Janji Yang Kau Ingkari

Janji Yang Kau Ingkari
62. Perdebatan suami istri


__ADS_3

Sejak ketahuan mengikuti Adisti hari itu, Yasa sudah tidak pernah bertemu dengan wanita itu. Hingga tidak terasa tiga bulan sudah terlewati. Itu artinya masa iddah Adisti juga telah selesai. Yasa bingung harus bagaimana untuk mengambil hati wanita itu, mantan kekasihnya yang sekarang dan dulu adalah sosok wanita yang berbeda. Sekarang Adisti lebih berwibawa dan juga tegas, berbeda dengan dulu yang lemah lembut.


Rio dibuat bingung oleh atasannya, yang setiap hari meminta dia untuk mencari tahu keadaan Adisti. Akan tetapi, sekarang saat jalan sudah terbuka bagi Yasa untuk mendekatinya, pria itu malah masih berdiam diri di tempat. Jika nanti ada seorang pria yang mendekati wanita itu, pasti dirinya yang akan menjadi sasaran.


"Tuan, apa Anda tidak ingin menemui Nona Adisty dan mencoba untuk mengambil hatinya?" tanya Rio yang sudah tidak sabar.


"Kenapa kamu jadi ribet sekali? Ini urusanku jadi kamu jangan terlalu campur."


Rio mencoba untuk tetap tenang meskipun saat ini sudah sangat kesal. "Tapi Anda akan menyesal kalau sudah keduluan oleh pria lain."


Yasa menatap tajam ke arah asistennya. "Apa maksud kamu berkata seperti itu?"


"Saat ini Nona Adisti dikabarkan tengah dekat dengan salah satu partner kerjanya, yang akhir-akhir ini menjadi supplier kain ke butik," jawab Rio yang terpaksa berbohong.


Biar saja atasannya itu kalang kabut mendengar cerita itu, padahal supplier lain yang dimaksud sudah memiliki istri dan dia cukup setia dengan istrinya. Rio tidak bermaksud membuat atasannya berulah, tetapi demi kelangsungan hidupnya dia harus berbohong. Jika semua terlambat, maka dirinya yang pasti akan menjadi korban.


"Apa! Siapa orangnya? Berani sekali dia mendahuluiku! Kamu harus membuatnya menjauhi Adisti!" pekik Yasa.


"Maaf, Tuan, Saya tidak bisa karena pria itu ada pekerjaan dengan Nona Adisti, tidak mungkin saya membuatnya menjauh, bisa-bisa nanti bisnis Nona Adisti akan mengalami penurunan."


"Aku tidak mau tahu, aku bisa membuatkan sepuluh butik untuk Adisti asalkan dia jauh dengan pria itu," sahut Yasa dengan kesal.


"Tapi saya juga yakin pasti Nona Adisti akan menolak. Anda tentu mengenal bagaimana karakter Nona Adisti yang tidak akan pernah mau tergantung pada orang lain. Apalagi dengan orang yang tidak dikehendakinya."

__ADS_1


"Apa maksudmu berkata demikian? Kamu mau menghinaku!"


"Bukan maksud saya seperti itu, Tuan. Tentu Anda sangat mengerti apa maksud saya. Nona Adisti juga selalu ingin menjauhi Anda. Sekarang Anda juga mengabulkannya begitu saja, tidakkah Anda ingin berusaha untuk mengambil hatinya? Secara langsung buktikan padanya kalau Anda benar-benar mencintainya, berusahalah sendiri tanpa bantuan siapa pun termasuk saya. Wanita akan merasa tersanjung jika diperjuangkan."


Yasa memikirkan apa yang dikatakan oleh Rio. Apakah mungkin itu yang menjadi penyebab Adisti ragu untuk menerimanya kembali karena wanita itu tidak melihat usahanya. Dari cerita Adisti sebelumnya juga mengatakan jika Adisti bisa menerima Bryan juga karena usaha dari pria itu, sedangkan dirinya semua diserahkan pada Rio. Dia hanya bisa menerima beres saja.


Sekarang sudah saatnya Yasa berusaha sendiri, apa pun nanti hasilnya dia juga harus bisa menerima dengan ikhlas. Mungkin dirinya dan Adisti memang tidak berjodoh, tetapi setidaknya dirinya sudah berusaha.


"Kamu boleh pergi," ucap Yasa tanpa melihat ke arah asistennya, membuat Rio bingung apa yang akan dilakukan oleh atasannya. Ingin pergi juga masih ragu, takut Yasa semakin membuat kesalahan. "Kenapa kamu masih diam saja? Sekarang keluar!" perintah pria itu lagi karena melihat asistennya masih saja berdiri di depannya.


"Apa yang akan Tuan lakukan?"


"Itu bukan urusanmu. Apa pun yang aku lakukan, biarlah itu menjadi urusanku sendiri. Kamu sebaiknya lakukan saja pekerjaanmu."


"Baiklah, Tuan, kalau begitu saya permisi."


Saat Rio ingin berbalik, Yasa kembali memanggilnya. "Tunggu dulu! Bagaimana mengenai Arsylla, apa kamu sudah menemukan celah untuk mendepaknya dari perusahaan ini?"


"Sudah, Tuan, tapi untuk mengumpulkan bukti yang lebih meyakinkan, sebaiknya tunggu sebentar lagi. Saya yakin dia sedang merencanakan sesuatu yang besar dan ini akan semakin mempermudah untuk mendepaknya dari perusahaan."


Yasa tersenyum smirk sambil menganggukkan kepala, dia sudah tidak sabar menunggu hari itu tiba. "Baguslah kalau begitu. Semua mengenai Arsylla, aku serahkan kepadamu. Aku tidak ingin dia berlama-lama di sini, yang nantinya malah akan semakin membuat Adisti semakin membenciku karena mendukung pengkhianat."


"Anda tenang saja, hanya tinggal menunggu sebentar lagi."

__ADS_1


Yasa menganggukkan kepala, Rio pun segera pergi meninggalkan ruangan atasannya. Masih ada pekerjaan yang harus diselesaikannya.


***


"Mas, Sampai kapan kita akan menetap di rumah mama? Aku sudah tidak betah lagi. Aku ingin pergi dari sini, ingin seperti dulu punya rumah sendiri," rajuk Sahna pada sang suami.


"Kamu bisa diam nggak! Masih untung mama mau menampung kita jadi, kita tidak perlu jadi gelandangan di jalan. Kalau kamu sudah nggak mau tinggal di sini, kamu pergi saja sendiri ke rumah orang tuamu," sahut Bryan tanpa memikirkan perasaan sang istri.


Sahna mengepalkan tangannya, sebenarnya dia juga ingin pulang ke rumah orang tuanya, tetapi tidak dengan membawa anaknya. Dia sudah berencana, setelah anak ini lahir akan meninggalkannya bersama dengan Bryan. Wanita itu tidak mau susah membesarkan anak sendiri, yang ada dirinya nanti malah tidak bisa bersenang-senang bersama dengan teman-temannya.


"Kenapa kamu diam saja? Apakah kamu sedang berencana untuk pergi dari rumah ini? Silakan saja, tidak perlu nanti-nanti. Kalau perlu sekarang aku panggilkan tukang ojek," lanjut pria itu yang semakin membuat Sahna geram.


"Kamu ini bagaimana sih! Kamu itu seorang suami, seharusnya bertanggung jawab kepada istrinya, tapi kamu malah memintaku untuk pulang ke rumah orang tuaku. Di mana harga dirimu sebagai seorang laki-laki? Jika nanti kedua orang tuanya bertanya bagaimana? Apa yang harus aku jawab? Aku sudah meninggalkan kehidupanku dan memilihmu, tapi sekarang kamu malah ingin mencampakkan aku begitu saja!"


"Bukankah kamu sendiri yang ingin pergi dari rumah ini? Kenapa sekarang kamu menyalahkanku?"


"Aku memang mau pergi dari rumah ini, tapi bukan berarti kembali pada orang tuaku. Aku ingin kamu membelikan aku rumah seperti dulu dan kita tinggal berdua."


"Bagaimana aku mendapatkan uang untuk beli rumah, untuk makan sehari sehari saja aku harus mengencangkan ikat pinggang, bagaimana mungkin aku membeli rumah. Membeli motor saja tidak bisa."


"Makanya kamu kerja seperti dulu lagi."


"Kerja di mana? Kamu pikir mencari pekerjaan itu gampang? Kalau pun aku sudah bekerja, tidak akan semudah itu. Dulu untuk mendapatkan uang aku hanya tinggal menjentikkan jari sudah bisa membeli apa pun, sedangkan gaji karyawan saat ini serba pas-pasan untuk kehidupan sehari-hari."

__ADS_1


Pasangan suami istri itu pun berdebat kembali. Selalu saja seperti itu, keduanya sama-sama egois ingin mendapatkan apa yang diinginkan dengan begitu mudah, tanpa sadar segala sesuatunya itu harus dengan usaha dan kerja keras. Semuanya juga terjadi karena kesalahan mereka sendiri.


__ADS_2