Janji Yang Kau Ingkari

Janji Yang Kau Ingkari
68. Bekerjasama


__ADS_3

"Aku ke sini bukan untuk mencari masalah denganmu. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu," ujar Arsylla.


Sebenarnya wanita itu kesal dengan sambutan yang diberikan oleh Bryan, tetapi dia tidak mau terpancing emosi begitu saja. Dirinya datang ke sini dengan tujuan tertentu, tidak mungkin pergi tanpa membawa hasil. Arsylla sudah memikirkan semuanya dengan baik dan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada.


"Bicara apa lagi? Aku rasa sudah tidak ada lagi yang harus dibicarakan," sahut Bryan dengan angkuhnya.


Dia sungguh sangat muak dengan sahabatnya itu. Jika saja yang ada di depannya bukan wanita, pasti sudah dihajarnya. Padahal dulu Arsylla adalah orang yang paling ngotot ingin menjodohkan dirinya dan Sahna dengan mengatakan berbagai alasan. Bujuk rayu juga wanita itu lakukan.


Arsylla juga mengatakan bahwa, dia yang akan membujuk Adisti agar menerima Sahna sebagai madunya jika kebohongan terbongkar, tetapi sekarang semuanya tidak sesuai dengan apa yang dikatakan oleh wanita itu. Sekarang dengan tanpa berdosa dirinya berdiri di depan rumah dan bersikap angkuh.


"Aku ingin bicara denganmu, tapi hanya berdua saja karena ini masalah penting. Aku sangat yakin kamu pasti akan tertarik setelah mendengarkannya."


"Tidak bisa! Kalau kamu ingin berbicara dengan Bryan, bicara saja di sini. Tidak perlu ke mana-mana," sela Mama Lusi dengan berteriak. Dia tidak ingin sang putra terjerumus bujuk rayu Arsylla, takut jika kehidupan mereka akan semakin susah.


"Maaf, Tante, tapi ini sangat penting untuk masa depan Bryan jadi, saya harap Tante mengerti dan tidak ikut campur dengan urusan kami. Saya yakin jika rencana ini berhasil, Tante juga yang akan ikut menikmati hasilnya. Tante juga bisa berbelanja sepuasnya seperti dulu."


Mama Lusi menatap sang putra dan Arsylla bergantian. Dia ragu apakah mungkin yang dikatakan Arsylla itu benar? Jika iya maka dirinya pasti akan sangat senang. Akhir-akhir ini wanita itu memang tidak bisa kemana-mana. Jangankan untuk membeli barang bermerek, untuk membeli barang yang murah saja dia merasa kesulitan.


"Kalau memang rencana ini bagus, seharusnya kamu membicarakan ini di sini saja, biar saya juga bisa ikut membantu. Bukankah semakin banyak orang maka rencana akan berjalan dengan baik," sahut Mama Lusi yang tiba-tiba saja Hadi penasaran.

__ADS_1


Arsylla tersenyum penuh arti. Ternyata tidak sulit untuk mempengaruhi Lusi, berkata sedikit kebohongan saja sudah membuat wanita itu tergiur begitu saja. Hal tersebut tentu saja mempermudahkan rencananya. Semoga saja nanti semuanya tidak berantakan gara-gara wanita itu.


Walau bagaimanapun dia juga tetap harus berhati-hati. Arsylla tidak ingin rencana yang sudah disusunnya dengan matang bisa hancur seketika. Tidak mudah baginya bisa berada di titik ini.


"Maaf, Tante, tapi ini hanya urusanku dengan Bryan. Tidak ada sangkut pautnya dengan Tante. Tante hanya cukup berdiam diri dan menikmati hasilnya saja. Saya yakin kali ini tidak akan gagal. Apa Tante tidak kangen buat berbelanja di mall. Rambut Tante juga pasti sudah rindu untuk pergi ke salon."


Tanpa sadar Mama Lusi mengusap rambutnya yang memang terasa kusam. Benar apa yang dikatakan Arsylla jika sudah lama dia tidak ke salon. Tubuhnya juga terasa kaku, sudah rindu dengan tempat spa. Membayangkannya membuat wanita itu tidak sabar ingin melakukannya. Mama Lusi berharap kali ini rencana mereka berhasil.


"Baiklah. Kalian bicara saja, tapi ingat jika rencana kalian berhasil saya juga harus mendapat bagiannya."


"Tenang saja, Tante. Tante bisa memintanya pada Bryan. Kali ini saya jamin Tante pasti akan puas."


Bryan juga perlu berhati-hati dengan temannya itu, takut nanti jika dirinya yang akan dijadikan kambing hitam. Segala kemungkinan bisa saja terjadi dan dia harus menyiapkan segala sesuatunya. Apalagi Arsylla pernah mengkhianatinya, tidak menutup kemungkinan akan dilakukan lagi.


Arsylla mengajak Bryan ke sebuah taman di komplek tempat tinggal pria itu jadi, mereka tidak perlu naik kendaraan, cukup berjalan kaki sebentar sudah sampai. Keduanya duduk di kursi panjang yang tersedia di sana. Hari masih siang, tentu saja tempat itu masih sepi. Apalagi panas yang begitu terik. Untung saja masih ada pepohonan yang membuat suasana menjadi nyaman.


"Apa rencanamu? Katakan saja secara langsung, aku tidak suka berbasa-basi," ucap Bryan memulai pembicaraan.


Arsylla tersenyum menatap Bryan. Wanita itu pun mendekatkan diri ke arah pria di sampingnya dan mengungkapkan semua rencana yang sudah dia susun. Bryan begitu terkejut dengan rencana Arsylla, benar saja apa yang dia pikirkan ternyata rencana wanita itu sangat beresiko baginya.

__ADS_1


"Bagaimana nanti kalau kita ketahuan? Aku tidak mau berurusan dengan pihak berwajib. Aku masih ingin menikmati kehidupan bebas," sahut Bryan dengan wajah yang begitu tegang.


"Kamu tenang saja. Kali ini aku sudah mempertimbangkan segala sesuatunya jadi, kamu hanya perlu menjalankan apa yang aku katakan tadi."


"Apa kamu yakin dengan rencana itu?"


"Tentu saja aku yakin. Kalau tidak mana mungkin aku menemuimu."


Bryan membuang napas kasar. Ada perasaan tidak nyaman dalam hatinya. Namun, dia kembali teringat mama dan istrinya di rumah yang setiap hari selalu merengek. "Lalu bagaimana caranya agar aku bisa bekerja di perusahaan itu?"


"Itu mudah. Nanti biar aku yang melakukan hal itu. Kamu tinggal buat surat lamarannya saja, besok kamu kirim ke perusahaan, selebihnya biar itu menjadi tugasku. Kamu lakukan lanjutannya nanti setelah bekerja di sana. Bagaimana? Kamu setuju, kan?"


Bryan berdiam Diri. Dia bingung harus mengatakan iya atau tidak. Arsylla yang melihat keraguan di wajah pria di sampingnya pun jadi kesal. Ternyata cukup sulit juga meyakinkan sahabatnya, tetapi Arsylla tidak akan menyerah, dirinya harus mendapatkan apa yang dia inginkan, hanya ini satu-satunya jalan. Arsylla sudah menyiapkan semuanya dan yakin tidak akan gagal.


"Jangan terlalu banyak berpikir. Lihatlah mamamu yang ada di rumah. Betapa menderitanya dia saat tidak memiliki apa-apa. Setelah kita menjalankan rencana ini, kamu akan hidup mewah. Bukan hanya sekarang, tapi selamanya. Percayalah padaku."


"Baiklah, akan aku lakukan," jawab Bryan kaku meskipun dia tidak yakin dengan apa yang akan dilakukannya, tetapi setidaknya pria itu berusaha untuk kebahagiaan mama dan istrinya. Entah bagaimana nanti hasilnya semoga tidak membuat dirinya menyesal di kemudian hari.


"Baguslah kalau begitu. Semoga kerjasama kita kali ini membuahkan hasil seperti sebelumnya, tapi kali ini aku harap hasilnya akan sangat memuaskan. Bukan hanya untuk sekarang, tapi untuk selamanya."

__ADS_1


Arsylla mengulurkan tangannya agar bisa berjabat tangan dengan pria itu. Bryan pun segera menyambutnya. Meskipun dia ragu, tapi tetap berusaha untuk tersenyum. Arsylla dan Bryan pun pergi menuju rumah masing-masing. Keduanya juga sepakat saat nanti menjalankan rencana, keduanya harus berpura-pura untuk tidak berhubungan baik agar tidak menimbulkan kecurigaan.


__ADS_2