
"Lihatlah, Bu. Calon menantu Ibu baru datang. Entah sebutan apa yang pantas untuk menantu seperti ini. Kalau saya jadi Ibu, sudah aku kibaskan dia, seenaknya saja membiarkan mertuanya bekerja keras sementara dia berduaan mojok di sana," ucap Adisti saat melihat kedatangan Vira.
"Apaan sih, Dis? Aku juga bicaranya sama Rio masih kelihatan banyak orang. Lagian kami juga nggak melakukan apa-apa, hanya berbicara sebentar," sahut Vira yang membela diri.
Dia juga tidak terima harus diejek di depan calon mertuanya. Sedari tadi dirinya saja belum berbicara banyak hal dengan wanita paruh baya itu, tetapi Adisti selalu saja memojokkan dirinya. Jika tidak ada Bu Aisyah di sini sudah pasti dirinya akan membuat perhitungan dengan sepupunya itu.
"Sudah, kalian jangan bertengkar terus. Sebaiknya hidangkan makanan ini ke sana, semua orang sudah menunggu," perintah Bu Aisyah yang segera dilaksanakan oleh Adisti dan Vira.
Mereka pun membawa hasil bakaran ke tempat yang sudah disediakan untuk makan bersantai bersama. Semua orang menikmati makanan hasil memanggang bersama-sama. Bik Rina dan Naina juga ikut bergabung, itu juga atas permintaan dari Adisti karena dua orang itu juga sudah dari tadi ikut sibuk mempersiapkan segala sesuatunya malam malam ini.
"Ibu, malam ini menginap di sini, ya! Aku sudah menyiapkan kamar untuk Ibu dan juga Rio. Hanya untuk malam ini saja," pinta Adisti pada Bu Aisyah.
Wanita paruh baya itu menatap sang putra, seolah bertanya apakah malam ini tidur di sini atau tidak. Namun, Rio hanya mengangkat kedua bahunya acuh. Pria itu juga terserah pada ibunya jika pulang tidak apa-apa, menginap pun juga tidak apa-apa. Ini juga belum terlalu malam baginya, bahkan dia pernah pulang larut malam.
"Baiklah, untuk malam ini saja," jawab Bu Aisyah yang ditanggapi senyuman oleh Adisti.
Bu Aisyah juga kasihan pada Rio yang menyetir malam-malam. Dia tahu sang putra tidak keberatan, hanya saja seharian bekerja pasti melelahkan dan butuh istirahat cepat. Apartemen Rio juga cukup jauh lebih baik menginap saja malam ini. Lagi pula kamarnya juga sudah disiapkan oleh Adisti.
__ADS_1
Waktu telah berlalu begitu cepat, hingga tidak terasa hidangan pun juga sudah habis. Semua orang sudah mulai mengantuk dan kembali ke kamar masing-masing, tidak lupa juga membersihkan sisa-sisa bakaran malam ini.
Keesokan paginya Yasa harus pergi ke kantor pagi-pagi sekali karena ada meeting. Begitu juga dengan Rio yang harus menemani atasannya. Pria itu ingin memesankan taksi untuk ibunya agar bisa kembali ke apartemen. Namun, Adisti melarang, selain merepotkan takut jika nanti tujuannya salah. Apalagi Bu Aisyah juga belum hafal jalan di kota ini.
Biar saja nanti Vira yang mengantar, anggap saja ini pendekatan dengan mertua. Gadis itu juga tidak ada pekerjaan di sini. Rio pun tidak keberatan karena mengerti maksud dari istri atasannya itu. Vira sendiri tidak keberatan hanya saja dia merasa sedikit canggung. Namun, gadis itu senang karena akhirnya memiliki kesempatan untuk berbicara berdua saja dengan calon mertuanya tanpa diganggu oleh Adisti.
"Nak Vira, kapan kembali ke tempat tinggalnya? Kata Rio tidak tinggal di kota ini?" tanya Bu Aisyah memecah keheningan saat keduanya ada di jalan.
"Iya, Bu, saya memang tidak tinggal di sini. Dulu waktu masih ada almarhumah mama saya tinggal di sini, tapi sejak mama meninggal dan usaha papa di luar kota berkembang saya dan papa pindah ke sana. Besok saya dan papa akan kembali. Kalau ibu sendiri berapa lama akan di sini? Kenapa tidak ikut mas Rio tinggal di kota ini saja?" Tanta Vira balik tanpa melihat calon mertuanya karena harus fokus pada jalanan di depannya.
"Mas Rio punya adik, Bu?"
"Iya, dia punya dua adik, tapi satunya sudah meninggal karena kecelakaan, satu lagi adiknya yang sekarang masih kuliah. Apa Rio tidak pernah menceritakan keluarganya sama kamu?"
Vira hanya menggeleng, dirinya juga belum menceritakan apa pun tentang dirinya dan keluarga, bagaimana mungkin Rio bercerita. "Kami baru saling mengenal, Bu, mana mungkin tahu kehidupan masing-masing. Kepribadian Mas Rio saja terkadang aku tidak bisa menebaknya. Kadang baik, kadang dingin, kadang cuek, kadang juga perhatian. Entahlah mana yang benar."
Bu Aisyah tersenyum. Dia membenarkan apa yang dikatakan calon menantunya. Dirinya saja kadang dibuat kesal oleh putranya apalagi orang lain. "Kamu belum mengenal dia saja. Sebenarnya dia memang baik, hanya saja dia orang yang tidak bisa mengekspresikan perasaannya jadi terkesan tidak diinginkan, tapi nanti setelah kamu mengenal dia luar-dalam, kamu juga pasti akan nyaman berada di dekatnya."
__ADS_1
"Aku kagum sama Ibu yang bisa menempatkan diri dalam keadaan apa pun."
"Maksud kamu?" tanya Bu Aisyah sambil mengerutkan keningnya karena dia benar-benar tidak mengerti maksud ucapan dari calon menantunya.
"Ibu bisa menempatkan diri bergaul dengan Adisti dan juga papa. Maaf nih, Ibu, sebelumnya Ibu dari kampung, tapi menurut saya tingkah laku Ibu tidak terlihat seperti itu. Bahkan aku melihat tingkah laku Ibu seperti mama-mama sosialita zaman sekarang. Maaf, Bu, kalau membuat Ibu tersinggung."
"Tidak apa-apa, saya mengerti. Ibu juga sebenarnya mencoba bersikap apa adanya saja. Ibu tidak suka mengekang sikap anak-anak jadi, anak-anak juga suka terbuka dengan Ibu, tanpa sadar Ibu malah suka mengikuti cara mereka berkomunikasi. Bahkan anak ibu juga sering ngajakin Ibu nonton drakor. Awalnya Ibu tidak suka, tapi lama-lama suka juga." Bu Aisyah terkekeh di akhir kalimatnya, membuat Vira pun ikut tersenyum.
"Anak ibu perempuan?"
"Iya, dia perempuan, tapi cara dandanannya seperti laki-laki, suka pakai celana dan kaos oblong. Kadang Ibu juga kesal sama dia, kenapa nggak pakai rok saja."
"Namanya juga kesukaan, Bu, tidak bisa dipaksakan juga."
Bu Aisyah mengangguk dan kembali berkata, "Ibu juga pengen lihat anak itu pakai rok dan gaun gitu biar cantik, tapi percuma juga yang ada nanti malah bertengkar dengannya. Dia itu sama seperti Rio, orangnya keras kepala, apa yang diinginkan itu yang harus terjadi. Semoga nanti setelah menikah sifat dua anak itu berubah. Ibu juga yakin Rio bisa berubah di tangan kamu."
"Ibu terlalu berlebihan, aku tidak sehebat itu."
__ADS_1