Janji Yang Kau Ingkari

Janji Yang Kau Ingkari
95. Foto


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Vira akhirnya sampai juga di apartemen milik Rio. Gadis itu pun mengantar Bu Aisyah sampai di depan unit. Wanita paruh baya itu menawarkan pada calon menantunya untuk mampir. Namun, Vira menolak karena memang dia harus pergi karena ada janji dengan sahabatnya sebelum dirinya kembali ke tempat tinggalnya. Bu Aisyah pun mengucapkan rasa terima kasihnya pada Vira yang sudah mengantar.


***


"Om, kenapa melamun saja di rumah? Tidak ingin jalan-jalan keluar? Besok kan Om sudah pulang, tidak ingin menikmati waktu selagi di sini?" tanya Adisti.


"Tidak, Om sudah tua, lebih baik jaga tenaga untuk pekerjaan besok," sahut Edwin santai.


"Terserah Om sajalah."


Saat keduanya sedang bercengkrama, Bik Rina datang dan memberitahu jika ada tamu yang datang. Adisti bertanya-tanya siapa tamu yang datang karena dia juga tidak memiliki janji dengan siapa pun. Apa mungkin pegawai butik, tetapi kenapa tidak memberitahu dulu?


"Laki-laki apa perempuan, Bik?" tanya Adisti.


"Laki-laki, Neng."


"Apa Bibi mengenalnya atau mungkin dia pernah main ke sini?"


Bik Rina mencoba mengingat-ingat sesuatu. "Kalau tidak salah, dia itu salah satu sepupunya Den Yasa, Neng."


Tanpa merasa curiga, Adisti keluar untuk menemui tamunya. Dia pikir sepupunya Yasa memang sengaja datang untuk bertemu. Mungkin ada sesuatu yang penting dan ingin dibicarakan. Namun, ternyata wanita itu salah, yang datang adalah Haris. Sudah beberapa hari Adisti tidak bertemu dengan pria itu, bahkan saat pernikahan pun tidak datang dan itu membuatnya merasa lega, tetapi sekarang saat dirinya sedang bahagia kenapa juga pria itu malah hadir. Adisti tidak akan tinggal diam saja jika pria yang ada di depannya berniat untuk membuat masalah.


"Halo, sepupu iparku. Lama tidak bertemu, apa kabar?" tanya Harus dengan seringai menjijikkan.

__ADS_1


Adisti tidak menjawab dan lebih memilih duduk di sofa tunggal di depan Haris. "Mau apa kamu datang ke sini? Suamiku sedang pergi kerja jadi, kamu salah kalau datang di jam seperti ini."


"Aku memang sengaja datang saat suamimu tidak ada di rumah. Selain pecundang ternyata suamimu itu licik juga ya! Beraninya main keroyokan, tidak mau satu lawan satu," cibir Haris dengan kesal.


Adisti mengerutkan keningnya, dia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh pria itu.


"Maksud kamu apa?" tanya Adisti yang benar-benar tidak mengerti.


"Sebenarnya kamu itu tahu atau pura-pura tidak tahu? Suamimu sengaja mengirim orang untuk menculikku dan menyekapku di bangunan tua agar aku tidak datang di acara pernikahan kalian. Sungguh itu membuatku sangat marah."


Adisti mengulum senyum dan menatap sinis ke arah Haris. "Justru kamu harusnya berterima kasih pada suamiku jika tidak, aku sudah pasti akan melaporkanmu ke pihak yang berwajib, tapi untung suamiku lebih cepat bertindak jadi, tidak membuat huru-hara di pesta kemarin."


"Huru-hara? Aku juga tidak mungkin setega itu pada sepupuku? Aku tidak mungkin mencari masalah di hari bahagianya."


"Sekarang katakan apa tujuanmu datang ke sini? Aku tidak memiliki banyak waktu, masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan."


"Pekerjaan apa? Sudah dari tadi kamu di rumah saja. Aku ke sini hanya ingin ngajakin kamu jalan, kita bisa pergi ke mall atau ke tempat lain yang kamu suka, bagaimana?" tawar Haris sambil menarik turunkan alisnya membuat Adisti jengah.


"Maaf, kita tidak sedekat Itu untuk pergi jalan-jalan berdua. Aku juga tidak suka pergi bersamamu atau laki-laki mana pun karena aku sangat tahu, kalau kamu itu lagi merencanakan sesuatu kepadaku di luar sana, tapi sayang rencanamu sudah bisa aku tebak jadi, kamu urungkan saja niatmu itu. Sebaiknya kamu pulang ke rumahmu. Kamu ini seorang laki-laki, apa kamu tidak ingin memiliki tanggung jawab pada dirimu sendiri? Tidak hanya bergantung pada kedua orang tuamu. Mereka memang tidak mengeluh apa pun tentangmu, tapi cobalah untuk berpikir lebih dewasa. Mereka pasti akan bahagia jika kamu bisa mandiri dan tidak foya-foya dengan harta mereka."


Haris menatap tidak suka ke arah Adisti. Dia benci pada orang-orang yang selalu ikut campur dalam urusannya. Pria itu memang tidak bekerja dan selalu menggantungkan hidupnya pada kedua orang tuanya. Haris akan sangat marah jika keinginannya tidak terpenuhi, itu semua karena sedari dulu orang tuanya selalu memanjakannya dan selalu memenuhi keinginannya.


"Tidak usah menasehatiku. Aku lebih tahu apa yang terbaik untukku," ucap Haris dengan mata yang merah karena emosi.

__ADS_1


"Oh, ya! Kalau begitu kamu tentu tahu dong apa yang harus kamu lakukan sekarang? Aku tidak ingin membuang banyak waktu dengan orang yang tidak penting sepertimu jadi, sebaiknya kamu segera pergi dari sini."


Tanpa banyak berkata, Haris pun segera pergi dari rumah Adisti dengan amarahnya. Dia berjanji akan kembali membuat perhitungan dengan wanita itu.


Adisti menghela napas lega, setidaknya Haris sudah pergi, padahal sudah dari tadi dia merasa takut jika pria itu akan melakukan kekerasan terhadapnya. Wanita itu juga sangat tahu jika Haris seorang yang mudah emosi dan tempramental, tidak akan segan melayangkan tangan terhadap wanita, bahkan dengan kedua orang tuanya saja pria itu begitu tega melakukannya.


"Neng, apa Neng Adisti tidak apa-apa?" tanya Bik Rina pada majikannya itu.


"Alhamdulillah tidak apa-apa, Bik."


"Syukurlah, saya hampir saja menghubungi Den Yasa jika tadi pria itu tidak pulang."


"Om Edwin di mana, Bik? Dia tidak melihat kehadiran Haris, kan?"


"Tuan Edwin masih ada di taman jadi, tidak mungkin melihatnya."


"Syukurlah kalau begitu. Aku tidak ingin membuat Om Edwin kepikiran, biarlah masalah Haris menjadi urusanku dengan Mas Yasa. Bibi jangan bilang padanya, ya!"


Bik Rina mengangguk dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Adisti sendiri masih duduk di ruang tamu. Tiba-tiba saja pandangannya tertuju pada sebuah amplop coklat yang ada di sofa, tempat di mana Haris tadi duduk. Adisti yang penasaran pun mengambilnya, dia ingin tahu apa isi di dalam amplop tersebut.


Begitu membukanya, Adisti terkejut ternyata di dalamnya adalah beberapa foto Yasa bersama dengan seorang wanita. Memang dalam foto tersebut tampak Yasa hanya mengobrol biasa dengan wanita itu. Ada juga yang sedang tertawa bersama, terlihat wanitanya tersipu malu, entah apa yang dibicarakan.


Namun, yang menjadi perhatiannya adalah foto itu terjadi di beberapa tempat dan di waktu yang berbeda. Itu artinya sang suami sering menemui wanita itu, tapi yang jadi pertanyaannya adalah siapa wanita tersebut dan apa hubungannya dengan sang suami. Apa mungkin foto ini editan yang sengaja Haris bawa dan meninggalkannya di sini agar dia melihat. Bukankah pria itu menginginkan kehancuran rumah tangganya, tetapi Adisti juga tidak bisa mengabaikan foto ini begitu saja. Dia harus tahu siapa wanita yang ada di dalam foto ini.

__ADS_1


__ADS_2