Janji Yang Kau Ingkari

Janji Yang Kau Ingkari
40. Usaha Yasa


__ADS_3

"Aku tahu, Om, karena itu aku ingin berjuang untuk mendapatkan cintanya lagi. Memang pasti akan sulit, tapi tidak ada salahnya kalau aku berusaha," ujar Yasa.


"Bagaimana kalau saat kamu sudah berusaha keras, tapi semuanya sia-sia? Adisti sama sekali tidak memberimu kesempatan," tanya Gunawan dengan menatap intens ke arah Yasa.


"Aku akan tetap berjuang sampai aku sudah berada di titik lelah. Kalau itu sudah terjadi maka aku akan menyerah. Mungkin memang jodohku dan Adisti hanya sampai di sini saja, tapi selama aku masih kuat dan bisa menghadapi semuanya aku akan tetap berusaha."


"Apa pun itu lakukan yang menurutmu benar. Aku harap kamu tidak akan pernah menyesal saat kamu tidak bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan."


"Aku tidak akan menyesal, setidaknya aku sudah berusaha. Kalau pun hasilnya tidak sesuai memang itu sudah takdirku."


Gunawan menganggukkan kepala sambil menatap lawan bicaranya. "Semoga apa yang kamu ucapkan itu bisa sesuai dengan apa yang terjadi nanti."


"Pak Gunawan, ada sesuatu nggak yang bisa membuat aku bisa meluluhkan hatinya nanti."


"Maksudmu?"


"Ya ... kali aja Anda tahu kelemahan dia, aku 'kan jadi bisa lebih mudah untuk mendapatkan hatinya."

__ADS_1


"Aku tidak begitu tahu tentang kesehariannya. Aku juga tidak tahu apa yang dia sukai dan tidak disukai jadi, aku sama sekali tidak bisa membantu. Lagi pula sejauh aku mengenal Adisti, dia akan baik kepada siapa pun yang juga baik kepadanya. Dia juga akan menghargai siapa pun yang juga menghargainya."


Apa yang dikatakan Gunawan memang benar, Yasa hanya ingin tahu apa ada sesuatu yang bisa membuatnya lebih mudah mengambil hatinya. Akan tetapi, sepertinya semua jalan tetap sama, tidak ada bedanya dengan dulu. Pria itu pun tidak bertanya lagi mengenai Adisti, lagi pula kalaupun Gunawan tahu juga tidak akan menceritakan apa pun padanya. Apalagi sebelumnya Adisti juga sudah memberi pesan jika dirinya melarang Gunawan untuk memberikan nomor ponselnya kepada siapa pun. Bukankah itu termasuk padanya.


Mereka pun membicarakan beberapa hal tentang perusahaan. Gunawan menjawab dengan apa adanya, Yasa juga berhak tahu tentang perusahaan itu karena dia memiliki saham di sana. Setelah ini harus terbiasa saling berinteraksi.


***


"Dis, makan siang yuk!" ajak Vira pada sepupunya itu. Namun, ternyata Adisti justru sedang melamun dan tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Vira, hingga gadis itu kesal dan menepuk bahu Adisti cukup kuat dan membuatnya terkejut.


"Udah telat! Aku dari tadi ketuk pintu, sudah ucap salam bahkan bertanya sama kamu, tapi kamunya aja yang melamun jadi nggak tahu kalau ada orang masuk. Kalau ada pencuri pasti sudah habis barang-barang kamu, habisnya yang punya rumah bengong. Kamu lagi mikirin apa, sih? Sejak pulang dari perusahaan Om Gunawan kamu sama sekali nggak keluar dari ruangan. Aku datang kamu malah melamun. Apa ada masalah?" tanya Vira membuat Adisti terdiam. Sepertinya sang sepupu juga perlu tahu apa yang terjadi tadi.


"Kenapa diam? Apa ini mengenai rahasia perusahaan?"


"Bukan. Tadi aku ketemu dia di perusahaan Om Gunawan. Dia juga salah satu pemilik saham di sana," ujar Adisti pelan, wajahnya penuh dengan kegusaran.


"Dia? Dia siapa?" tanya Adisti dengan wajah bingungnya.

__ADS_1


"Yasa. Siapa lagi."


Sejenak Vira tercengang, begitu terkejut mendengar nama yang sudah lama tidak dia temui orangnya. "Jadi Yasa yang sudah memporak-porandakan perasaan kamu?"


"Apaan, sih! Bukan begitu maksudku ... ah, kamu mah nggak ngerti."


"Terus apa maksud kamu? Aku tidak akan mengerti kalau kamu nggak bilang."


"Pokoknya begitulah."


"Ya ampun, Dis, begitulah gimana sih! Aku juga nggak ngerti, udah akui saja kalau jauh di lubuk hatimu yang paling dalam itu masih tersimpan namanya. Bohong juga nggak bikin kamu bahagia, tanyakan pada hati kamu yang paling dalam, apakah jantung itu masih berdetak saat bertatapan dengan Yasa? Apakah saat bertemu dengannya sudah tidak ada lagi rasa yang seperti dahulu lagi? Tanyakan baik-baik jangan sampai kamu menyesal saat semuanya sudah hilang di depan kamu."


Seketika pandangan Adisti menatap tajam ke arah Vira. Entahlah apa yang dikatakan sepupunya itu ataupun benar atau tidak yang jelas saat ini dia benar-benar tidak ingin bertemu dengan Yasa. Ada perasaan yang tidak bisa digambarkan antara benci dan juga rindu menjadi satu.


Adisti akui jika dirinya merindukan mantan kekasihnya. Hanya saja saat ini dia tidak ingin pikirannya terbagi, dia hanya ingin fokus pada proses perceraiannya dengan Bryan. Meskipun wanita tidak ikut dalam proses perceraian tetap saja dia ingin fokus agar semuanya berjalan lancar.


"Sudah, tidak usah terlalu dipikirkan, sebaiknya kita makan siang dulu. Kamu harus kuat menghadapi masalah yang akan datang."

__ADS_1


__ADS_2