
Yasa mendapat kabar jika papanya hari ini akan pulang. Dia merasa begitu bahagia, akhirnya setelah sekian lama sang papa mau pulang juga. Padahal sebelumnya pria itu sudah membujuk papanya dengan berbagai cara. Namun, tetap tidak mau. Bahkan saat hari pernikahannya pun sang papa tidak datang.
"Alhamdulillah, Sayang. Akhirnya papa mau pulang juga, tadinya aku pesimis kalau papa mau pulang, tapi ternyata memang papa pulang juga. Ini pasti karena persahabatan Pak Gunawan dan papa, aku yakin papa juga sebenarnya merindukan temannya itu. Semoga setelah ini tidak ada lagi kesalahpahaman di antara mereka," ujar Yasa dengan senyum yang merekah.
"Iya, Mas. Bagaimanapun juga perdamaian itu memang indah. Apalagi jika mengingat cerita persahabatan mereka, itu sungguh sangat luar biasa karena almarhum papaku juga termasuk di dalamnya. Meskipun pada akhirnya papa lebih dulu pergi, tapi aku ikut senang mendengar cerita mereka," sahut Adisti.
Keduanya tersenyum, merasa lega setelah masalah Papa Faisal akhirnya selesai juga.
"Oh iya, Sayang. Tadi Rio cerita sama aku, kalau dua minggu lagi dia akan melamar Vika. Minggu depan ibunya akan datang ke sini, nanti kamu temanin ibunya Rio buat belanja hantaran, ya!"
"Yang benar, Mas? Rio mau lamaran sama Vika?" tanya Adisti dengan nada tidak percaya.
"Iya, Sayang. Tadi Rio sendiri yang bilang padaku, makanya dia ingin meminta bantuanmu agar menemani mamanya berbelanja. Kamu tahulah mereka di sini 'kan nggak ada kerabat serta saudara. Semuanya berada di kampung."
"Iya, Mas. Tentu saja aku senang sekali bisa ikut membantu Rio untuk persiapan lamaran. Aku 'kan juga tahu apa yang menjadi kesukaan Vira jadi, kamu tenang saja," sahut Adisti dengan antusias.
Yasa mengangguk dan tersenyum. Rio memang sudah dianggap seperti saudara sendiri, makanya dengan senang hati dia ikut membantu. Kalau perlu nanti pesta pernikahan pun dirinya yang akan membiayai. Meskipun Rio pasti tidak akan menerimanya karena pria itu sangat mampu untuk membiayai pestanya sendiri.
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Yasa, tetapi pria itu tidak menanggapi karena nomornya adalah nomor baru dan tidak ada namanya. Adisti yang melihat suaminya tidak peduli pun jadi penasaran pesan dari siapa.
"Kenapa dibiarkan saja, Mas?"
"Nomornya tidak tersimpan, pasti cuma orang iseng yang menawarkan asuransi atau pinjaman online. Biasanya juga seperti itu."
__ADS_1
Adisti mengangguk. Namun, lagi-lagi ponsel Yasa berbunyi dan ada pesan masuk. "Ada pesan lagi, Mas, siapa tahu penting."
"Ya sudah, kamu saja yang buka," sahut Yasa sambil menyerahkan ponsel miliknya.
Adisti pun segera melihat dan alangkah terkejutnya ternyata yang mengirim adalah Irene. Seketika saja wanita itu jadi kesal jika ini Irene kenapa sang suami mengatakan jika tidak kenal. Apa itu hanya alasan saja? Meskipun benar tidak ada nama di sana, hanya nomornya saja. Foto profilnya juga tampak foto Irene yang tersenyum manis ke arah kamera membuat Adisti semakin kesal.
"Kenapa kamu jadi cemberut begitu? Apa ada yang salah dengan pesan yang masuk?"
"Kamu baca saja sendiri," ucap Adisti sambil menyerahkan ponsel sang suami.
Yasa pun akhirnya membaca pesan itu juga, padahal tadi dia malas. Pria itu pun terkejut dibuatnya, ternyata sang istri sedang cemburu karena rekan kerjanya yang entah disengaja atau tidak mengiriminya pesan.
Melihat sang suami yang malah tertawa membuat Adisty menatapnya tajam. "Kenapa kamu malah tertawa? Apa ada yang lucu? Kamu pasti senang mendapat pesan dari rekan bisnis kamu yang cantik itu!"
"Aku 'kan sudah pernah bilang berkali-kali, kalau di hati aku itu cuma ada kamu. Dia itu cuma ingin buat kamu cemburu, Sayang, tidak perlu terlalu dipikirkan. Aku juga tidak pernah menanggapinya, kan? Aku berinteraksi dengan dia itu hanya untuk urusan pekerjaan, tidak lebih. Mengenai bagaimana perasaannya padaku, itu bukan kuasaku. Biarkan saja dia berpikir macam-macam, yang penting cintaku hanya untukmu."
Adisti menundukkan kepala dan berkata, "Aku hanya takut kamu terbujuk rayunya, Mas. Entah kenapa setiap aku melihat wanita yang dekat-dekat kamu dan berusaha mengambil perhatian kamu, justru membuatku semakin kesal. Padahal di luaran sana masih banyak pria single, tapi kenapa justru kamu yang menjadi incaran mereka. Sudah jelas-jelas kamu punya istri. Apa mereka tidak punya empati sebagai sesama wanita?"
"Justru itu adalah bagian dari godaan rumah tangga, Sayang. Bagaimana kita bisa kuat menghadapi cobaan yang datang. Setiap orang juga pasti cobanya berbeda-beda, hanya cara menghadapinya yang berbeda-beda. Sudah, tidak usah dipikirkan lagi."
Adisti mengangguk meski hatinya masih kesal. Mungkin ke depannya dua harus lebih siap mental jika sang suami dikelilingi wanita-wanita cantik.
"Oh, ya! Besok pagi sidang Arsylla dan Bryan akan digelar, apa kamu mau datang ke sana? Siapa tahu kamu ingin tahu hukuman apa yang akan dijatuhkan pada mereka."
__ADS_1
Adisti menatap sang suami sambil menggelengkan kepala. "Biarlah itu menjadi urusan mereka dengan pengadilan. Aku nanti menunggu kabar darimu saja. Apa hukuman yang mereka akan dapatkan."
"Ya sudah, tadi aku memberitahumu siapa tahu kamu ingin datang."
Dalam hati Adisti ada perasaan tidak tega pada Arsylla, bagaimanapun juga mereka pernah bersahabat. Apalagi sekarang keluarga Arsylla begitu terpukul dengan apa yang terjadi. Diam-diam Adisti memang membantu keluarga mereka lewat perangkat desa dengan alasan bantuan dari pemerintah. Wanita itu sengaja tidak menampakkan diri karena tidak ingin keluarga mantan sahabatnya semakin merasa buruk.
Sebelumnya keluarga Arsylla memang sudah pernah meminta maaf atas apa yang sudah dilakukan anak mereka. Adisti pun tidak menyalahkan keluarga karena memang mereka tidak tahu apa-apa.
***
"Bagaimana?"
"Tidak dibalas. Padahal sudah jelas-jelas pesanku sudah dibaca, tapi kenapa tidak dibalas, ya?" tanya Irene pada pria yang ada di depannya, tidak lain adalah Haris.
"Bagaimana sih! Bukannya kamu bilang sudah berhasil menarik perhatian Yasa? Kenapa dia tidak menanggapi pesanmu?" tanya Haris dengan perasaan kesal.
"Aku memang sudah mencoba untuk mencuri perhatiannya, tapi selama ini kami memang tidak pernah berkomunikasi secara langsung. Semua urusan kantor melewati sekretarisnya, tapi selama ini dia memperlakukanku dengan baik."
"Itu dia! Kamu harus lebih berusaha lagi untuk mendapatkan hati Yasa."
Irene mendengus kesal, dia tidak suka hidupnya diatur-atur oleh orang lain, apalagi yang baru kebal. Wanita itu menatap Haris, bisa dilihat aura kebencian yang begitu besar dari matanya.
Irene pun memberanikan diri untuk bertanya, "Aku heran, kamu bilang kalau kamu itu sepupunya Yasa, tapi kenapa kamu ingin menghancurkan rumah tangganya? Kamu juga bilang tidak menyukai Adisti, sebenarnya apa tujuanmu?"
__ADS_1
"Mengenai tujuanku kamu tidak perlu tahu. Kamu hanya perlu menarik Yasa ke dalam pelukanmu saja, jerat dia sampai tidak bisa berkutik. Bukankah kamu juga untung karena bisa mendapatkan laki-laki itu?"