Janji Yang Kau Ingkari

Janji Yang Kau Ingkari
78. Penyelamatan


__ADS_3

"Ada apa, Alex?" tanya Adisti dengan perasaan gelisah.


"Di depan ada orang yang menghadang kita, Bu. Sepertinya orang itu berniat jahat karena mereka menghadang kita di jalanan yang sepi," jawab Alex yang masih menatap ke arah mobil yang ada di depannya.


Adisti memperhatikan sekitar dan benar saja tidak ada satu kendaraan pun yang lewat. Kalaupun ada juga belum tentu mereka mau membantu karena mereka juga pasti akan takut sendiri. Penumpang mobil yang menghadang Adisti pun turun dan benar saja, badan mereka semua besar-besar. Alex memang pandai beladiri, tetapi jika dikeroyok dengan mereka semua pasti akan kalah.


"Bu, sebaiknya Ibu hubungi Tuan Yasa untuk meminta bantuan, sementara saya akan menghadang mereka." Alex akan turun, tetapi lebih dulu dihalangi Adisti.


"Sebaiknya jangan, Alex. Mereka semua banyak, pasti kamu akan kalah. Kita di sini saja, aku akan menghubungi Yasa."


Adisti pun segera menghubungi sang kekasih dan saat deringan pertama, pria itu segera mengangkatnya.


"Halo, Sayang. Ak—"


"Ada orang yang sengaja ingin menghadang jalanku. Mereka semua jumlahnya banyak, sedangkan di sini Alex sendiri pasti akan kalah," sela Adisti sebelum Yasa melanjutkan kata-katanya.


"Kamu ada di mana? Aku akan segera ke sana."


Adisti pun menyebutkan keberadaan dirinya. Yasa segera mematikan sambungan dan berlari turun dari gedung menuju mobilnya. Rio yang melihat atasannya pun segera ikut berlari sambil bertanya, "Tuan, kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi?"


"Segera kamu hubungi orang kepercayaan kita dan suruh dia mengikuti kita," jawab Yasa dengan berteriak.


Tanpa banyak bertanya Rio pun segera melakukan apa yang diperintahkan oleh atasannya. Keduanya pun segera pergi menuju tempat yang dikatakan oleh Adisti. Yasa benar-benar kalut, takut terjadi sesuatu yang buruk pada tunangannya.


"Tuan, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Rio lagi saat sudah dalam perjalanan.

__ADS_1


Yasa sendiri yang mengambil kemudi, sementara Rio duduk di sebelahnya. "Benar katamu, Rio, Adisty yang menjadi incaran. Sekarang mereka telah melakukan aksinya."


"Apa? Secepat itu?" tanya Rio dengan suara lantang.


"Iya, kamu sudah mengantisipasinya, kan? Kamu sudah melakukan apa yang seharusnya kamu lakukan?"


Rio terdiam, antara yakin dan tidak karena tidak mengira jika semuanya akan terjadi secepat ini. Ingin mengatakan yang sebenarnya pun takut atasannya murka. Apalagi keadaannya seperti sekarang ini.


"Sial! Kenapa macet!" umpat Yasa sambil memukul setirnya.


Rio yang tadinya melamun pun melihat ke arah depan dan benar saja di sana macet begitu panjang. Di belakangnya pun sudah berjajar mobil, mereka sudah tidak bisa keluar lagi. Yasa pun terpaksa turun dan mencari alternatif lain. Hingga akhirnya dia pun menemukan tukang ojek dan memintanya untuk mengantar dirinya.


Cukup sulit untuk keluar dari kemacetan yang panjang. Namun, akhirnya pria itu berhasil juga. Yasa segera meminta tukang ojek untuk mengajukan motornya dengan kecepatan tinggi, saat ini ada seseorang yang sedang membutuhkan bantuannya. Tidak berapa lama akhirnya dia sampai juga.


Yasa begitu terkejut saat melihat Alex sudah tidak berdaya karena dihajar oleh para preman itu, sementara Adisti sudah diikat dengan tangan ditarik ke belakang. Sungguh hati pria itu merasa terluka melihat tunangannya diperlakukan seperti ini.


"Wah! Ada pahlawan kesiangan ternyata baru datang. Kami tidak peduli dengan apa yang kamu katakan, yang penting kami bisa melaksanakan tugas dengan baik dan mendapat banyak uang," sahut salah satu preman itu.


Yasa berjalan perlahan, mendekati mereka. Saat ini yang ada dalam pikirannya hanyalah bagaimana melepaskan sang kekasih dari tangan preman itu. Pasti Adisti sudah sangat ketakutan, sudah terlihat jelas dari ekspresi wajahnya. Hanya saja wanita itu memang tidak menangis atau mungkin memang wanita itu menahannya.


Kepala preman memberi kode pada anak buahnya untuk menyerang Yasa. Untung saja pria itu bisa ilmu bela diri jadi, setidaknya dia bisa melindungi diri. Meskipun pada akhirnya kalah juga dan mendapat beberapa pukulan di tubuhnya, wajahnya juga mengalami lebam. Adisti berteriak meminta para preman untuk berhenti menghajar Yasa. Namun, mereka tidak ada yang peduli dan terus melanjutkan aksinya.


Adisti yang tadinya tidak menangis pun akhirnya air matanya tumpah juga. Gara-gara dirinya Yasa harus babak belur seperti ini. Seharusnya tadi dia tidak menghubungi sang kekasih, tetapi mau bagaimana lagi, hanya pria itu yang bisa menolongnya dan yang paling dekat.


"Aku mohon! Tolong hentikan! Jangan pukuli dia lagi. Kalian bisa meminta apa pun padaku. Jika kalian membutuhkan uang, ambil saja semuanya, tapi lepaskan kami. Berapa banyak yang kalian minta?"

__ADS_1


Para preman itu tertawa dan salah satu dari mereka berkata, "Tanpa kamu katakan pun kami akan mengambil barang-barang milikmu jadi, kamu tidak perlu mengkhawatirkannya.


Tanpa disangka beberapa orang datang dengan menggunakan motor dan menghajar para preman itu. Ternyata mereka adalah anak buah Yasa. Mereka sangat menyesal karena datang terlambat. Keadaan yang macet membuat mereka kesulitan datang tepat waktu, tetapi masih bersyukur atasannya masih bisa selamat.


Adisti yang sudah dilepaskan ikatannya pun segera berlari memeluk Yasa. Bersyukur pria itu masih sadar. Melihat keadaan sang kekasih membuat hati wanita itu hancur, tidak seharusnya Yasa menerima ini semua.


"Kamu nggak apa-apa? Kenapa kamu nekat datang sendiri? Kamu jadinya seperti ini," ucap Adisti dengan air mata yang semakin deras.


"Aku tidak apa-apa. Aku senang kamu bisa selamat." Tangan Yasa terulur, menghapus air mata yang membasahi pipi tunangannya. "Jangan menangis. Aku semakin terluka jika aku melihat kamu seperti ini. Tidak perlu mengkhawatirkanku, aku baik-baik saja."


"Baik-baik saja bagaimana? Kamu keadaannya seperti ini."


"Aku sudah katakan kalau aku baik-baik saja. Sudah jangan menangis lagi."


Adisti pun mengangguk. "Apa kamu bisa berdiri? Ayo kita ke rumah sakit! Alex juga butuh penanganan."


Yasa mencoba berdiri, Adisti pun membantunya. Wanita itu membawa sang kekasih masuk ke dalam mobilnya, sementara Alex dibantu oleh Rio. Mereka pun segera pergi dari sana, tanpa peduli dengan anak buahnya yang masih berkelahi, yang penting menyelamatkan Yasa dan Alex lebih dulu.


Rio yakin anak buahnya akan bisa menangani para preman itu dengan baik. Dia melajukan mobil Adisti dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat. Dalam keadaan seperti ini pria itu merasa telah gagal menjaga atasannya. Jika saja Rio lebih tanggap dan bisa mengantisipasi segala hal, pasti tidak akan terjadi seperti ini. Namun, semuanya sudah terjadi menyesal pun sudah tidak ada gunanya. Yang penting sekarang adalah bagaimana agar semuanya kembali baik-baik saja.


Begitu sampai di rumah sakit Rio segera memanggil perawat untuk membantu membawa Yasa dan Alex ke dalam. Dokter segera memeriksa keduanya. Untung saja hanya luka luar saja, tidak ada patah tulang atau sejenisnya.


"Nona Adisti sebaiknya Anda juga diperiksa. Anda sepertinya kurang sehat," ucap Rio yang sedari tadi melihat tunangan atasannya mondar-mandir.


"Aku baik-baik saja, Rio. Hanya syok saja, nanti akan baik-baik saja. Aku juga tidak terluka, mereka hanya mengikatku dan tidak menyakitiku sama sekali."

__ADS_1


Rio pun tidak memaksa karena wanita itu sendiri yang menolak. Dia pun segera menghubungi seseorang yang ditugaskan di perusahaan, ingin menanyakan sudah sejauh mana mereka bertindak


__ADS_2