
Setelah berhari-hari berusaha menemuinya Adisti, tetapi tidak berhasil, akhirnya pagi ini Mama Lusi bisa juga bertemu dengan Adisti di rumah mantan menantunya itu tentunya. Dia sengaja datang pagi-pagi sekali sebelum Adisti keluar dari rumah dan sengaja menunggu di depan rumah, tanpa masuk ke dalam karena pasti pemilik rumah menolak bertemu dengan berbagai alasan dan akan mengusirnya.
"Aku ingin bicara denganmu, hanya sebentar saja," ucap Mama Lusi begitu Adisti menurunkan kaca mobilnya.
"Tapi maaf, Bu Lusi. Saya sedang terburu-buru, saya harus segera pergi ke butik."
"Hanya sebentar saja, kenapa kamu sekarang sombong sekali? Saya tahu kalau kamu orang kaya, tidak bisakah kamu menghargai saya yang sudah jauh-jauh datang ke sini?" tanya Mama Lusi dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin.
Adisti menghela napas dan akhirnya kembali masuk ke dalam rumah. Dia meminta satpam untuk membukakan pintu pagar agar Mama Lusi bisa masuk. Wanita itu juga tidak memiliki banyak waktu, harus segera pergi.
"Sekarang katakan apa yang Anda inginkan? Saya tidak punya banyak waktu," ucap Adisti tanpa ingin berbasa-basi.
"Saya ingin kamu membebaskan Bryan. Kamu 'kan yang sudah melaporkan Bryan ke kantor polisi? Bagaimanapun juga Bryan pernah memiliki hubungan denganmu, pernah menjadi suamimu. Setidaknya tolong hargai dia, cabut laporan kamu itu."
Adisti menggeleng pelan, sebenarnya dia sudah mengira jika mantan mertuanya akan membicarakan hal ini. Namun, wanita itu sudah bertekad tidak akan pernah mencabut laporan itu. Tindakan yang dilakukan Arsylla dan Bryan sudah keterlaluan.
"Maaf, Bu Lusi. Saya tidak akan mencabut laporan itu. Bagaimanapun juga Bryan sudah bersalah dan dia sudah melakukan tindak kriminal. Bagaimana bisa saya membenarkan hal itu? Apalagi sampai membuat nyawa saya terancam. Saya tidak mau keselamatan saya terancam."
"Maksud kamu apa? Apa hubungannya perusahaan tempat Bryan bekerja dengan kamu?"
Adisti memandangi wanita di depannya, sepertinya dia belum mengetahui secara detail apa saja yang sudah dilakukan Bryan. Kalau dirinya yang menjelaskan sudah pasti tidak akan percaya, tetapi jika diam saja juga tidak akan mengerti.
__ADS_1
"Bu Lusi sudah datang ke kantor polisi, kan? Pasti Anda juga sudah tahu ceritanya, kenapa malah bertanya lagi?"
"Saya memang sudah datang ke sana, tapi putraku ditangkap karena sudah mencuri data perusahaan, itu saja. Tidak ada yang lebih, apa lagi sampai membahayakan nyawa kamu," sahut Mama Lusi dengan ketus.
"Mengambil data perusahaan itu sudah termasuk tindak kriminal, kenapa Anda seolah menyepelekannya? Perlu Anda tahu jika pemimpin perusahaan itu adalah tunangan saya. Saat itu Bryan dan Arsylla membayar orang untuk mencelakaiku agar tunanganku menyelamatkanku dan tidak berada di kantor, sehingga Bryan bisa beraksi dengan bebas, itulah yang terjadi. Sekarang Anda berbicara seolah mereka tidak bersalah dan menginginkan putra Anda bebas begitu saja. Apa Anda sehat? Sampai kapan pun saya tidak akan pernah mencabut laporan itu."
"Dasar kamu sombong, keras kepala, pantas saja Bryan menceraikan kamu! Kamu memang tidak pantas untuk menjadi istrinya!" teriak Mama Lusi yang sudah sangat kesal pada mantan menantunya.
Bukannya marah Adisti malah tertawa terbahak-bahak. Sungguh wanita di depannya ini tidak sadar diri dengan apa yang sudah terjadi kemarin. Apa perlu dia memukul kepalanya agar ingatannya kembali.
"Apa Anda sadar dengan apa yang Anda katakan, Bu Lusi? Yang mengajukan gugatan cerai itu saya. Kenapa Anda bilang Bryan yang menceraikan saya? Justru dia yang memohon-mohon padaku untuk tidak menceraikannya karena sumber keuangannya sudah tidak ada. Ibu masih ingat 'kan jika saat ini Ibu tidak memiliki pemasukan lagi? Biasanya 'kan saya yang mentransfer uang ke rekening Anda," ujarnya dengan nada mengejek.
Sudah lama dia tidak bekerja, suaminya juga sudah meninggal. Erick? Jangan tanyakan tentang putranya yang satu itu, bahkan sekarang Mama Lusi tidak lagi berkomunikasi dengannya. Wanita itu juga tidak tahu apakah sampai saat ini Erick masih kuliah atau tidak karena anak itu menolak uang kirimannya.
"Sepertinya sudah tidak ada lagi yang harus kita bicarakan. Saya ada pekerjaan dan tidak bisa berlama-lama di sini. Saya harap Anda segera pergi dan tidak membuat keributan di rumah saya. Jika tidak mungkin Anda akan bernasib sama seperti putra Anda saat ini."
Mama Lusi mengepalkan kedua tangannya dan segera pergi dari sana tanpa mengucapkan satu kata pun. Dia bingung harus berbuat apa lagi agar bisa membebaskan sang putra, apakah dirinya harus mendatangi pemilik perusahaan tempat Bryan bekerja dan memohon agar membebaskan sang putra, tetapi Mama Lusi sama sekali tidak mengenalnya dan tidak tahu atasan di sana orang yang seperti apa. Sungguh memikirkan hal ini membuat kepalanya semakin sakit, tidak tahu lagi harus meminta bantuan kepada siapa.
***
Rencana pernikahan Adisti dan Yasa sudah hampir selesai, semuanya ditangani oleh WO terkenal. Adisti sengaja menyerahkan semuanya pada pihak WO karena dirinya juga banyak pekerjaan dan juga harus menyelesaikan gaun pengantinnya sendiri. Dia bahkan menolak beberapa pesanan gaun karena ingin fokus untuk pernikahannya.
__ADS_1
Ada beberapa juga pembeli yang memaklumi kesibukan Adisti dan tidak masalah jika mengerjakan pesanannya setelah pernikahan nanti. Kedua calon pengantin juga tidak memiliki rencana untuk bulan madu. Mereka memiliki tanggung jawab pekerjaan yang masih belum bisa ditinggalkan untuk saat ini.
Satu minggu sebelum acara, Adisti sudah tidak lagi pergi ke butik dan memilih berdiam diri di rumah. Dia menyerahkan semua pekerjaan pada Naina. Adisti sudah sangat percaya pada gadis itu, dia yakin Naina tidak akan mengkhianatinya karena sudah berkali-kali lolos ujiannya.
"Naina, kalau baju untuk keluarga Yasa sudah siap, kamu kirim saja ke rumah keluarga Yasa. Bilang saja dari butikku pasti mereka mengerti," ucap Adisti di satu pagi sebelum Naina pergi ke butik.
"Iya, Bu, semuanya juga sudah selesai, hanya tinggal packing saja."
"Baguslah. Jangan sampai ada yang mengecewakan, nanti kamu minta antar Alex saja."
Seketika Naina menoleh dan berusaha menolaknya. "Saya bisa pergi sendiri, Bu. Kalau Alex sama saya, ibu bagaimana?"
Bukan tanpa alasan Naina menolak perintah Adisti. Hanya saja dia merasa tidak nyaman jika berdua satu mobil dengan Alex. Apalagi pria itu sudah memiliki istri, takutnya nanti malah akan timbul fitnah dan jadi masalah.
"Kamu ini bagaimana sih! Aku kan di rumah saja tidak ke mana-mana jadi, biar kamu di antar saja. Pekerjaan kamu juga banyak, jangan terlalu lelah. Nanti kalau kamu lelah tidak bisa datang di acara pernikahan saya."
"Iya, Bu, terima kasih. Saya pasti akan datang di pernikahan ibu walaupun saya sedang sakit. Saya tidak akan melewatkan hari paling bahagia buat Ibu karena bagi saya Ibu juga sudah saya anggap seperti kakak sendiri."
"Terima kasih, kamu dan Bik Rina selalu baik padaku."
Naina pun pamit untuk segera pergi ke butik. Mau tidak mau akhirnya dia pergi bersama Alex. Ini juga urusan pekerjaan, mudah-mudahan tidak ada masalah.
__ADS_1