Janji Yang Kau Ingkari

Janji Yang Kau Ingkari
39. Menolak


__ADS_3

Meeting berjalan dengan begitu tegang. Pemilihan pemimpin baru membuat semua orang berbeda pendapat. Sedari tadi Adisti hanya diam memperhatikan semua orang tanpa berniat sama sekali untuk ikut campur dalam pemilihan ini. Dia juga sudah menyerahkan semuanya pada Gunawan. Wanita itu percaya bahwa orang yang sudah dianggap ayahnya sendiri. Pria itu juga pasti bisa memegang amanah.


Ada tiga orang yang mencalonkan diri sebagai calon pemimpin. Gunawan dan dua orang lainnya yang sudah lama memiliki saham di perusahaan itu. Tadinya Yasa sempat menggoda Adisti kenapa tidak mencalonkan diri, padahal di perusahaan ini laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama. Gadis itu menjawab bahwa dia tidak tertarik dengan jabatan itu. Adisti juga lebih percaya pada Gunawan, yang sudah bertahun-tahun memimpin perusahaan sebisa mungkin wanita itu bersikap.


Yasa diam saja meski hatinya sedikit kesal. Namun, tidak mungkin dia menampakkannya di depan semua orang. Apalagi saat ini banyak orang-orang berpengaruh. Pemilihan pun akhirnya selesai dengan Gunawan sebagai pemenangnya. Selama ini perusahaan dalam kepemimpinannya juga tidak ada sedikit pun yang membuat semua orang ragu, bahkan perusahaan pun semakin maju dan berkembang.


Setelah meeting selesai, Adisti pamit pada Gunawan karena dia juga harus segera pergi. Ada pekerjaan yang harus segera dia selesaikan. Namun, belum juga wanita itu pergi, Yasa sudah datang bergabung dengan Adisti dan Gunawan. Tidak lupa juga mereka saling menyapa.


"Selamat siang, Pak Gunawan. Selamat Anda terpilih sebagai pemimpin kembali. Perkenalkan juga saya Yasa Wirya Raharja, tentu Anda sudah mengenal siapa saya," ucap Yasa sambil mengulurkan tangannya.


"Tentu. Siapa yang tidak mengenal keluarga Raharja, senang bisa bertemu dengan kamu," sahut Gunawan sambil menyambut uluran tangan Yasa. Ternyata pria di depannya tidak seburuk yang dia pikirkan selama ini.


"Saya juga senang bertemu dengan Anda, Pak Gunawan." Tatapan Yasa beralih menatap Adisti. "Nona Adisti sendiri bagaimana kabarnya?"


"Baik, saya selalu baik," sahut wanita itu datar.


Gunawan terkejut ternyata Adisti mengenal pria yang ada di depannya. Padahal tadi dia sudah bercerita banyak tentang keluarga mereka. Jika wanita di sampingnya mengenal keluarga Raharja, sepertinya Gunawan perlu menanyakan banyak hal pada Adisti mengenai dan bagaimana bisa mereka saling mengenal.


Dari tatapan Yasa sepertinya pria itu menyukai Adisti, sangat berbeda dengan wanita yang sudah dianggap seperti putrinya sendiri. Ada kebencian yang begitu besar, tetapi ada satu titik rasa cinta juga di dalamnya. Dalam hati Gunawan bertanya-tanya, ada apa dengan mereka. Pasti ada sesuatu yang besar dan dia harus mencari tahu tentang hal itu.


"Pak Gunawan, bagaimana kalau kita sambil minum kopi sebentar, aya juga ingin tahu tentang perkembangan perusahaan ini. Itu pun kalau Anda tidak sibuk. Nona Adisti juga bisa ikut bergabung," tawar Yasa, pria itu berusaha untuk bersikap biasa saja, padahal hatinya sejak tadi begitu gelisah.

__ADS_1


"Maaf Tuan Yasa, tapi sepertinya saya tidak bisa. Saya masih ada pekerjaan," tolak Adisti yang kemudian menatap Gunawan. "Om, aku harus pergi sekarang."


"Oh, iya, anti kalau ada sesuatu Om akan menghubungimu."


Adisti mengangguk. "Om juga jangan lupa untuk tidak memberitahukan nomor baru saya pada siapa pun, termasuk dalam urusan bisnis. Semua aku sudah serahkan pada Om, saham perusahaan juga sudah aku serahkan semuanya pada Om. Aku percaya pada Om dan tidak ajan mengkhianatiku."


"Baiklah nanti akan Om hubungi kamu." Gunawan tahu makna tersirat dari kalimat Adisti, biarlah itu menjadi urusan mereka. Nanti akan ada saat untuk dirinya tahu.


Adisti pergi begitu saja dari sana tanpa mengucapkan kata apa pun. Yasa hanya memandangi kepergian wanita itu, ingin sekali dia menjaganya, tetapi percuma. Yang ada nanti Adisti akan semakin marah. Sampai di sini saja sudah bagus. Saat di dalam ruangan meeting tadi juga Yasa sudah dibuat takut jika harus wanita itu akan marah-marah padanya, tetapi bersyukur itu tidak terjadi. Entah apa yang dipikirkan oleh wanita itu.


"Bagaimana Pak Gunawan, apa Anda bersedia menikmati kopi bersama saya?" tawar Yasa, tidak mungkin juga dia membatalkan apa yang sudah diucapkan tadi. Padahal niatnya ingin agar bisa memiliki waktu bersama dengan Adisti, tetapi ternyata wanita itu menolak jadi, apa salahnya jika dia berbincang dengan Gunawan. Itu juga untuk mereka agar lebih mengenal satu sama lain.


Keduanya duduk di cafe sambil berbincang sejenak, hingga akhirnya Gunawan bertanya pada Yasa. "Boleh saya tanya sesuatu padamu? Saya harap kamu menjawabnya dengan jujur. Apakah kamu memiliki tujuan tertentu saat membeli saham di perusahaan saya.


Yasa yang tadinya meminum kopinya pun segera meletakkannya kembali di meja dan menatap ke arah Gunawan. "Jika yang Anda maksud adalah mengenai urusan Anda dengan papa, ini tidak ada hubungannya, tapi jika Anda menanyakan mengenai hubungan ini dengan Adisti, saya jawab iya. Apa yang saya lakukan hari ini semua demi dia."


"Adisti? Apa kamu ada urusan dengan dia? Kamu tidak ingin menyakiti dia kan? Atau kamu ada perlu yang lainnya?"


"Anda tenang saja. Justru aku melakukan ini karena cinta kepadanya cinta."


Gunawan lagi-lagi terkejut, dia tidak bisa berkata apa-apa. "Kadi kamu mencintai dia? Tapi dia sudah memiliki suami."

__ADS_1


"Aku tahu, justru itu, aku saat ini ingin menjaga diri, tapi saat nanti dia sudah bebas dengan suaminya, maka aku yang akan maju lebih dulu."


"Kamu sudah tahu mengenai masalah yang dihadapi Adisti?"


"Tentu saja. Anda tentu tidak lupa 'kan siapa keluargaku? Aku dengan mudah menemukan semuanya dengan cepat."


Gunawan membenarkan hal itu. Namun, bagi dia yang lebih penting adalah bagaimana perasaan Adisti dan pria yang ada di depannya ini. Mungkinkah mereka pernah menjalin hubungan di masa lalu, terlihat dari cara Adisti menanggapi ucapan Yasa dengan datar.


"Apakah kamu pernah menjalin hubungan dengan Adisti? Baik itu dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan atau sahabat?"


Yasa menyandarkan tubuhnya, sepertinya tidak ada salahnya jika Gunawan tahu Apa hubungan pria itu dengan Adisti. Gunawan juga sangat baik, terbukti wanita itu menyerahkan kuasa atas sahamnya.


"Dia pernah menjalin hubungan denganku di masa lalu sebelum dia menikah dengan Bryan. Aku juga bingung saat itu, apa yang membuat dia menikah dengan pria itu, padahal saat itu baru saja kami putus. Bukan putus, lebih tepatnya ada kesalahpahaman di antara kami dan itu yang membuat aku merasa bersalah padanya. Aku ingin menebus semuanya karena itu aku kembali."


"Saya tidak tahu apa yang terjadi antara kalian, tapi yang pasti saya tidak akan pernah membiarkan kamu mendekati Adisti jika hanya untuk menyakitinya. Saya sudah menganggapnya seperti putri saya sendiri. Meskipun kami tidak memiliki hubungan darah."


"Saya tahu, saya juga tidak berniat untuk menyakiti hati Adisi. Justru saya ingin menebus semua kesalahan saya padanya. Saya ingin memilikinya kembali. Bryan juga tidak pantas memiliki istri sebaik dia.


"Apa pun itu dan entah apa yang terjadi dalam hubungan kalian dulu jika memang membuat Adisti bahagia, saya akan mendukung. Saya juga perlu tahu sampai sejauh mana usaha kamu membuat dia kembali jatuh cinta padamu. Sangat sulit untuk melakukannya karena dia orang yang keras kepala."


Yasa mengangguk, membenarkan apa yang dikatakan pria di depannya.

__ADS_1


__ADS_2