusanku."
"Baiklah, Tuan. Kalau begitu saya permisi." Rio pun segera pergi meninggalkan atasannya yang masih berada di ruang rawat.
Yasa hanya bisa mendengar cerita dari Rio mengenai apa yang terjadi di perusahaannya. Ingin sekali pria itu datang melihat bagaimana keadaan Arsylla dan Bryan saat ini. Ingin melihat kekalahan mereka secara langsung, sekaligus menegaskan bahwa orang-orang jahat seperti mereka pasti akan kalah, hanya tinggal menunggu waktu yang tepat.
Pintu ruangan terbuka, tampak Adisti masuk ke dalam ruangan dengan tatapan tajam ke arah tunangannya. Yasa yang heran pun hanya diam memperhatikan tanpa bertanya lebih dulu. Sepertinya ada sesuatu hingga membuat tunangannya itu marah.
"Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan?" tanya Adisti tanpa berbasa-basi.
"Sembunyikan apa? Aku tidak menyembunyikan apa-apa," jawab Yasa dengan wajah bingungnya.
"Jangan berbohong! Kamu sudah mengetahui rencana yang akan dilakukan orang-orang itu, tapi kenapa harus menunggu ada korban seperti ini? Lihat kamu keadaannya sampai seperti ini, begitu juga dengan Alex."
__ADS_1
Yasa akhirnya mengerti apa yang dimaksud Adisti. Dia pun mencoba membela diri. "Aku juga tidak tahu akan sampai seperti ini jadinya. Padahal aku sudah mengantisipasinya."
"Sekarang jelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Aku tidak ingin kamu menyembunyikan apa pun lagi dariku. Aku paling tidak suka dengan kebohongan."
Akhirnya Yasa pun menjelaskan jika dia mengetahui rencana Arsylla yang ingin mengambil harta miliknya. Hal tersebut diketahui dari CCTV yang berada di ruangan wanita itu tanpa disadari pemilik ruangan itu.
Arsylla menginginkan perusahaan, selain itu juga rumah, mobil dan aset lainnya karena itu dia secara diam-diam belajar memalsukan tanda tangan Yasa. Arsylla mengirim Bryan sebagai office boy untuk mengambil surat-surat yang ada di laci meja kantor Yasa. Dari mana Arsylla tahu, tentu saja saat dirinya yang sedang menguping pembicaraan Yasa dan Rio.
Tanpa diketahui wanita itu, semua memang disengaja untuk menjebaknya padahal surat itu sebenarnya tidak ada di sana. Yasa juga memasang CCTV secara tersembunyi, tapi berbicara pada asistennya bahwa dia tidak suka ada CCTV di ruangannya, yang saat itu Yasa tahu jika Arsylla sedang menguping pembicaraan mereka. Mengenai Adisti yang dihadang di jalan, sebenarnya Yasa tidak tahu.
Tadinya pria itu pikir jika dirinya yang akan dihadang agar Yasa tidak datang ke perusahaan, supaya Bryan lebih leluasa bergerak di ruangan pemimpin perusahaan Namun, ternyata Arsylla malah menggunakan Adisti yang merupakan kelemahannya. Untung saja dia bergerak cepat jadi semua bukti bisa terkumpul dan bisa menangkap para pengkhianat itu.
"Begitulah, Dis. Aku juga tidak menyangka kalau kamu juga akan jadi korban. Kalau tahu, aku pasti sudah mengirim orang-orang untuk melindungimu."
"Tapi lain kali jangan bertindak seperti ini. Kamu membuatku khawatir, bagaimana jika terjadi sesuatu padamu?"
"Untungnya ada Rio, kalau tidak pasti secara langsung kamu sudah jatuh miskin dan tidak memiliki apa-apa."
"Kan masih ada kamu jadi, aku masih bisa bergantung padamu," sahut Yasa dengan nada menggoda.
"Enak saja, ogah! Kalau kamu jatuh miskin, aku lebih baik cari pria yang lebih kaya saja," sahut Adisti yang sengaja balik menggoda tunangannya.
"Kok kamu gitu sih! Aku 'kan sudah mempertaruhkan hidupku untuk kamu."
"Itu 'kan salah kamu sendiri kenapa harus bermain-main dengan Arsylla."
"Baiklah, kalau begitu aku akan bekerja lebih keras lagi supaya aku tidak jatuh miskin dan kamu tidak akan memiliki alasan untuk meninggalkanku," ujar Yasa seketika membuat Adisti tertawa karena candaannya dianggap serius.
__ADS_1
"Sudahlah, tidak usah membahas hal itu. Sekarang yang paling penting kamu harus segera sehat dan urus kembali itu perusahaan. Jangan sampai ada orang lain lagi yang ingin merebutnya."
"Tenang saja. Jika kamu yang selalu merawatku seperti ini, pasti aku akan segera sembuh."
Adisti mengambil buah dan mengupaskannya untuk Yasa. "Aku juga tidak bisa menjagamu setiap saat. Aku harus pergi ke butik, dari kemarin aku tidak ke sana."
"Sekarang kamu mau pergi ke sana? Sama siapa? Panggil saja Rio, aku tidak ingin kamu ke mana-mana sendiri, takut ada orang lain yang mengincar kamu. Alex juga masih dirawat, mudah-mudahan saja dia segera pulih dan bisa menjagamu lagi."
Adisti tiba-tiba teringat dengan bodyguard-nya itu. Dia pun menceritakannya pada Yasa. "Tadi aku dari ruangan Alex. Istrinya bilang ingin membawa Alex pulang dan dirawat di rumah saja. Awalnya aku nggak bolehin, tapi kata dokter nggak apa-apa, cuma butuh rawat jalan jadi ya terpaksa hari ini dia pulang."
"Sudah pulang? Kalau dia pulang kenapa aku belum? Aku juga harus minta pulang lah kalau begitu."
"Ih, kamu ini malah ikut-ikutan. Lagian istrinya itu minta pulang karena kasihan anak-anak yang di rumah nggak ada yang jaga, dititipin sama tetangga juga nggak enak, takut malah ngerepotin orang lain. Padahal dititipin tetangga juga aku bayarin mereka," gerutu Adisti yang sebenarnya masih khawatir dengan keadaan Alex.
"Sudahlah. Mungkin Alex dan istrinya juga nggak nyaman di rumah sakit. Meskipun ruangannya bagus, tapi kalau tempatnya Rumah sakit pasti tidak akan nyaman."
"Iya, aku hanya berharap tidak ada infeksi yang terjadi pada Alex. Bagaimanapun juga aku bertanggung jawab atas kesehatannya karena melindungiku dia sampai seperti ini," ucap Adisti sendu, sejak kemarin rasa bersalah itu masih terus membayanginya. Dia berusaha menepis, tetapi tetap tidak bisa.
"Tapi itu sudah menjadi tugasnya sebagai seorang bodyguard dan itu sudah konsekuensinya. Kamu tidak usah merasa bersalah. Alex juga tidak pernah menyalahkanmu, bahkan mungkin sebelum bekerja denganmu dia pernah mengalami hal yang lebih daripada yang terjadi kemarin," sahut Yasa yang ingin menghibur tunangannya.
"Apa pun yang terjadi semoga dia baik-baik saja. Oh ya! Mengenai Arsylla dan Bryan bagaimana? Apa mereka dipenjara saat ini?"
"Iya, karena memang bukti yang aku tunjukkan kuat jadi tidak ada alasan untuk membebaskan mereka."
Adisti memicingkan mata menatap tunangannya iyu. "Yakin tidak ada alasan? Atau memang kamu yang sengaja menutup semua jalan?"
"Kamu lebih tahu aku bagaimana jadi, tidak perlu aku jelaskan lagi, kan?"
__ADS_1
Adisti mendengus. "Biasanya aku akan sangat marah, tapi untuk kali ini aku setuju denganmu." Keduanya pun tertawa bersama.