Janji Yang Kau Ingkari

Janji Yang Kau Ingkari
70. Kita


__ADS_3

"Kalau boleh jujur, Tante takut jika kamu tidak benar-benar mencintainya dan hanya memanfaatkannya saja, tapi tidak tahu kamu memanfaatkan dia karena apa. Kamu sendiri lahir dari keluarga kaya, tidak mungkin memanfaatkan Yasa karena harta, tapi untuk percaya padamu entahlah, Tante sendiri ragu," ucap Mama Riana dengan sendu.


"Jika Tante ragu tentangku, kenapa Tante mengatakannya padaku? Kalau memang benar aku memanfaatkan Yasa, bukankah seharusnya Tante menyelidikinya tanpa harus mengatakan padaku? Kalau Tante sudah bicara seperti ini, bisa-bisa saya akan merencanakan sesuatu dan berjaga-jaga agar Tante tidak mengetahui apa rencanaku," sahut Adisti sambil mengulum senyum.


Mama Riana tertawa terbahak-bahak dan kembali berkata, "Entahlah. Tante juga tidak tahu kenapa mengatakan hal itu padamu. Saat melihat wajahmu Tante tidak melihat sedikit keraguan pun di dalamnya. Tingkah lakumu juga terlihat begitu tulus karena itu, Tante ingin mengenalmu lebih jauh agar nanti Tante tidak menyesal, sudah membiarkan Yasa menjalin hubungan dengan seorang wanita yang sama sekali tidak Tante kenal."


"Kalau begitu kapan pun Tante ingin pergi denganku hubungi aku saja. Kalau aku tidak sibuk, Insya Allah aku akan menemani, Tante tahu 'kan kalau saya juga punya pekerjaan jadi, tidak selalu bebas pergi ke mana pun, tapi kalau ada waktu senggang pasti aku akan datang."


Mama Riana mengangguk, dia juga tahu jika calon menantunya memiliki butik yang besar dan terkenal di mana-mana. Pasti akan sangat sibuk. Keduanya berbincang banyak hal mengenai Yasa, apa yang tidak disukai dan apa yang disukai pria itu. Hingga akhirnya keduanya selesai menikmati makan dan memutuskan untuk pulang.


***


"Apa tadi Mama bicarain hal macam-macam denganmu?" tanya Yasa saat sedang mengantar Adisti pulang.


Sedari tadi pria itu takut mamanya mengatakan sesuatu yang membuat sang kekasih ragu padanya. Padahal sudah sangat jelas jika Mama Riana begitu menyayangi Adisti, tetapi Yasa seakan trauma, takut jika harus kembali berpisah dengan Adisti. Dia sudah sangat berusaha sampai di titik ini, tidak ingin gagal karena alasan sekecil apa pun.


"Bicara yang macam-macam apa? Tidak ada yang aneh. Kami berdua tadi jalan-jalan saja dan menikmatinya. Kenapa kamu jadi berpikir yang tidak-tidak tentang mamamu?" tanya Adisti balik sambil melihat ke arah sang kekasih.


"Aku hanya takut jika tanpa sengaja Mama telah menyakiti hatimu."

__ADS_1


"Tante Riana baik kok! Sungguh kamu beruntung memiliki orang tua seperti mereka. Om Doni juga terlihat begitu menyayangi keluarganya, pasti kamu sangat bahagia memiliki orang tua seperti mereka."


"Iya, kamu benar. Aku sangat bahagia, bahkan terkadang aku iri pada papa dan mama. Akankah aku nanti bisa memiliki keluarga seperti mereka? Walau terkadang mereka juga bertengkar, tapi mereka bisa menyelesaikan masalah dengan baik tanpa harus menyakiti satu sama lain. Semoga saja kita nanti seperti itu. Apa pun masalah yang datang, kita harus membicarakannya berdua. Kita selesaikan sama-sama."


Adisti mengangguk dan tersenyum. Dalam hati wanita itu mengaminkan apa yang dikatakan oleh Yasa karena dia juga ingin memiliki keluarga yang harmonis, suami yang juga sangat menyayanginya. Tidak seperti rumah tangganya yang dulu, penuh kebohongan dan kepura-puraan yang akhirnya saling menyakiti.


"Dis, kapan kamu siap menerima kedatangan keluargaku?" tanya Yasa seketika membuat Adisti menoleh ke arah pria itu.


"Apa harus secepat itu?"


"Bukankah sesuatu hal yang baik sebaiknya segera dilaksanakan? Lagipula apa salahnya jika kita segera meresmikan hubungan kita? Masa iddahmu juga sudah selesai."


"Aku tunggu kabar baiknya. Semoga saja bisa segera dilaksanakan," sahut Yasa sambil tersenyum, kemudian teringat sesuatu. "Oh iya, mengenai Vira, apa kamu menceritakan aku kepadanya? Tiba-tiba saja dia mengirim pesan lewat sosial media padaku."


"Vira kirim pesan? Ada apa?"


"Tidak ada apa-apa. Hanya dia mengejekku saja karena dia bilang aku laki-laki yang tidak laku sampai harus menunggu jandamu."


Adisti terkekeh dan berkata, "Benarkah seperti itu? Tapi aku tidak bicara macam-macam pada dia."

__ADS_1


"Vira memang selalu seperti itu. Padahal dia sendiri juga sampai saat ini belum nikah juga, tapi suka sekali mengejekku," gerutu Yasa dengan nada kesal.


"Jangan bilang kalian berdebat dan saling ejek?" tanya Adisti sambil menahan tawa.


"Ya ... begitulah sepupumu, tapi apa kamu tidak cemburu aku berkirim pesan dengan Vira?" tanya Yasa sambil melihat ke arah Adisti sekilas dan kembali fokus pada kemudinya.


"Aku mengenal Vira dengan baik. Kamu sangat dekat walau jarang bertemu. Meskipun kadang juga aku dibuat kesal sama dia, tapi dia bukan orang yang suka menikung orang dari belakang. Aku juga percaya padamu kalau kamu tidak akan menghianatiku karena kamu sudah pasti tahu konsekuensinya jika itu terjadi."


"Astaghfirullah, aduh! Jantung kenapa berdebar lebih cepat, tidak menyangka aku mendapat pujian darimu. Rasanya sungguh membuat aku kesulitan bernapas," ucap Yasa sambil memegangi dadanya berpura-pura kesakitan.


Adisti tadinya panik, tetapi setelah menyadari ekspresi Yasa membuat wanita itu kesal. Ternyata hanya ingin mengerjainya saja. Padahal dia tadi mengungkapkan apa yang dirasakannya saja.


"Apa sih kamu? Lebay deh!" seru Adisti dengan cemberut, padahal saat ini mukanya sudah sangat memerah karena malu.


Yasa tertawa tertahan, dia senang melihat Adisti yang seperti itu jadi, semakin tidak sabar ingin menghalalkan wanita yang ada di depannya. Membayangkan hidup berdua dengannya saja sudah membuatnya bahagia, apalagi nanti jika benar-benar sudah halal. Rasanya Yasa tidak ingin jauh dari wanita itu.


"Dis, jangan berubah ya! Apa pun yang terjadi kita akan selalu bersama. Aku tidak ingin kehilangan kamu lagi. Cukup perpisahan kita kemarin saja, jangan menghilang dari hadapanku," ucap Yasa sendu yang tiba-tiba membuat suasana hening sejenak.


Adisti memandangi wajah Yasa, dia bisa melihat kesedihan yang begitu teramat dalam di wajah sang kekasih. Entah kesedihan yang seperti apa yang dirasakan oleh pria itu selama ini, hingga membuatnya merasa begitu takut jika dirinya akan pergi.

__ADS_1


"Aku tidak tahu kesedihan yang seperti apa yang kamu lewati selama ini, tapi yang perlu kamu ketahui hanya satu. Saat ini hanya kamu yang aku percaya untuk menemani kehidupanku selanjutnya. Aku harap kamu tidak akan mengecewakanku. Semua aku sudah pasrahkan kepadamu jadi, kita akan sama-sama membangun kebahagiaan kita. Kalaupun nanti kesedihan yang hadir, aku harap kita akan melewatinya bersama-sama. Tidak ada yang namanya aku dalam hubungan ini, yang hanya adalah kita."


__ADS_2