
Adisti tidak menyangka jika dirinya akan mengalami hal ini di jalanan yang begitu sepi. Kejadian yang tidak pernah dia pikirkan sebelumnya selama ini. Wanita itu juga sudah mencoba untuk tidak memiliki musuh, tetapi tetap saja ada orang-orang yang tidak menyukainya. Di kehidupan ini memang selalu saja ada orang yang tidak sejalan dengannya.
Peluh membasahi kening Adisti. Rasa takut begitu besar ada dalam hatinya. Andai saja tadi dirinya tidak meminta Alex untuk pulang, pasti dirinya akan baik-baik saja. Tadi memang sopirnya itu mendapat telepon dari keluarga dan mengatakan jika ibunya saat ini berada di rumah sakit. Mereka membutuhkan kehadirannya karena semua keperluan Alex yang mengurus.
Akhirnya Adisti pun meyakinkan sopirnya itu bahwa dirinya akan baik-baik saja. Selama ini juga tidak ada yang mengganggu ketenangannya. Siapa yang menyangka jika musibah datang tanpa diduga sebelumnya. Sekarang dia hanya berharap ada orang yang mau menolongnya meskipun harapan itu sangat kecil.
"Buka pintunya cepat! Atau kami akan menghancurkan mobil ini!" teriak seorang pria sambil terus menggedor pintu mobil.
Adisti semakin ketakutan, dirinya tidak pernah mengalami hal semacam ini. Sekuat-kuatnya dia, tetap saja seorang wanita yang memerlukan sandaran dan orang yang melindunginya. Wanita itu terus saja di dalam mobil tanpa berniat untuk keluar. Adisti sama sekali tidak peduli jika orang-orang itu menghancurkan mobilnya, setidaknya dia bisa mengulur waktu hingga ada seseorang yang membantunya.
Wanita itu mencoba untuk menghubungi Alex agar sopirnya itu mau datang. Namun, karena sibuk di rumah sakit hingga tidak menyadari ponselnya ada panggilan masuk, memang dia mengubah pengaturannya dengan mode silent.
Hingga akhirnya salah satu dari preman itu sudah tidak sabar dan memecahkan kaca mobil. Adisti yang terkejut pun berteriak, hingga tanpa sadar ponselnya terlempar entah ke mana. Mereka pun berusaha untuk membuka mobil dan membawa paksa Adisti. Wanita itu meronta-ronta meminta agar mereka melepaskannya, bahkan memohon pada mereka dan mengiming-imingi imbalan yang lebih besar daripada orang yang menyuruh mereka.
Namun, sepertinya ucapannya tidak berpengaruh sama sekali. Mereka tetap menarik Adisti dan membawanya memasuki mobil mereka. Tiba-tiba ada segerombolan orang yang datang menghadang mereka, berniat untuk menolong wanita itu. Beberapa diantaranya juga membawa senjata tajam.
"Lepaskan wanita itu, kalau kalian masih ingin tetap hidup!" seru seorang pria yang tidak lain adalah Yasa.
Adisti mendongakkan kepala, dia melihat keberadaan Yasa dan merasa lega karena akhirnya ada seseorang yang membantunya. Setidaknya untuk saat ini dirinya bisa terselamatkan. Mengenai masalah pribadinya dengan Yasa mungkin nanti dia bisa berterima kasih pada pria itu.
__ADS_1
Yasa sendiri tadi mendapatkan telepon dari anak buahnya yang selama ini diam-diam menjaga Adisti, mereka mengatakan jika wanita itu sedang dalam bahaya. Ada segerombolan orang yang sedang mencari gara-gara dengan wanita itu. Entah siapa yang sudah menyuruh mereka Yasa juga tidak tahu. Itu juga tidak penting, baginya asal Adisti baik-baik saja sudah cukup.
"Siapa kamu? Jangan ikut campur dengan urusan kami. Sebaiknya kamu pergi dari sini!"
Yaya tertawa terbahak-bahak, seolah meremehkan lawan bicaranya saat ini. "Seharusnya kalian yang segera pergi dari sini. Apa kalian tidak melihat jumlah kalian kalah jauh dari kami? Tapi percuma juga kalian lari, aku tidak akan melepaskan kalian semudah itu. Sebelum kalian mengatakan siapa yang sudah mengirim kalian ke sini."
"Kamu tidak akan pernah mengatakan yang sejujurnya. Meskipun kamu membunuhku, aku tidak akan mengatakannya."
Tanpa banyak kata Yasa pun memberi kode pada anak buahnya untuk menyerang mereka, hingga akhirnya batu hantam pun tidak bisa terelakkan lagi. Yasa pun ikut menghajar seseorang dari mereka. Dia sudah sangat kalap menghadapi para preman yang sudah membuat Adisti ketakutan, hingga akhirnya mereka pun kalah dan diikat oleh anak buah Yasa. Dia mendekati Adisti dan mencoba menenangkan wanita itu.
"Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Yasa yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Adisti.
Yasa memakaikan jasnya ke tubuh Adisti dan kembali mendekati para preman itu. "Siapa yang sudah mengirim kalian?"
"Oh, baiklah." Yasa beralih menatap asistennya. "Rio, segera cari tahu keluarga mereka. Istri, anak, ibu atau bapak mereka. Cari tahu semua tentang keluarga mereka dan habisi tanpa sisa. Kamu tentu mengerti apa yang aku inginkan," ucap Yasa tanpa berperikemanusiaan.
Mata preman itu melebar, begitu pula dengan teman-temannya yang begitu terkejut mendengar ucapan Yasa. Mereka tidak menyangka jika pria yang ada di depannya ini akan membawa keluarganya dalam masalah ini. Mereka bekerja agar bisa menghidupi keluarga, bagaimana mungkin membiarkan keluarga mereka dibunuh begitu saja. Apalagi anak-anak yang memiliki masa depan yang panjang.
"Kenapa kamu ingin menghabisi keluarga kami? Mereka tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang kami lakukan!" teriak salah satu dari mereka dengan mata yang memerah.
__ADS_1
"Itu bukan urusanku. Kalian sudah berani macam-macam denganku. Adisti juga orang yang paling aku sayangi, tapi kalian sudah bermain-main dengannya. Jangan salahkan aku kalau aku juga bermain-main dengan keluargamu sebelum benar-benar habis."
"Jika sampai terjadi sesuatu pada keluargaku, aku akan mencarimu meskipun ke ujung dunia sekalipun!"
Yasa tertawa terbahak-bahak, seolah menertawakan kebodohan para preman itu. "Untuk bebas sekarang saja kalian tidak bisa, bagaimana bisa membalaskan dendam padaku? Oh ya! Aku penasaran apakah kalian ada yang memiliki anak atau adik yang masih gadis? Rasanya pasti menyenangkan jika anak buahku bermain-main dengan mereka sebelum menghabisinya. Membayangkan saja sudah membuat mereka semakin antusias."
Para preman itu memberontak, berusaha melepaskan diri dari ikatan. Ingin sekali menghajar mulut Yasa yang seenaknya saja membicarakan keluarga mereka. Dia yang tidak memiliki ikatan apa pun dengan Adisti saja begitu marah saat mereka menyakiti wanita itu, tetapi ini malah melakukan sesuatu yang menjijikkan.
"Sekarang pilihan ada pada kalian, ingin mengatakan yang sejujurnya atau mendekam di penjara dan tidak akan pernah tahu bagaimana nasib keluarga kalian di rumah."
Para preman saling pandang, pertanda bertanya apa yang harus mereka lakukan sekarang. Salah satu dari mereka mengangguk saja, mengiyakan apa yang dikatakan Yasa. Dia tidak mau terjadi sesuatu pada keluarganya, apalagi sang putri yang saat ini masih berusia lima belas tahun. Yang kesehariannya terkadang masih suka bermain dengan temannya.
Dia tidak akan sanggup menghadapi dunia jika masa depan putrinya hancur. Cukup dirinya saja yang tidak memiliki masa depan, jangan putrinya. Begitupun preman lainnya yang hanya bisa mengangguk.
"Baiklah, aku akan mengatakan yang sebenarnya, tapi apa imbalan yang akan kami terima setelah mengatakan yang sejujurnya?" tanya perwakilan preman tersebut dengan menatap Yasa.
"Kalian masih mau meminta imbalan setelah apa yang kalian lakukan pada Adisti? Itu tidak akan pernah terjadi, Adisti tadi sudah memberi penawaran dan sekarang sudah tidak berlaku lagi jadi, kalian mau mengatakan yang sejujurnya atau tidak? Hanya Itu pilihannya tidak ada tawar-menawar. Lagi pula kalian bukankah sudah mendapat imbalan dari orang yang sudah menyuruh kalian?"
"Tapi kami hanya mendapatkan separuh karena kami tidak berhasil membawa target, kami butuh uang untuk keluarga kami."
__ADS_1
"Aku tidak peduli tentang hal itu. Seharusnya kalian malu telah menghidupi keluarga kalian dengan uang haram. Aku yakin keluarga kalian juga tidak akan pernah mau menerima uang itu jika tahu dari mana asalnya."
Para preman itu menunduk, memang benar para istri mereka tidak ada yang tahu dari mana mereka mendapatkan uang. Itu semua karena terpaksa sudah tidak ada lagi pekerjaan yang bisa mereka dapatkan. Zaman sekarang mencari pekerjaan sungguh begitu sulit, selagi ada kenapa tidak mempertahankan.