Janji Yang Kau Ingkari

Janji Yang Kau Ingkari
90. Dia orang baik


__ADS_3

Adisti membuka mata, pandangan yang dilihatnya pertama kali adalah dada Yasa karena semalam dia tidur dalam pelukan sang suami. Wanita itu pun mendongakkan kepala dan akhirnya bisa melihat wajah tampan Yasa yang sedang tidur. Adisti tersenyum mengingat kejadian semalam.


Keduanya memang sudah melakukan malam pertama. Perasaan bersalah pada Yasa mulai Adisti rasakan karena dirinya bukanlah gadis perawan, sementara pria itu masih perjaka. Memang semua ini sudah menjadi takdir keduanya yang harus disatukan setelah dirinya pernah menjadi milik orang lain.


"Aku tahu aku sangat tampan, tapi tidak perlu dipandangi terus seperti itu," ucap Yasa yang masih memejamkan matanya.


Seketika Adisti gelagapan. Ternyata saat dirinya memperhatikan sang suami, pria itu sudah terbangun hanya saja pura-pura tidur. Wanita itu pun mencoba melepaskan diri dari pelukan Yasa. Namun, sang suami justru semakin mempererat pelukannya.


"Tidak apa-apa jika kamu terus menatapku. Aku justru senang."


Adisti memukul pelan dada sang suami karena kesal diejek oleh pria itu. "Siapa yang lihatin kamu? Aku mau bangun." Adisti menggerakkan tubuhnya, berharap Yasa mau melepaskannya, terapi sepertinya itu hanya angan semata.


"Oh ya! Kalau begitu aku saja yang terlalu percaya diri." Yasa membuka mata dan menatap wajah cantik sang istri. "Terima kasih untuk semalam, kamu memberikanku sesuatu yang di dunia ini begitu indah."


"Indah bagaimana? Nyatanya itu bukan yang pertama untukku. Maafkan aku tidak bisa mempersembahkan untukmu yang paling spesial," ujar Adisti dengan menundukkan kepala.


"Jangan bilang seperti itu. Bagiku semalam itu sudah sangat luar biasa. Jangan pernah merasa rendah diri, aku paling tidak suka mendengarnya."


Adisti tersenyum dan mengangguk, dia bersyukur memiliki suami seperti Yasa. "Ini sudah subuh, Mas. Lepaskan aku, aku mau mandi dulu."


"Bagaimana kalau kita mandi bareng?" tanya Yasa yang sengaja ingin menggoda istrinya.


"Nggak mau, aku malu," jawab Adisti sambil menyembunyikan wajahnya di balik selimut.

__ADS_1


"Malu apanya, saat ini saja kamu masih belum memakai apa-apa." Yasa semakin menggoda sang istri, membuat Adisti bertambah malu.


"Pokoknya aku nggak mau, aku malu." Adisti pun menarik selimut dan segera bangun.


Yasa sama sekali tidak menghalangi Adisti. Lagi pula sebentar lagi juga waktu subuh dan dia tidak mau karena ingin menggoda istrinya melupakan kewajibannya.


Setelah salat subuh, Adisti dan Yasa bersiap, keduanya akan pulang pagi ini. Tadi Adisti sudah menghubungi Naina dan mengatakan kalau akan sarapan pagi di rumah saja agar disiapkan dari sekarang. Mereka juga malas pergi ke restoran. Meskipun di hotel juga menyediakan sarapan, tetapi Adisti lebih suka makan di rumah.


Yasa pun mengikuti keinginan sang istri saja, baginya makan di mana pun asalkan ditemani seorang istri rasanya pasti lebih enak dari makanan hotel bintang lima. Apalagi di rumah Adisti juga masih ada Vira dan Om Edwin. mereka semalam menginap di sana, pasti suasana terasa ramai dan menyenangkan.


Adisti dan Yasa baru sampai di rumah, keduanya pun langsung masuk karena pintu juga tidak dikunci. Tampak Om Edwin sedang menikmati kopinya di ruang keluarga seorang diri. Entah di mana Vira saat ini.


"Selamat pagi, Om, Vira mana?" tanya Adisti sambil menyalami omnya itu diikuti oleh Yasa.


Kebetulan Adisti dan Yasa sudah sangat lapar setelah tenaganya terkuras semalam. Ketiganya pun pergi ke ruang makan dan ternyata benar ternyata sudah selesai menyiapkan sarapan pagi.


"Mas, aku boleh tanya tentang Rio nggak?" tanya Adisti saat akan menikmati sarapannya.


Yasa mengerutkan kening dan kembali bertanya, "Kenapa harus tanya tentang Rio, Sayang? Kamu 'kan sudah menjadi istriku, apa pentingnya tentang asistenku itu?"


Adisti kesal karena sang suami terlalu melebih-lebihkan sesuatu. "Ini bukan buat aku, Mas, tapi buat Vira. Kemarin dia nanyain tentang Rio, sedangkan aku kan nggak tahu apa-apa jadi, aku bilang saja suruh dia ber—"


Adisti tidak bisa meneruskan kata-katanya karena Vira sudah membungkam mulut sepupunya itu dengan tangannya. Gadis itu benar-benar kesal karena Adisti seenaknya saja membicarakan dirinya. Apalagi ada Yasa di sini, takut jika pria itu mengatakan secara langsung pada Rio.

__ADS_1


"Kamu apa-apaan sih, Adis. Siapa juga yang nanyain tentang asisten itu? Jangan bikin aku malu," bisiknya yang masih bisa didengar Yasa yang ada di samping Adisti.


"Tidak apa-apa, Vir. Kenapa harus malu? Tidak ada salahnya menjalin hubungan dengan seorang pria. Apalagi prianya itu masih single, kecuali kalau sudah punya istri, baru jadi masalah dan membuat malu," ucap Yasa yang sengaja ingin menggoda sepupu Adisti yang sekarang juga menjadi sepupunya.


"Kalian ini kompak sekali mengejekku. Sudahlah." Vira menghentakkan kakinya dan lebih memilih duduk di kursi untuk menikmati sarapannya.


Sementara itu, Adisti melihat sepupunya yang merajuk hanya terkekeh, baginya itu terlihat sangat lucu. "Memangnya kamu beneran tidak mau tahu tentang asisten Rio? Mumpung suamiku di sini jadi, kamu bebas bertanya. Nanti kalau dia pergi kamu menyesal, ingin tahu sebenarnya Rio itu siapa dan kepribadiannya bagaimana."


Vira terus menikmati sarapannya dan tidak memedulikan apa yang dikatakan oleh pasangan suami istri itu. Om Edwin yang sadari tadi mendengarkan mendengarkan perbincangan mereka pun hanya bisa menggelengkan kepala. Dia juga sudah setuju jika memang benar-benar Rio menjadi menantunya karena memang pria itu orang baik.


Edwin sudah mencari tahu tentang apa saja yang berkaitan dengan pria itu dan ternyata tidak sulit. Semua bisa dia dapatkan dengan baik. Setiap orang pasti memiliki sisi baik dan buruk, begitu juga dengan Rio. Namun, bagi Edwin itu tidak masalah asalkan asisten itu bisa membuat putrinya bahagia, itu sudah cukup.


"Sudah Kalian tidak usah menggodanya seperti itu, yang ada nanti dia merajuk dan membuat Om bingung harus bagaimana membujuknya. Perlu kalian tahu, Om punya kabar terbaru."


Yasa dan Adisti saling berpandangan, keduanya penasaran kabar apa yang dibawa pria paruh baya itu. "Kabar terbaru apa, Om?"


"Rio dan Vira sudah memutuskan untuk saling mengenal satu sama lain jadi, kalian tidak usah mengkhawatirkan hubungan mereka."


Seketika wajah Adisti bersinar, dia sangat senang mendengarnya. Ternyata dirinya sudah telat mendengar info tersebut. Yasa juga ikut senang karena orang yang dianggap keluarga akhirnya akan menemukan kebahagiaannya.


"Wah! Satu kemajuan yang pesat. Aku tidak menyangka kalau kamu bisa sampai di titik itu dan Rio, aku tidak menyangka jika asisten kamu itu bisa seperti ini, Mas!" seru Adisti senang.


"Aku juga terkejut mendengarnya, tapi syukurlah jika Rio dan Vira memang memutuskan untuk saling mengenal. Bukannya aku mau membela asistenku, tapi Rio adalah pria yang baik, aku harap kamu mau mengenalnya lebih dalam. Dia sudah aku anggap seperti saudara sendiri dan aku tidak ingin dia terluka," ujar Yasa pada Vira yang hanya diangguki gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2