
"Sayang, kamu darimana?" tanya Yasa yang sedang duduk di teras.
Dia sengaja menunggu kedatangan sang istri, saat dia bangun dari tidurnya pria itu mencari keberadaan Adisti. Namun, tidak menemukannya hanya ada Om Edwin yang sedang duduk di taman samping rumah. Pria paruh baya itu mengatakan jika Adisti sedang berbelanja bersama dengan Vira. Yasa jadi merasa bersalah, seharusnya dirinya yang mengantar sang istri, tapi wanita itu malah pergi dengan sepupunya. Pasti itu karena dirinya tadi yang ketiduran.
Tidak berapa lama tampak mobil Adisti memasuki halaman rumah, Yasa pun segera mendekat dan membantu sang istri. "Sayang, kamu dari mana saja?"
"Mas, kamu sudah bangun? Tadi saat aku pergi kamu masih tidur, aku sengaja nggak bangunin kamu karena aku tahu kamu pasti capek."
"Aku tadi mencarimu ke mana-mana. Kata Om Edwin kamu berbelanja sama Vira, kenapa tidak membangunkanku?"
Yasa mengikuti sang istri ke belakang untuk mengambil belanjaan yang ada di bagasi. Pria itu pun segera mengambil alih belanjaan yang ada di tangan istrinya.
"Aku nggak enak gangguin kamu tidur. Lagi pula aku juga sudah ada teman, Vira di rumah juga bosan makanya aku ajak jalan-jalan sebentar sebelum dia balik ke kotanya."
"Kalau begitu, kamu nanti malam masak yang banyak ya, Sayang. Soalnya Rio sama ibunya mau datang malam ini," ucap Yasa yang seketika membuat Adisti menatap Vira karena sedari tadi gadis itu tidak mengatakan apa-apa tentang kedatangan Rio dan ibunya. Bahkan sepupunya bilang akan makan di luar bersama pria itu. Mungkin sepupunya memang tidak tahu.
"Bukannya Rio mau ngajakin aku makan malam ini di luar?" tanya Vira yang sedari tadi mendengar pembicaraan suami istri itu.
Yasa menoleh dan menjawab, "Aku mana tahu dengan rencana kalian mau makan di luar atau di rumah. Baru saja Rio kirim pesan jika dirinya dan ibunya mau ke sini. Kamu tanya saja padanya."
Vira mendengus kesal, Rio selalu saja bersikap seenaknya. "Kenapa nggak bilang dari tadi sih! Tahu gitu 'kan aku beli baju di luar. Aku juga nggak bawa baju banyak."
"Sudah, nggak usah terlalu diributkan mengenai tampilmu, apa adanya saja. Ibunya Rio dan Rio ke sini juga mau bertemu denganku dan mengucapkan selamat atas pernikahanku," sahut Yasa dengan santainya. "Ya ... sekaligus ingin tahu juga bagaimana karakter dan kehidupan sehari-hari calon menantunya. Nanti saja kalau acara lamaran baru kamu heboh harus cari baju dan mencari yang lainnya biasa saja." Vira pun segera masuk ke dalam rumah sebelum Adisti semakin mengejeknya.
__ADS_1
Sementara itu, Yasa hanya menggelengkan kepala melihat tingkah sepupunya itu Dia sangat tahu jika Adisti dan Vira memang dari dulu sudah dekat jadi dia tidak asing dengan sikap keduanya.
***
Malam hari, Adisti menyiapkan makan malam bersama Bik Rina, Naina dan juga Vira. Mereka sengaja masak banyak karena akan kedatangan Rio dan ibunya. Di sini juga ada Vira dan Om Edwin pasti meja nanti akan ramai Adisty juga menyiapkan acara barbeque di taman samping rumah, sengaja agar malam ini semua orang bisa bersenang-senang. Tadi juga dia meminta Bik Rina untuk membersihkan dua kamar yang akan ditempati oleh Rio dan juga ibunya. Biar nanti dirinya yang bilang pada mereka agar menginap di rumah ini malam ini.
"Wah! Kamu masak banyak sekali, Dis? Apa akan ada tamu yang datang? Berapa banyak?" tanya Edwin yang baru duduk di meja makan. Tadinya dia datang untuk minta dibuatkan kopi oleh bibi, tetapi melihat hidangan seperti ini tentu saja membuat perutnya meronta meminta diisi.
"Iya, Om memang ada tamu, tapi hanya dua orang kok, Rio dan ibunya. Hanya saja aku tidak tahu selera mereka jadi, aku masak saja semua makanan yang ada di kulkas. Kata Mas Yasa sih ibunya Rio bukan orang yang pemilih soal makanan, asalkan makanannya itu matang pasti akan dimakan. Aku saja yang takut nanti ibunya tidak berselera menjadi aku masak macam-macam menu."
"Sudah seperti restoran saja. Apa kamu mau beralih jadi pengusaha restoran," ucap Om Edwin yang sengaja menggoda keponakannya.
Adisti terkekeh, dia sama sekali tidak tertarik dengan bisnis itu "Aku tidak ahli dalam bidang itu om. Om saja yang membuka restoran nanti aku menanam saham saja."
Bel rumah berbunyi, Yasa yang tahu siapa yang datang pun keluar untuk membukakan pintu. Dia begitu senang saat mendapati ibunya Rio di sana. Yasa segera mencium punggung wanita paruh baya yang sudah dianggap seperti ibunya sendiri. Bu Aisyah segera memeluk atasan sang putra yang sudah seperti putranya sendiri.
"Ibu apa kabar?"
"Baik, kamu sendiri bagaimana? Kamu sehat 'kan?"
"Alhamdulillah, aku sehat, seperti yang Ibu lihat saat ini. Aku bahkan sekarang bertambah berat badannya," sahut Yasa sambil menunjukkan tubuhnya yang berisi.
"Alhamdulillah, itu berarti hidup kamu menyenangkan. Mana istrimu? Ibu mau kenalan," tanya Bu Aisyah sambil melihat ke dalam rumah.
__ADS_1
"Ayo, Ibu masuk dan duduk dulu di sofa, biar aku panggilkan ke dalam."
Bu Aisyah pun mengangguk dan duduk di sofa ruang tamu, sementara Yasa memanggil sang istri yang masih berada di dapur. Bukan hanya Adisti yang mengikutinya, Vira dan juga Edwin mengikuti mereka, dia juga ingin saling mengenal satu sama lain dengan calon besan, Ingin tahu bagaimana sikap ibu Rio.
"Bu, ini kenalkan istriku namanya Adisti," ucap Yasa sambil merangkul tubuh sang istri. Adisti pun tersenyum dan bersalaman dengan wanita paruh baya itu.
Bu Aisyah tersenyum yang menyambut uluran tangan Adisti, tidak lupa juga bersalaman dengan Vira dan juga Edwin.
"Kalau yang perempuan ini namanya Vira, tentu Ibu tahu 'kan siapa dia? Anak Ibu pasti sudah menceritakan banyak hal tentang dia," ucap Yasa yang sengaja ingin menggoda asisten dan sepupunya itu.
Benar saja, Vira akhirnya tersenyum canggung sambil melirik sinis ke arah Yasa. Namun, pria itu sama sekali tidak peduli atau mungkin berpura-pura tidak tahu.
"Oh, jadi ini yang namanya Vira? Cantik. Pantas saja anak Ibu jatuh cinta sama dia," sahut Bu Aisyah yang sengaja menimpali candaan Yasa.
Rio hampir tersedak ludahnya sendiri, bagaimana bisa sang Ibu bicara demikian. Itu sama saja mempermalukan dirinya, padahal dari rumah tadi dia sudah mewanti-wanti sang ibu agar tidak bicara yang macam-macam, tapi tetap saja saat berada di sini ibunya malah ikut-ikutan seperti Yasa.
Adisti yang mendengar pun ikut menahan tawa. Ternyata ibunya Rio tidak seperti yang dia pikirkan. Sepertinya akan sangat menyenangkan berbincang dengan beliau. Wanita itu mengajak tamunya untuk duduk di ruang tamu, tidak lupa juga meminta Bibi untuk membawakan minuman.
"Ibu, berapa lama di kota ini?" tanya Adisti.
"Tidak lama, Neng. Hanya beberapa hari saja. Lagi pula di apartemennya Rio itu membosankan. Ibu tidak bisa pergi ke mana-mana, tidak ada teman juga karena anak Ibu setiap hari kerja."
"Ibu tinggal di sini saja selama di kota ini. Aku pasti senang ada temannya. Apa Ibu tidak bosan tinggal di rumah sama kulkas dua pintu?" tanya Adisti sambil melirik ke arah Rio.
__ADS_1