
"Mengenai Arsylla, saat ini ternyata dia sudah bekerja lagi," ucap Roni yang masih berada dalam sambungan telepon.
Adisti sempat sedikit terkejut, tetapi dia memakluminya. Bukankah wajar jika mantan sahabatnya itu mendapat pekerjaan? Hanya saja kenapa secepat ini, padahal wanita itu berharap Arsylla bisa sengsara lebih laba lagi.
"Baguslah kalau dia sudah bekerja. Lagi pula wajar 'kan? Memang apa yang salah?" tanya Adisti santai. Meskipun dalam hatinya dia kesal, setelah apa yang Arsylla lakukan padanya hanya bisa membalas sedikit saja.
"Masalahnya ternyata Arsylla bekerja di perusahaan Tuan Yasa."
"Apa! Apa kamu tidak salah?" tanya Adisti dengan begitu terkejut.
"Benar, Nyonya. Tadinya saya tidak percaya dengan apa yang anak buah saya katakan, tapi saat melihat sendiri ternyata memang benar Arsylla bekerja di perusahaan keluarga Raharja, yang saat ini dipimpin oleh Tuan Yasa."
Adisti ingin sekali tidak percaya dengan apa yang dikatakan Roni. Namun, pria itu tidak pernah berbohong padanya. Dia pikir Yasa telah berubah tidak seperti dulu, ternyata mantan kekasihnya itu masih sama dan sampai saat ini masih berhubungan dengan Arsylla. Yang jadi pertanyaan, kenapa selama ini mantan sahabatnya itu tidak pernah menceritakan apa pun tentang Yasa?
Saat dirinya berpisah dengan pria itu, Arsylla sama sekali tidak menanyakan tentang perasaannya atau keberadaan Yasa, tetapi sekarang lihatlah apa yang terjadi. Mungkin juga selama ini mereka memang selalu berkomunikasi, bahkan mungkin saling bertemu. Dirinya saja yang tidak tahu apa-apa, sungguh miris sekali. Yang tidak dia mengerti adalah jika memang Yasa masih saja berhubungan dengan Arsylla, untuk apa pria itu masih mencarinya, bahkan kata Roni ingin kembali padanya. Rasanya itu terdengar seperti sebuah lelucon yang sama sekali tidak lucu.
"Nyonya, apa Anda masih di sana?" tanya Roni yang tidak mendengar suara atasannya.
"Masih. Apa saja yang kamu ketahui tentang Arsylla dan Yasa?"
"Sampai detik ini saya masih belum bisa menggali informasi tentang mereka. Keluarga Raharja memiliki pengamanan di sekitar mereka yang begitu kuat. Saya kesulitan menembusnya."
Adisti mengangguk, dia juga sangat tahu akan hal tersebut. "Tidak apa-apa, lakukan dengan perlahan. Jangan sampai membuatmu terlalu lelah, ingatlah di rumah ada istri dan anak yang sedang menunggumu."
"Iya, Nyonya, terima kasih atas perhatiannya."
Inilah yang Roni sukai dari atasnya, selalu perhatian padanya dan keluarga. Adisti juga terlihat begitu menyayangi anak mereka. Wanita itu sering memberikan hadiah padahal sudah jelas jika anak mereka masih belum bisa bermain. Sungguh dia bersyukur bisa dipertemukan dengan Adisti.
"Ya sudah, kalau begitu jaga dirimu baik-baik. Kalau ada sesuatu yang penting segera hubungi aku."
"Baik, Nyonya."
__ADS_1
Adisti pun segera mengakhiri panggilan, dia masih termenung memikirkan alasan di balik kedekatan Yasa dan Arsylla. Tidak ada satu pun jawaban yang dia dapatkan. Kepalanya semakin pening jika mengingat masalah yang saat ini tengah dihadapi. Semuanya terasa mencekik dirinya, Adisti pun memutuskan untuk pulang tidak lupa juga dia mengajak Naina.
Awalnya gadis itu menolak karena saat ini memang belum saatnya jam pulang kerja. Namun, Adisti memaksa dan mengatakan bahwa ada pekerjaan lain di luar, hingga akhirnya Naina pun setuju. Baginya apa pun perintah atasannya harus segera dilaksanakan.
Nadia yang melihat itu pun menjadi iri. Dulu sebelum ada Naina selalu dirinya yang diajak kemana-mana oleh Adisti, tetapi semenjak ada gadis itu, dirinya seolah terlupakan. Entah kenapa wanita itu merasa jika sang atasan ingin menggantikan dirinya dengan Naina. Dalam hati dia tidak rela, dirinya sudah bekerja bertahun-tahun dan mengabdi pada Adisti, tetapi harus digeser oleh pekerja baru dan tanpa alasan yang detail padanya.
Nadia juga sudah mengintrospeksi diri memikirkan kira-kira kesalahan apa yang sudah dia lakukan. Namun, tidak juga mendapatkan jawaban. Dia jadi teringat tentang dirinya yang saat itu menyarankan pada Adisti untuk memaafkan Bryan dan rujuk. Apakah mungkin atasannya itu tidak suka.
Sementara itu, Adisti pulang bersama dengan Naina dan juga dengan Alex. Naina menatap ke arah atasannya yang duduk sendiri di belakang, sedangkan dirinya ada di depan bersama Alex. Ada rasa kasihan saat melihat wajah Adisti yang terlihat begitu lelah.
"Nyonya, bolehkah saya bertanya sesuatu?" tanya Naina memecah keheningan.
"Aku sudah pernah katakan padamu, jangan panggil aku nyonya. Apa aku terlihat begitu tua, sampai kamu memanggilku seperti itu. Panggil saja ibu, seperti saat di butik."
"Saya hanya belum terbiasa, saya terbiasa mengikuti apa yang ibu saya katakan."
"Terserah kamu saja, tapi usahakan panggil saya ibu."
"Tanyakan saja apa yang ingin kamu tanyakan. Aku tidak pernah melarang."
"Saya ingin bertanya, kenapa Anda memperkerjakan saya? Saya bahkan sama sekali tidak memiliki pengalaman. Bukannya Anda juga sudah memiliki Bu Nadia?"
"Kamu tidak lupa 'kan kalau aku juga butuh asisten yang lain untuk membantuku dalam mengerjakan pekerjaan mengenai saham di perusahaan."
"Tapi selama saya bekerja di sini, saya tidak pernah membantu Anda bekerja di luar butik. Saya hanya mengerjakan beberapa file yang harus diisi saja, setelah itu tidak ada lagi."
"Kamu kerjakan saja apa yang sudah aku perintahkan. Aku akan memintamu mengerjakan pekerjaan lain jika memang sudah waktunya tiba. Satu lagi, aku memang sengaja membawamu ke sini karena aku percaya padamu. Aku menaruh harapan besar padamu jadi, jangan sekali-kali kamu menghianatiku. Jika tidak ... kamu akan tahu sendiri akibatnya. Aku akan memaafkan kesalahan yang kamu lakukan, kecuali penghianatan. Sekali saja kamu lakukan, saat itu juga aku akan membuat hidupmu tidak berguna lagi."
"Tentu, Nyonya. Saya akan selalu setia pada Anda," ucap Naina dengan begitu yakin.
Ada sedikit rasa takut saat melihat Adisti yang berbicara dengan serius. Beberapa kali atasannya memang mengajaknya berdiskusi dengan Nadia juga, terapi baru kali ini aura keras kepalanya bertambah besar.
__ADS_1
Tidak ada alasan bagi Naina untuk menghianati Adisti. Berkat sang atasan dia bisa menempuh pendidikan sampai sejauh ini. Gadis itu juga bisa hidup layak seperti anak-anak lainnya, padahal dulu semuanya serba kekurangan. Jangankan untuk membayar sekolah, untuk membeli makanan saja mereka tidak sanggup.
Selanjutnya perjalanan dalam keadaan hening. Dalam keadaan sepi seperti ini Adisty jadi memikirkan bagaimana kehidupannya kelak. Dia juga tidak mungkin sendiri selamanya. Namun, tidak mungkin juga dia menikah lagi, sungguh dia merasa trauma.
Entah dia harus percaya pada siapa lagi, adakah laki-laki seperti yang dia harapkan. Orang-orang di sekitar semuanya hanya ingin memanfaatkan keberadaannya saja.
Vira tadi siang pamit pulang karena tiba-tiba ayahnya jatuh sakit. Sebenarnya dia juga ingin menjenguk omnya yang sudah lama tidak dia kunjungi. Namun, pekerjaannya masih sangat banyak. Tidak mungkin juga Adisti meninggalkan semuanya begitu saja. Dia hanya bisa berdoa agar suaminya dalam keadaan baik.
***
"Tuan, ada orang yang sudah memata-matai kita."
"Siapa orangnya?"
"Kalau tidak salah dia adalah anak buah Nona Adisti," jawab Rio dengan menatap atasannya.
Senyum di wajah Yasa mengembang, tidak menyangka jika wanita itu akan memata-matai dirinya. Padahal sebelumnya Adisti terlihat begitu dingin. Apa mungkin itu hanya untuk menutupi isi hatinya yang sebenarnya masih ada rasa terhadap dirinya.
"Kenapa Anda tersenyum, Tuan? Bukannya ini hal yang tidak baik?" tata Rio membuyarkan lamunan Yasa.
"Kenapa tidak baik? Justru ini sangat baik, itu artinya Adisti mencari tahu tentang diriku."
Rio menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sepertinya dia telah salah memberi informasi. "Maafkan saya, Tuan, tapi sepertinya Anda telah salah paham. Nona Adisti mengirim anak buahnya bukan untuk mengawasi Anda, tapi Nona Arsylla."
Yasa mengerutkan keningnya dan menatap ke arah asistennya. "Kenapa dia harus mencari tahu tentang Arsylla? Bukankah dia bisa bertanya secara langsung padanya. Biasanya mereka saling berkomunikasi."
Rio menghela napas lelah, sepertinya Yasa benar-benar dalam mode bodoh karena cinta. Bahkan sekarang tidak bisa berpikir jernih.
"Apakah Anda lupa jika saat ini hubungan Nona Adisti dan Nona Arsylla sudah tidak baik-baik saja?"
Yasa menepuk keningnya, bagaimana bisa dia melupakan hal itu dia. Segera pria itu menatap aja ke arah asistennya. "Kenapa kamu tidak bilang dari kemarin? Kalau sudah seperti ini pasti dia salah paham dan mengira aku sengaja ingin menolong Arsylla."
__ADS_1
"Bukankah Anda sendiri yang sudah berjanji untuk memberinya pekerjaan saat bertemu?"