Janji Yang Kau Ingkari

Janji Yang Kau Ingkari
98. Rencana pindah rumah


__ADS_3

"Sayang, boleh aku tahu kamu dari mana dapat foto itu?" tanya Yasa yang tiba-tiba teringat dengan foto itu.


"Oh iya, Mas, aku lupa tidak menceritakan mengenai kedatangan Haris ke rumah," jawab Adisti.


"Haris?" ulang Yasa.


"Iya, Haris kemarin datang ke rumah." Adisti pun menceritakan apa yang terjadi kemarin pada sang suami.


Yasa begitu geram, ternyata sepupunya itu tidak ada jeranya sama sekali. Pria itu jadi berpikir apakah mungkin Irene dan Haris bekerja sama untuk menghancurkan rumah tangganya, tetapi dari mana mereka saling kenal satu sama lain. Namun, sepupunya itu bukanlah tipe orang yang ikut campur dalam masalah pekerjaan. Harus itu sangat pemalas, tetapi apa pun bisa saja terjadi.


Mulai sekarang dia harus lebih berhati-hati agar tidak kecurangan lagi. Padahal sebelumnya Yasa sudah memberi peringatan pada Haris untuk tidak mengganggu kehidupannya, tapi sepupunya itu tidak jera juga dan masih saja mengganggu kehidupannya dan Adisti.


"Apa benar yang dikatakan Haris itu, kalau kamu sempat menyekap dia?"


"Iya, aku melakukan itu karena aku tidak ingin hari pernikahan kita dikacaukan olehnya. Untung saja saat itu aku menculik dan mengambil ponselnya jadi, aku membatalkan rencananya yang sudah dia susun. Aku mengirim pesan pada anak buahnya jika rencana di batalkan. Meskipun mereka sempat marah karena merasa dipermainkan, tapi karena aku memberi mereka kompensasi akhirnya tidak masalah. Justru mereka senang karena tidak harus bekerja sudah mendapatkan uang."


"Syukurlah kalau begitu. Apa mungkin Haris yang sengaja meninggalkan foto itu, ya, Mas? Tapi apa rencananya dan kenapa juga dia bisa tahu saat kamu bersama dengan wanita itu?" tanya Adisti dengan wajah bingungnya.


"Itu juga yang tidak aku tahu, apa mungkin Irene bekerja sama dengan Haris untuk menghancurkan rumah tangga kita? Yah, apa pun bisa saja terjadi. Aku juga tidak mengenal siapa itu Irene. Mungkin setelah ini kita berdua harus hati-hati, entah rencana apa lagi yang akan dilakukan orang-orang yang tidak menyukai kita. Aku harap jika nanti ada fitnah kembali, kamu lebih percaya padaku."

__ADS_1


Adisti mengangguk sambil tersenyum. Kemarin dia telah salah curiga pada sang suami, kali ini tidak akan mudah percaya begitu saja dengan ucapan orang lain. Akan mencari tahu lebih dulu apa yang sebenarnya terjadi. Wanita itu tidak ingin mengulang kesalahan yang sama.


Sore hari Yasa dan Adisti pulang bersama. Naina juga ikut satu mobil dengan mereka karena Alex sudah lebih dulu pulang atas permintaan Yasa. Tadinya gadis itu menolak karena merasa tidak enak mengganggu kebersamaan atasannya, tetapi Adisti memaksa jadi, dia pun ikut saja.


"Nai, bagaimana pekerjaan Nadia setelah sekarang dia menjadi karyawan biasa? Dia tidak semena-mena terhadap temannya, kan?" tanya Adisti saat dalam perjalanan.


"Tidak, Bu. Selama ini Mbak Nadia baik pada semua orang, bahkan sering membantu yang lain saat ada yang belum selesai dengan pekerjaannya."


Adisti tersenyum lega karena Nadia tidak berubah. Sebenarnya dia sangat menyesal atas keputusannya untuk menurunkan jabatan gadis itu, hanya saja Adisti tidak ingin Nadia melakukan sesuatu seenaknya dan membuat kesalahan, gadis itu harus mendapat teguran yang sesuai. Apa yang dilakukan juga masih manusiawi. Kalau memang Nadia mau mencari pekerjaan di luar juga silakan dirinya tidak akan marah. Justru senang karena karyawannya mengembangkan potensinya.


"Kalau karyawan lain apa ada yang bermasalah?"


"Semua baik-baik saja, Bu. Hanya saja kemarin salah satu penjahit kita ada yang mau ambil cuti melahirkan. Kita mau ambil penjahit baru atau nunggu sampai masa cuti ibu itu habis dan bekerja lagi?"


"Iya, Bu. Akan saya lakukan."


Yasa hanya diam saja mendengar perbincangan sang istri dengan asistennya. Hingga akhirnya mobil pun masuk ke halaman rumah. Mereka masuk ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri.


"Sayang, kapan kita akan pindah ke rumahku? Kita sudah mulai bekerja, masing-masing sibuk sendiri kalau tidak mencari hari luang untuk pindahan, kita tidak akan bisa pindah," tanya Yasa begitu keduanya ada di kamar.

__ADS_1


"Kalau aku kapan saja bisa, tinggal menyesuaikan jadwal kamu saja."


"Nanti biar aku tanya Rio."


"Nanti sekalian kita adain acara doa bersama di rumah ya, Mas. Kita undang anak yatim dan mendoakan kita agar rumah tangga kita selalu di dalam lindungan Allah."


"Iya, terserah kamu saja. Aku serahkan semuanya sama kamu. Oh ya, mengenai kartu kredit yang aku berikan padamu kemarin, kenapa tidak digunakan lagi? Kamu cuma menggunakannya hanya saat mengurus pesta saja, setelah pesta selesai, sudah tidak ada pengeluaran lagi. Apa kamu belanja menggunakan uangmu sendiri?"


"Iya, Mas. Lagi pula aku juga masih punya uang. Semuanya juga sama saja, uangku ataupun uangmu tidak ada bedanya."


"Ya beda dong, Sayang. Aku 'kan di sini sekarang kepala rumah tangga, kamu adalah tanggung jawabku jadi, apa pun yang terjadi padamu harus aku yang menanggungnya. Pergunakan uang itu agar aku merasa kerja keras ku itu berarti. Kalau kamu yang mengeluarkan uang, apa gunanya aku setiap hari pulang pergi bekerja kalau uangnya tidak dipergunakan dengan baik."


"Iya, Mas. Nanti akan aku gunakan dengan sebaik-baiknya."


Adisti terharu dengan yang Yasa lakukan. Ada perasaan yang tidak bisa dia gambarkan. Dulu saat bersama dengan Bryan pasti mantan suaminya itu akan merasa senang jika uang miliknya tidak diurusi. Semuanya Bryan berikan kepada gundik dan keluarganya, sedangkan sekarang saat bersama dengan Yasa justru kebalikannya. Sang suami yang membiayai kehidupannya. Sungguh sangat berbanding terbalik.


"Kenapa melihatku seperti itu, Sayang? Apa ada yang salah dengan apa yang aku katakan tadi? Jika aku menyinggungmu, aku minta maaf, tapi sungguh aku tidak ada niat seperti itu. Aku hanya ingin menjadi suami bertanggung jawab saja, tidak ada maksud lain."


Adisti menggeleng pelan. Dia mengerti akan hal tersebut, juga tidak ingin menuntut terlalu banyak. "Iya, aku mengerti maksud kamu, Mas. Aku hanya merasa terharu saja. Dulu saat aku masih bersama dengan Bryan justru akulah yang menghidupinya. Padahal dia juga bekerja, tapi dia menggunakan uang miliknya untuk foya-foya sendiri dengan gundiknya. Terima kasih kamu membuat aku merasa diriku begitu berharga. Ternyata ada juga yang begitu peduli dengan keberadaanku."

__ADS_1


Setetes air mata jatuh membasahi pipi Adisti, padahal sedari tadi dia sudah menahannya. Namun, kebahagiaan memiliki suami seperti Yasa sungguh membuatnya bahagia.


"Sudah, Sayang, jangan mengingat masa lalu lagi. Kan ada aku di sini, kita akan sama-sama bahagia selamanya."


__ADS_2