
"Putriku hanya satu, memang siapa lagi yang kamu harapkan?" tanya Edwin santai padahal sedari tadi Vira sudah mencubiti pahanya.
"Maaf, saya kira Anda memiliki keponakan lain seperti Nona Adisti yang sudah Anda anggap seperti putri sendiri," sahut Rio yang merasa tidak enak.
"Memangnya kenapa kalau aku menawarkan Vira padamu? Apa ada yang salah pada putriku hingga kamu merasa keberatan?"
"Saya belum mengatakan apa-apa, Pak Edwin, jangan menyimpulkan sesuatu dengan sendirinya. Putri Anda sendiri bagaimana? Apa dia setuju?" tanya Rio sambil melirik ke arah Vira yang tengah menatapnya.
"Kenapa kamu tanya aku? Yang bicara 'kan papa, aku juga tidak tahu kenapa papa bisa berkata demikian," sahut Vira dengan gelagapan.
Dia sendiri tidak tahu alasan papanya berkata demikian. Entah kenapa hari ini gadis itu juga tidak membantah, seolah membenarkan apa yang dikatakan oleh papanya. Vira merasa kali ini hati dan pikirannya tidak sejalan.
"Aku hanya ingin tahu apa jawabanmu. Aku tidak ingin nantinya menjalin hubungan dengan wanita karena terpaksa dan karena keinginan papanya. Meskipun nanti aku dijodohkan, aku harap wanita itu juga bahagia dengan perjodohan ini karena aku juga ingin rumah tanggaku selalu bahagia."
Vira terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Seharusnya tadi dia diam saja, kalau sudah seperti ini dia merasa malu karena sudah suudzon pada Rio padahal pria itu baik. Berdekatan dengan asisten kaku justru membuatnya terlihat bodoh.
"Bagaimana, Nona Vira? Apa kamu setuju rencana Pak Edwin untuk mempertimbangkan hubungan Anda dengan saya?" tanya Rio dengan wajah serius, seketika membuat suasana merinding.
__ADS_1
Vira pun menatap Rio dengan terkejut, tidak menyangka ke pria itu akan bertanya demikian Maksud kamu bertanya seperti itu kenapa lah kenapa malah bertanya padaku tanya saja pada Pak Edwin kenapa beliau memiliki rencana seperti itu bila memandang papanya Sebenarnya dia sendiri juga bingung ini pertanyaan ditujukan kepada siapa di satu sisi tadi dia mau berpikir jika Rio akan menolaknya begitu saja tetapi sekarang malah pria itu menjawab dengan bertele-tele yang jadi pertanyaannya apakah Rio setuju atau tidak kenapa sekarang justru jawabannya malah berbalik padanya di meja itu ketiga orang itu terdiam tidak tahu harus berkata apa hingga akhirnya Rio pun kembali berkata Nona Vira bagaimana kalau kita menjalani proses taaruf Tidak ada salahnya kan kita berdua saling mengenal siapa tahukah kita memang berjodoh kalau tidak pernah saya cukup senang bisa berkenalan dengan nama dan juga Pak Edwin bagaimana nona Vira benar-benar tidak bernafas Rio memang sangat pandai menembak sasaran dan akhirnya gadis itu hanya bisa mengganggu tanpa suara, bingung juga harus berkata apa.
"Alhamdulillah, kalau begitu kita bisa mulai berkenalan satu persatu. Apa pun nanti yang akan terjadi dalam proses ini, saya harap tidak akan ada kebencian diantara kita. Jika kita cocok alhamdulillah bisa melanjutkannya dalam sebuah ikatan pernikahan. Kika tidak mungkin memang takdir kita tidak dipersatukan bersama. Semoga masing-masing diantara kita mendapatkan jodoh terbaik pilihan Tuhan."
"Amin."
Edwin pamit pada Rio dan putrinya, dia beralasan ingin pergi ke toilet, padahal sebenarnya itu disengaja karena ingin meninggalkan putrinya bersama dengan Rio agar mereka bisa berbincang satu sama lain. Awalnya tentu saja keduanya merasa canggung, tetapi berusaha untuk mencairkan suasana.
"Apa sebelumnya kamu pernah menjalin hubungan dengan seorang laki-laki?" tanya Rio pada Vira.
"Itu dia lakukan demi menjaga keselamatanmu. Tidak ada orang tua mana pun yang menginginkan anaknya jatuh ke jalan yang salah, hanya saja cara mereka berbeda-beda. Mungkin itu juga yang dilakukan oleh ayahmu, yang menurutku itu adalah benar. Namun, pasti membuatmu merasa tidak nyaman. Sebagai seorang anak kamu harusnya mencoba untuk mengerti keadaannya."
"Awalnya memang aku kesal pada papa karena gara-gara papa aku kehilangan banyak teman, terutama laki-laki, tapi setelah aku hampir saja dilecehkan oleh temanku, aku mengerti jika yang dilakukan papa adalah benar. Dia hanya ingin melindungiku. Sejak saat itu aku juga membatasi berteman dengan laki-laki, bahkan hampir tidak pernah. Setiap kali teman-teman yang ngajakin nongkrong dan di sana ada laki-laki, aku pasti akan menolak. Aku juga tidak nyaman berada di dekat mereka yang selalu menatapku dengan tatapan aneh. Lebih baik aku mencari kesibukan lain dan pergi bersama dengan teman-teman wanita saja."
Sejenak Rio kagum pada gadis itu, tetapi tidak mungkin menunjukkannya. Dia lebih suka memendam apa yang ada dalam pikiran dan hatinya. Keduanya pun berbincang hingga akhirnya Rio pamit pulang lebih dulu karena harus pulang.
Di rumah ada ibunya seorang diri yang baru datang dari kampung. Tadi dia sudah mengajaknya karena permintaan Yasa yang tahu kedatangannya. Namun, wanita paruh baya itu menolak. Rio juga tidak mungkin membiarkan ibunya seorang diri di apartemen terlalu lama.
__ADS_1
Vira pun hanya mengangguk, sungguh Rio adalah pria idaman karena sangat menyayangi ibunya. Semoga saja ibunya Rio orang baik dan mau menerima dirinya. Seketika Vira menggelengkan kepala, bagaimana bisa dia berpikir ke arah sana. Padahal dirinya dan Rio saja masih dalam tahap perkenalan.
Pesta telah usai, satu persatu tamu mulai meninggalkan hotel. Mereka begitu senang bisa turut hadir dalam pesta para pengusaha itu, juga senang bisa menyaksikan pasangan serasi yang bersatu. Souvenir yang mereka dapat juga tidak mengecewakan.
Pasangan pengantin pun masuk ke dalam kamarnya. Tidak lupa juga Yasa memesan makanan karena sedari tadi dirinya dan sang istri belum makan malam. Adisti juga pasti sudah kelaparan, hanya saja karena tubuhnya lelah jadi wanita itu buru-buru ingin mengistirahatkan tubuhnya.
"Mau aku bantu?" tanya Yasa saat sang istri sedang melepas hiasan di kepalanya.
Wanita itu hanya mengangguk dan membiarkan sang suami yang melakukannya sendiri. Tubuh Adisti merasa gerah berada di dekat sang suami di dalam satu ruangan. Apalagi Yasa juga terlihat begitu lambat membuka hiasan kepala, padahal begitu mudah membukanya.
"Biar aku sendiri saja." Adisti yang tidak tahan pun bersuara, tetapi Yasa melarang dan tetap membantu sang istri.
"Tidak apa-apa, kamu tenang saja. Sebentar lagi juga selesai kok?"
Sentuhan Yasa pada kepalanya membuat tubuh Adisti merinding. Namun, wanita itu berusaha untuk biasa saja, padahal saat melihat wajah di cermin dia bisa melihat wajahnya yang memerah. Semoga saja sang suami tidak sadar dengan apa yang terjadi pada dirinya. Jika tidak dirinya akan merasa sangat malu.
"Sudah selesai, apa kamu mau dibantu untuk membukakan gaun pengantin ini?" tanya Yasa sambil memegang kedua pundak sang istri yang duduk di kursi meja rias.
__ADS_1