
"Vir, menurutmu Yasa bagaimana?" tanya Adisti saat dirinya dan Vira terlibat panggilan video call.
Adisti sudah berada di rumah, sedari tadi dia masih memikirkan jawaban untuk Yasa. Semakin dipikirkan justru semakin membuatnya bingung dan sakit kepala, hingga memutuskan untuk menghubungi Vira, sepupunya memang paling bisa diandalkan dalam hal seperti ini. Mudah-mudahan dia bisa mendapatkan jawaban dari kegelisahan hatinya.
"Yasa? Kenapa tiba-tiba kamu bertanya tentang Yasa kepadaku? Apa sudah terjadi sesuatu pada kalian?" tanya Vira yang penasaran.
Akhirnya Adisti pun menjelaskan apa yang terjadi tadi dan apa saja yang sudah dikatakan oleh Yasa saat mereka berdua. Vira hanya diam mendengarkan. Dia senang akhirnya pria itu berani juga mengungkapkan perasaannya pada sang sepupu, padahal sebelumnya gadis itu sudah memaksa Yasa untuk berbicara, tetapi selalu kalah dengan keadaan.
Sekarang justru keadaannya tidak mendukung karena orang tua pria itu yang tiba-tiba hanya memberi waktu satu minggu. Akan lebih mudah jika Adisti tidak keras kepala dan membuka hatinya, tetapi ini tidak sama sekali.
"Aku juga tidak tahu harus memberi saran bagaimana. Ini mengenai hatimu, hanya kamu yang tahu bagaimana isinya. Jujur kalau aku ditanya bagaimana pendapatku tentang Yasa, tentu saja hal-hal yang baik yang pasti akan aku katakan. Selama aku mengenalnya dia memang pria yang baik, hanya saja dia sebagai laki-laki kurang tegas dan mudah kasihan pada orang lain. Aku sudah menjelaskan padamu sebelumnya, tidak perlu aku jelaskan lagi tentang dirinya. Semua keputusan ada padamu, tanyakan hatimu apa yang seharusnya kamu lakukan. Apakah kamu ikhlas jika dia menjadi milik orang lain? Apa kamu sanggup melihat dia bersanding dengan wanita lain? Dan apa kamu bisa menjalani hidup tanpa dengan adanya dia di sisimu? Pikirkan semuanya baik-baik, jangan hanya karena kamu ingin mengubur perasaanmu sendiri, kamu mengorbankan segalanya."
"Akan aku pikirkan. Terima kasih sudah mau mendengar tentang aku."
"Tentu saja, siapa lagi yang mau mendengar ceritamu selain aku. Oh ya, aku juga meminta maaf atas apa yang sudah papa lakukan padamu. Jujur aku sangat malu padamu. Setelah apa yang sudah papa lakukan, kamu masih bersikap baik kepadaku."
"Kamu ini bicara apa sih! Memang apa yang Om Edwin lakukan?" tanya Adisti yang pura-pura tidak mengerti.
"Kamu tidak perlu berbohong, papa sudah menjelaskan semuanya. Jujur aku juga kecewa pada papa karena sudah berniat untuk mencelakaimu, tapi mau bagaimanapun juga dia papaku. Apalagi dia melakukan semuanya juga karena aku. Itulah kenapa aku harus meminta maaf padamu."
__ADS_1
"Sudah, lupakan saja. Aku juga sudah melupakan kejadian itu. Kita adalah saudara, sudah sepantasnya untuk saling membantu, jangan terlalu dipikirkan."
"Terima kasih, kamu memang selalu baik pada siapa pun."
Adisti hanya tersenyum. Meskipun dalam hati ingin sekali dia membalas apa yang sudah dilakukan, tapi hati nuraninya berkata bahwa itu akan sia-sia jadi, lebih baik melupakan semuanya. Lagipula selama ini Edwin juga baik padanya, anggap saja apa yang dilakukan Adisti sebagai bentuk balas budi.
"Mengenai Yasa bagaimana? Apa kamu sudah menemukan jawabannya?" tanya Vira.
"Belum. Aku bingung makanya aku menghubungi kamu untuk meminta pendapat, tapi kamu malah balik nanya ke aku."
"Apa pun yang menjadi keputusanmu aku pasti akan mendukung dan aku yakin keputusanmu tidak akan salah. Kalaupun suatu hari nanti ada masalah yang tidak terduga, anggap saja itu adalah bagian dari takdir yang harus kamu jalani."
"Terima kasih, hatiku sudah lebih tenang. Apa pun nanti jawabannya aku harus siap dengan segala konsekuensinya." Adisti pun mengakhiri panggilan karena dia tidak mau mengganggu sepupunya yang pastinya ingin istirahat.
Hari Sabtu yang dinantikan telah tiba. Sepanjang hari Yasa selalu gelisah, dia tidak sabar menunggu sore hari, ingin tahu bagaimana jawaban yang akan diberikan oleh Adisti. Meskipun pria itu sudah meyakinkan hatinya bahwa dirinya sudah ikhlas dengan apa pun jawaban wanita itu, tetapi tetap saja dia gelisah.
Yasa juga sengaja hari ini tidak pergi ke kantor dan menikmati tiap detik dengan kegelisahan. Kalaupun pergi juga percuma, nanti dia tidak akan bisa konsentrasi dengan pekerjaan jadi, pria itu menyerahkan semuanya pada Rio. Tidak jauh berbeda dengan Yasa, Adisti yang saat ini berada di butik pun begitu gelisah. Dia ragu harus memberi jawaban apa nanti malam.
Berhari-hari sudah berpikir, tapi tetap saja dia ragu takut jika keputusannya adalah kesalahan. Mengingat sebelumnya dia sudah memilih jalan yang salah dan tidak ingin melakukan kesalahan lagi. Akan tetapi, bukankah itu hal yang wajar jika setiap keputusan pasti ada kebaikan dan kejelekannya sendiri-sendiri.
__ADS_1
"Maaf, Bu Adisti, sepertinya dari tadi saya lihat Anda sedang gelisah. Apa ada masalah?" tanya Nadia yang memang tidak mengetahui apa pun.
"Tidak apa-apa, Nadia. Kamu kerjakan saja pekerjaanmu. Aku cuma sedang ada masalah pribadi saja," jawab Adisti yang mencoba untuk terlihat biasa saja.
"Saya hanya ingin memberikan laporan bulanan ini," ucap Nadia sambil menyerahkan sebuah map.
"Kamu boleh keluar. Nanti kalau ada sesuatu, akan aku panggil lagi. Map ini biarkan saja di sini, nanti kalau senggang akan aku periksa."
"Baik, Bu, kalau begitu saya permisi." Nadia segera pergi dari sana.
Sementara itu, Adisti kembali melamun memikirkan kembali jawaban yang akan dia berikan pada Yasa. Hingga tidak terasa waktu pun beranjak petang. Pegawai butik bersiap untuk menutup toko. Beberapa karyawan yang sudah selesai dengan pekerjaannya memilih untuk pulang. Kini hanya tinggal Adisti bersama dengan Nadia dan Naina.
"Kalian pulanglah dulu. Butik nanti biar aku yang menguncinya," ucap Adisti yang baru saja keluar dari ruangannya.
Nadia dan Naina saling berpandangan. Keduanya ragu meninggalkan atasannya seorang diri di sini. Adisti yang mengerti perasaan keduanya pun berkata, "Kalian tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku baik-baik saja, biasanya juga seperti ini, kan?"
"Baiklah kalau begitu. Bu, ini kunci mobil Ibu, biar saya naik taksi saja," ucap Naina.
Adisti pun menerimanya, dia juga tidak tahu jam berapa dirinya akan pulang jadi, lebih baik membawa kendaraan sendiri. Naina bisa pulang dengan taksi online karena memang sekarang masih jam operasional, pasti banyak kendaraan yang lewat.
__ADS_1
Setelah Nadia dan Naina pergi, kini Adisti tinggal seorang diri. Dia bingung harus melakukan apa, sementara waktu berputar begitu cepat. Padahal dirinya masih belum siap untuk memberikan jawaban, tetapi sepertinya sampai kapan pun wanita itu tidak akan siap. Kali ini Adisti harus mengambil keputusan dengan cepat, semoga saja apa yang menjadi pilihannya kali ini tidak akan salah.
"Bismillah. Semoga apa yang akan aku putuskan hari ini memang yang terbaik untuk kehidupanku. Semoga tidak akan ada penyesalan di kemudian hari. Aku yakin ini adalah pilihan yang terbaik dan aku siap untuk menerima segala sesuatunya," gumam Adisti yang segera beranjak dari tempat duduknya.