
"Sudah. Maaf aku sampai lupa mengabarimu karena masalahku," ucap Adisti yang merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, lalu bagaimana tanggapan beliau?" tanya Yasa yang sudah tidak sabar.
"Kata Om Edwin minggu depan dia senggang dan akan datang ke sini. Aku juga sudah menghubungi Tante Soraya, beliau bilang kebetulan sedang kosong di hari itu jadi, pasti bisa datang."
"Alhamdulillah kalau begitu. Nanti aku akan mengatakan kepada mama dan papa agar segera menyiapkan segala sesuatunya."
"Tidak usah terlalu berlebihan, apa adanya saja. Aku tidak ingin merepotkan kamu dan keluarga. Kalian sudah sangat baik padaku."
"Namanya juga acara lamaran, aku juga ingin mempersembahkan yang terbaik. Kalaupun nanti aku bilang ke mama jika acaranya sekadarnya saja, pasti mama akan marah karena beliau yang paling antusias dengan rencana pernikahan kita. Sudah, kamu serahkan saja pada mama, biar beliau yang mengatur segala sesuatunya."
Adisti pun akhirnya mengangguk saja. Dia sebenarnya tidak masalah mau acara yang seperti apa, hanya saja dia merasa tidak enak karena dirinya hanyalah seorang janda, sementara Yasa sekarang masih perjaka. Pasti keluarganya juga menginginkan yang terbaik untuk pria itu.
***
Yasa memberitahukan kepada kedua orang tuanya jika keluarga Adisti sudah setuju untuk mengadakan acara lamaran minggu depan. Mama Riana tentu saja sangat bahagia. Dia segera menyiapkan segala sesuatunya untuk dibawa nanti saat lamaran. Wanita itu mencatat semuanya agar nanti tidak terlewat satu pun.
__ADS_1
Yasa juga menyerahkan pada sang mama mengenai pembelian cincin karena Adisti menolak pergi membelinya. Wanita itu sendiri tidak memiliki kriteria untuk memilih cincin jadi, lebih baik calon mertuanya saja yang memilih. Mama Riana begitu sibuk mempersiapkan segala hal. Dia juga menghubungi saudaranya agar bisa datang saat acara lamaran.
Wanita itu ingin keluarganya tahu jika dirinya sebentar lagi akan menikahkan putranya. Meskipun ada beberapa kerabat juga yang menyayangkan jika Yasa harus menikah dengan seorang janda. Padahal masih banyak gadis yang cantik di luar sana. Namun, Mama Liana tidak mempedulikannya.
Bagi wanita itu kebahagiaan sang putra adalah yang utama, apalagi Adisti juga wanita yang baik, tidak ada alasan bagi dia untuk menolaknya. Apalagi hanya karena sebuah status. Yang masih gadis juga belum tentu masih perawan karena di zaman sekarang ini pergaulan bebas sangat merajalela.
Hari Minggu telah tiba, segala persiapan sudah siap semuanya. Keluarga besar Papa Doni juga sudah datang, mereka bersiap untuk pergi menuju rumah calon pengantin wanita. Yasa sendiri sudah dari tadi merasa gugup. Berulang kali dia menarik napas dan membuangnya dengan pelan, takut jika nanti acaranya tidak sesuai dengan keinginannya.
Pria itu sempat kesal pada sang Mama karena juga mengundang sepupunya yang bernama Haris, pria yang selalu saja mengusik kehidupannya. Semoga saja kali ini sepupunya itu tidak membuat ulah saat acara lamaran. Jika tidak pasti dirinya tidak akan membiarkan Harus lolos begitu saja, bahkan keluarganya pun akan menjadi sasarannya.
Benar saja, baru selesai Yasa berdoa agar sepupunya tidak membuat masalah, sekarang sudah membuat dia kesal. Haris tersenyum ke arah Yasa dan akan menyapanya.
Haris pun geram dibuatnya. Namun, dia tetap ingin mengganggu Yasa dan mengejeknya. "Aku dengar dari keluarga katanya calon istrimu itu mantan kekasihmu dulu ya? Sampai sebegitu cintanya kamu sama dia hingga mau balik lagi, bahkan kali ini dia seorang janda. Benarkah seorang Yasa mau menikah dengan janda? Apa kamu tidak laku sampai harus mencari yang bekas?"
Yasa yang tidak tahan pun akhirnya menatap tajam ke arah Haris. Tidak apa jika dirinya yang direndahkan asal bukan Adisti. Dia tidak bisa menerima hal itu.
"Terserah apa katamu, aku tidak peduli, tapi jangan pernah menjelekkan calon istriku. Satu yang aku harap, kamu tidak membuat ulah nantinya. Jika tidak, aku pastikan kamu dan keluargamu tidak akan bisa tenang. Ingatlah jika bisnis papamu saat ini bisa bangkit karena bantuanku. Jika aku menarik sahamku di sana sudah pasti perusahaan itu akan bangkrut jadi, jaga mulutmu dan berhati-hatilah dalam bertindak."
__ADS_1
Yasa segera pergi dari sana, tidak ingin terlalu lama bersama dengan sepupunya yang nantinya malah akan membuat emosi. hari siang masih mematung di tempat mengepalkan tangannya sedari Dulu dia tidak pernah menyukai Yasa selalu saja ada keluarga membanding-bandingkan mereka Dan menganggap dirinya tidak berguna berbeda dengan biasa yang selalu sukses dalam segala hal kita lihat saja nanti aku akan membuat pernikahanmu kali ini gagal aku yakin kalau jalan istrimu pasti dengan mudah aku taklukan Aku penasaran siapa sih sebenarnya calon istri apa aku mengenalnya karena semua mantanmu aku juga mengenalnya Aku mau Haris sambil menatap kepergian Yasa.
***
Sementara itu, di rumah kediaman Adisti semua orang sudah menunggu kedatangan tamunya baik Om Edwin dan Vierra maupun tanpa suara dan suaminya pun sudah datang ada juga beberapa tetangga dan ketua RT setempat yang sengaja Adisti undang karena memang dia tidak memiliki banyak saudara
"Keponakan Tante cantik sekali," puji Tante Soraya pada Adisti.
"Tante bisa saja. Aku cuma pakai make up apa adanya saja kok!"
"Tapi beneran kamu cantik sekali. Itu juga pasti karena memang kamu dari dulu cantik," ucap Tante Soraya yang kemudian meraih kedua telapak tangan Adisti dan menggenggamnya. "Tante harap kali ini calon suamimu bisa mendampingimu sampai akhir hayat. Sudah cukup apa yang terjadi dalam pernikahanmu kemarin. Tante hanya ingin kamu selalu bahagia. Tempat tinggal Tante juga jauh, tidak bisa setiap hari mengawasimu."
"Meskipun Tante tidak setiap hari ada di sampingku, tapi Tante selalu menghubungiku dan menanyakan kabarku, itu saja sudah cukup bagiku. Aku merasa sudah begitu diperhatikan Aku tahu Tante juga sibuk karena tante juga bekerja dan memiliki keluarga. Aku tidak mungkin merepotkan Tante terlalu banyak."
"Tapi kamu juga jangan sungkan untuk menghubungi Tante kalau terjadi sesuatu padamu. Bagaimanapun juga kamu sudah Tante anggap seperti putri sendiri."
"Iya, Tante jangan khawatir. Apa pun yang terjadi aku akan mengadu pada Tante, bahkan nanti saat suamiku sedang marah aku pasti akan mengadu sama Tante," sahut Adisti dengan tersenyum.
__ADS_1
Tentu saja itu semua bohong. Tidak mungkin dia menceritakan tentang kehidupan rumah tangganya pada orang lain. Meskipun itu tantenya sendiri. Dulu saja saat rumah tangganya dengan Bryan bermasalah dia tidak pernah bercerita dengan siapa pun, apalagi nanti. Adisti hanya ingin berbagi kebahagiaan saja dengan keluarganya.