
Langit kemerahan sudah mulai menghilang dan berganti hitam. Lampu penerangan pun mulai nyala satu persatu. Yasa dan Adisti masih tetap duduk di sebuah batu besar, memandangi laut yang masih bergemuruh dengan ombak yang bergulung. Ada beberapa hal yang kedua ceritakan satu sama lain. Sudah tidak perlu lagi menutupi rahasia dan juga sifatnya. Yasa pasti sudah tahu segala hal tentang dirinya.
Pria itu membuka jas dan memakaikannya di pundak Adisti. Meskipun udara tidak begitu dingin, tetapi sebagai seorang pria, Yasa hanya ingin melindungi wanita yang sangat dicintai itu. Dia tidak ingin Adisti masuk angin. Biarlah dia saja yang sakit asal wanita itu baik-baik saja.
"Mengenai pelaku yang dalam penculikanmu, kamu pasti sudah mengetahui pelakunya, kan? Kira-kira kamu akan melakukan apa padanya?"
Mendengar apa yang dikatakan Yasa, segera membuat wanita itu menoleh. Sebelumnya dia sudah mengira jika pria itu akan bertanya tentang hal tersebut, tetapi saat berbicara langsung seperti ini entah kenapa Adisti tidak sanggup menggerakkan bibirnya. Di satu sisi Dia sangat menghormati orang tersebut karena memang mereka memiliki hubungan darah. Namun di sisi lain orang itu ternyata memperlakukannya seperti itu, bahkan sampai menyakitinya. Entah apa tujuannya hingga sampai melakukan hal sejauh itu.
"Menurutmu apa yang harus aku lakukan?"
"Kenapa malah bertanya padaku? Aku juga tidak tahu, aku memang mengenal pelakunya, hanya saja aku tidak begitu dekat. Aku juga tidak tahu bagaimana sikapnya selama ini. Entah itu benar-benar tulus atau hanya karena ada sesuatu yang diinginkan. Aku sendiri bingung."
"Mungkin nanti aku akan menemuinya secara langsung dan bertanya. Jika memang memungkinkan aku juga akan melaporkannya ke pihak yang berwajib. Mudah-mudahan keputusanku ini memang sudah benar dan tidak menyakiti siapa pun lagi."
"Semua terserah padamu. Aku akan selalu mendukungmu, mudah-mudahan saja semua bisa selesaikan dengan baik."
"Amin. Aku juga berharap begitu."
__ADS_1
Angin yang bertiup semakin kencang, menerbangkan tiap helai rambut Adisti. Hal tersebut membuat wanita itu semakin terlihat cantik. Yasa semakin dibuat berdebar, tetapi sebisa mungkin berusaha bersikap biasa saja.
Setelah cukup menikmati kebersamaan, keduanya memutuskan untuk salat magrib bersama di mushola yang tidak jauh dari sana. Adisti tersenyum, dia senang karena sekarang Yasa sudah rajin melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim, mengingat dulu pria itu sama sekali tidak pernah salat. Sekarang seiring berjalannya waktu sudah mengubah banyak hal pada diri mantan kekasihnya.
"Sekarang sudah mulai rajin sholat?" tanya Adisti saat mereka sudah berada di dalam mobil sedang dalam perjalanan pulang.
Yasa melihat ke arah Adisti yang kemudian fokus kembali pada jalanan yang ada di depannya. "Itu semua karena kamu. Nasehat-nasehat yang kamu berikan ternyata memang manjur, setiap aku selesai melakukan salat aku bisa mendapatkan ketenangan dalam hatiku. Setiap kali aku merasa dunia telah mengecewakanku, justru mengadu pada sang pencipta memang membuat hati kita lebih tenang."
Adisti mengangguk, dia pun setuju dengan apa yang dikatakan oleh Yasa. Apalagi akhir-akhir ini dia sering sekali mendapatkan masalah. Hanya mengadu pada sang pencipta dirinya bisa merasa tenang.
"Papa dan mamamu apa kabar?" tanya Adisti berbasa-basi, dia juga ingin tahu bagaimana keadaan mereka.
"Baik, mereka bahkan merindukanmu. Mereka selalu saja memaksaku agar membawamu ke sana, tapi untuk saat ini pasti kamu akan menolak jadi, aku hanya bisa menjanjikan pada mereka jika suatu hari nanti aku akan mengajak kamu bertemu dengan mereka. Kamu harus lihat bagaimana mereka sekarang. Berkat kamu juga mereka sekarang lebih bisa menghormati orang lebih muda ataupun yang hidup dalam kekurangan. Pengaruhmu sangat besar sekali bagi keluargaku dan aku sangat senang. Terima kasih sudah pernah hadir dalam hidupku. Aku harap kedepannya kamu bisa menemaniku menjalani kehidupan selanjutnya. Kita membangun rumah tangga bahagia, baik dunia maupun akhirat."
"Yasa, aku sudah pernah bilang berkali-kali, kalau aku tidak berniat untuk membangun rumah tangga kembali. Aku hanya ingin bahagia itu saja."
"Bahagia bukan berarti hidup sendiri seterusnya. Jangan sama ratakan semua laki-laki yang ada di dunia ini. Mereka semua punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jika dulu aku pernah membuat kesalahan, bukan berarti kedepannya aku juga melakukan hal yang sama. Sebagai seorang pria dan manusia biasa, aku juga ingin menjadi orang yang lebih baik dan aku ingin memulai semuanya bersamamu. Aku harap kamu menerimaku kembali dan kita membangun rumah kita tangga kita dengan bahagia."
__ADS_1
"Aku belum memikirkannya. Maaf, mungkin sekarang lebih baik kita memikirkan masa depan kita masing-masing. Aku ingin membangun kebahagiaanku dulu. Mengenai nanti bagaimana jodoh yang Tuhan berikan, aku akan berusaha ikhlas untuk menerimanya. Kalaupun memang tidak ada yang cocok denganku, biarlah aku hidup sendiri selamanya."
"Tapi aku berdoa agar hanya aku yang bisa serasi dan cocok denganmu. Aku tidak ingin ada orang lain yang bisa menggantikanku."
Adisti menatap ke arah Yasa, mencoba membaca ekspresi pria itu. Entah kenapa sulit sekali untuk melihatnya atau mungkin lebih tepatnya Adisti menolak apa yang dilihat dan enggan untuk membuka hati. Meskipun begitu, dia tetap kagum dengan apa yang dilakukan oleh Yasa. Biarlah waktu yang menjawab perasaannya, dia juga tidak mau terlalu membuka hati, biar semua berjalan dengan sendirinya.
Akhirnya mobil yang dikendarai Yasa pun sampai juga di halaman rumah Adisti. Keduanya turun dari mobil, kemudian Yasa pamit undur diri. Dia tahu wanita itu masih belum nyaman jika dirinya masuk ke dalam rumah, takut nanti akan menjadi fitnah di kalangan para tetangga. Adisti pun bersyukur karena Yasa mengerti bagaimana keadaannya saat ini.
"Nyonya, dari mana saja? Saya tadi khawatir sekali saat melihat Alex pulang sendiri. Dia bilang kalau Nyonya pergi sama orang, tapi saat saya tanya dia malah bilang tidak tahu. D itu sudah bikin Bibi tidak tenang," ujar Bik Rina dengan kesal.
"Alhamdulillah kalau baik-baik saja, tapi kalau Alex sudah tahu ke mana saya pergi, berarti saya baik-baik saja. Bibi tidak terlalu khawatirkanku. Aku kan juga bukan anak kecil, insya Allah bisa menjaga diri."
"Bibi hanya khawatir, buktinya kemarin ada yang menculik Nyonya. Sekarang kita harus hati-hati, siapa tahu penculiknya masih mengincar Nyonya. Saya tidak mau terjadi sesuatu yang buruk. Pokoknya Nyonya harus dikawal ke mana pun."
"Terima kasih bibi sudah mengkhawatirkanku, tapi sekarang aku benar-benar baik-baik saja." Adisti pun mengajak Bibi untuk masuk ke dalam rumah, tubuhnya juga perlu untuk dibersihkan dan istirahat.
"Nyonya mau saya siapkan makan malam?"
__ADS_1
"Tidak perlu, Bik. Saya sudah makan di luar tadi."