Janji Yang Kau Ingkari

Janji Yang Kau Ingkari
97. Meminta maaf


__ADS_3

"Tuan, ada Nona Irene di bawah," ucap Rio begitu memasuki ruangan atasannya.


Yasa menatap ke arah Rio dengan wajah bingungnya. "Bukankah hari ini tidak ada janji dengan dia, kenapa tiba-tiba datang?"


"Saya juga kurang tahu, Tuan, karena memang pekerjaan dengan Nona Irene sudah berjalan dan tidak ada pertemuan dalam waktu dekat."


Yasa menghela napas dan berkata, "Katakan saja kalau aku sedang sibuk dan tidak ingin diganggu, banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini."


"Baik, Tuan, akan segera saya sampaikan."


Rio pun mengirim pesan pada resepsionis untuk mengatakan apa yang dikatakan atasannya tadi. Pria itu mengambil berkas di meja Yasa yang sudah ditandatangani dan berniat untuk keluar. Namun, atasannya itu lebih dulu mencegahnya.


"Tunggu dulu, Rio. Saya ingin bicara sesuatu sama kamu."


"Iya, Tuan," sahut Rio yang masih berdiri di sampingnya.


"Duduklah! Aku ingin berbicara santai, anggap saja aku ini sahabatmu jadi, jangan panggil tuan, panggil nama saja."


"Iya, Tuan, tapi rasanya sangat aneh dan kaku."


"Biasakanlah mulai dari sekarang. Bukankah kamu akan menikah dengan Vira jadi, kalau di rumah jangan panggil tuan lagi, panggil nama saja seperti Vira."

__ADS_1


"Saya akan usahakan."


"Baguslah. Jadi begini, aku ingin membicarakan tentang rumah tanggaku. Kemarin ada seseorang yang sengaja mengirim foto saat Irene dan aku sedang makan siang. Saat itu aku hanya berdua dengannya dan kamu berbeda meja. Kamu tahu 'kan alasan Irene karena tidak ingin rame-rame. Aku yang tidak enak pun jadi tidak bisa menolak, tapi ada orang yang sengaja memotretnya dan mengirimkannya ke Adisti dan membuat istriku marah. Dia salah paham, mengatakan jika aku telah selingkuh padahal sangat jelas aku tidak memiliki perasaan apa pun pada Irene. Bagaimana menurutmu? Kira-kira siapa pelakunya dan apa motifnya?"


"Mohon maaf, Tuan, se—"


"Panggil Yasa saja," potong Yasa yang tidak nyaman saat membicarakan urusan pribadi, tetapi Rio masih begitu formal.


"Iya, Yasa. Sebenarnya kemarin aku sempat marah sama kamu karena menerima begitu saja permintaan Nona Irene. Kalau memang Nona Irene tidak bisa makan rame-rame, kenapa tidak berdua saja dengan asistennya. Bukankah itu lebih nyaman daripada harus satu meja dengan Anda? Saya rasa itu hanya akal-akalan dia saja. Mungkin dia sudah tahu ada seseorang yang memotretnya atau mungkin disengaja dia yang memerintah orang itu atau Nona Irene memang bekerja sama dengan orang yang memotret itu. Saya juga tidak tahu, tapi yang jelas tujuan dari pengirim foto itu pasti ingin hubungan Anda dan Nona Adisti hancur. Saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Nona Adisti. Dulu dia pernah dikhianati, apakah sekarang juga akan sama meskipun Anda melakukannya dengan tanpa sadar."


"Aku tidak mungkin melakukan itu, Rio. Kemarin murni aku ingin menjamu dia sebagai klien saja tidak lebih," sela Yasa yang tidak terima dirinya disalahkan.


"Karena itu mulai sekarang Anda harus hati-hati karena tidak semua niat baik itu tujuannya baik juga. Zaman sekarang sangat sulit untuk mempercayai seseorang."


Saat jam makan siang, Yasa menyerahkan sisa pekerjaan pada Rio, dirinya akan pergi ke butik sang istri dan meminta maaf padanya. Sungguh pria itu merasa tersiksa melihat sikap istrinya yang dingin, lebih baik kalah tender daripada membuat istrinya marah.


Rio sendiri merasa kesal saat Yasa dengan seenaknya menyerahkan pekerjaan padanya, padahal pekerjaan pria itu sendiri sedang menumpuk, tetapi atasannya malah menambahkannya. Akan tetapi, setelah tahu alasan Yasa pergi, dia pun sangat mendukung.


Yasa mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, hingga tidak berapa lama sampai juga di butik sang istri. Di saat jam makan siang seperti ini justru butik terlihat begitu ramai. Pria itu sengaja membawa beberapa kotak makan siang untuk Adisti dan juga para pegawai di sana. Dia tahu jika para pegawai pasti belum sempat makan siang dengan banyaknya pembeli seperti ini. Yasa memang sering datang ke sini jadi, dia sangat tahu berapa jumlah pegawai Adisti.


"Selamat siang, Pak, mau bertemu Bu Adisti?" sapa pegawai.

__ADS_1


"Iya, dia ada, kan?"


"Ada, Pak. Bu Adisti ada di ruangannya, Bapak langsung ke sana saja."


Yasa pun menyerahkan makanan yang dia beli pada pegawai tersebut agar membaginya dengan teman-teman. Pria itu hanya membawa dua kotak untuk dirinya dan juga sang istri. Yasa mengetuk pintu ruangan Adisti dengan pelan. Meskipun statusnya seorang suami, tetap saja saat ini mereka berada di butik dan Adisti adalah atasan dan pemilik tempat ini jadi, dia harus menghormatinya.


"Mas, kenapa ke sini nggak bilang-bilang?" tanya Adisti setelah meminta orang yang mengetuk pintu itu masuk. Tadinya dia pikir itu salah satu pegawainya.


"Aku sengaja nggak bilang karena aku pengen buat kejutan buat kamu," jawab Yasa sambil tersenyum.


Adisti ngambil kotak yang dibawa oleh sang suami dan membawanya duduk di sofa. Yasa mengikuti istrinya karena dia tahu apa yang akan dilakukan oleh wanita itu.


"Sayang, aku ingin minta maaf sama kamu mengenai masalah semalam. Sungguh aku tidak pernah berniat untuk menduakanmu, apalagi bermain hati dengan Irene atau wanita lain. Tidak pernah terlintas di kepalaku untuk menghianatimu. Entah kamu percaya atau tidak, aku mengatakan yang sejujurnya. Hanya kamu wanita satu-satunya dan selamanya yang akan menemaniku."


Adisti menatap sang suami, sebenarnya dirinya juga sudah memaafkan Yasa, hanya saja belum sempat berbicara berdua. "Mas, aku sudah memaafkanmu jadi, kamu tidak usah meminta maaf lagi. Aku juga percaya padamu, kamu tidak akan menghianatiku. Aku sadar jika pengirim foto itu memang sengaja ingin kita pisah dan aku sudah bodoh karena termakan fitnahnya."


"Tidak, kamu tidak bodoh. Semua orang pasti akan berpikir yang sama seperti kamu kalau mau melihat foto seperti itu. Sebaiknya kita lupakan saja mengenai masalah ini. Aku juga sudah berusaha untuk menghindari Irene. Aku mengerti maksud tujuanmh dan aku tidak mau menyakitimu meskipun aku melakukannya tanpa sadar."


"Maksudnya kamu tidak membatalkan kerjasama dengan wanita itu 'kan, Mas?"


"Tentu saja tidak. Banyak pegawai yang bergantung dalam proyek itu, tidak mungkin aku batalkannya. Aku menyerahkan semuanya pada Rio, kecuali kalau memang ada yang mendesak barulah aku akan turun tangan."

__ADS_1


Adisti tersenyum dan berkata, "Terima kasih, Mas. Kamu sudah berusaha untuk menjaga hatiku. Aku juga akan mencoba untuk mengerti pekerjaanmu jadi, kamu tidak perlu susah-susah lagi menghindari klien wanita."


"Tidak ada yang susah untuk istriku ini."


__ADS_2