Janji Yang Kau Ingkari

Janji Yang Kau Ingkari
41. Pengganggu lagi


__ADS_3

Adisti dan Vira baru saja pulang dari butik. terlihat di depan gerbang ada orang yang sedang menunggu mereka. Keduanya sangat tahu siapa orang itu, yang tidak lain adalah Bryan. Pria itu tidak hanya sendiri, tapi juga datang bersama ibunya. Entah apalagi yang mereka inginkan lagi, padahal Adisti sudah memutuskan semua hubungan dan tidak ingin berurusan lagi dengan mereka.


Begitu melihat mobil Adisti datang, Lusi pun berjalan menghadang laju mobil wanita itu. Vira yang melihat pun jadi kesal dan segera turun dari mobil. Adisty sudah melarangnya, tetapi memang kesabaran Vira tidak besar jadi, mudah terpancing. Dia tidak peduli larangan sepupunya.


"Hei! Kalau mau bunuh diri jangan di depan mobil orang, gantung diri saja lebih mudah. Kalau di depan mobil orang, itu hanya akan menyusahkan orang lain. Hidup sudah nyusahin, mati pun masih mau nyusahin orang!" teriak Vira sambil berkacak pinggang.


Lusi yang mendengar pun naik pitam, bisa-bisanya dia dikatakan ingin bunuh diri. Padahal wanita itu hanya ingin berbicara dengan Adisti. Lusi yakin menantunya itu akan keluar jika dirinya sudah seperti ini.


"Siapa yang mau bunuh diri? Saya ingin bicara dengan Adisti, suruh dia turun dari mobilnya! Saya masih ada urusan sama dia!" seru Lusi dengan menatap tajam Vira.


"Urusan apa? Kalau masih ada yang perlu diselesaikan, katakan saja padaku. Nanti akan aku sampaikan sama dia."


"Kamu siapa? Berani-beraninya ikut campur dalam rumah tangga orang lain?"


"Kalau kamu ikut campur dalam urusan rumah tangga anak-anakmu, aku juga akan ikut campur. Perkenalkan, aku sepupunya Adisti, berhak ikut campur juga. Jangan mentang-mentang kamu adalah ibunya jadi berhak mengatur rumah tangga anakmu. Urus saja ************ anakmu itu yan suka bergonta-ganti pasangan. Jangan urusin kehidupan orang lain Apalagi sebentar lagi hubungan anakmu dan sepupuku juga akan berakhir!"

__ADS_1


Bryan yang mendengan ucapan Vira jadi begitu kesal. Segera dia mendekat dan menumpahkan kekesalannya. "Vira, kamu jangan kurang ajar. Bagaimanapun mamaku lebih tua, seharusnya kamu menghormatinya. Lagipula aku bukan pria seperti yang kamu tuduhkan. Aku tidak pernah bergonta-ganti pasangan. Sahna dan aku sudah menikah jadi, pasangan halalku. Kami tidak berzina dan aku tidak pernah main dengan wanita lain di luaran sana."


"Maling mana ada yang mau ngaku."


Wajah Bryan menyerah karena marah. Andai saja Vira bukan wanita, dia sudah pasti akan menghajarnya. Lagipula di sini ada Adisti, pria itu tidak ingin menambah kesan buruk.


"Kamu jangan seenaknya berbicara. Anak saya ini pria baik-baik, kalau Adisti bisa memberinya anak, dua juga tidak akan mengkhianatinya jadi, salahkan saja sepupumu itu!" seru Lusi tanpa sadar sudah menghina Adisti. Padahal bukan itu maksudnya tadi.


"Ma, jangan seperti ini dong! Kalau Mama emosi seperti ini, yang ada nantinya Adisti tidak mau bicara dengan kita. Apa Mama sadar dengan apa yang Mama katakan tadi? Mama harus bicara dengan pelan-pelan."


Adisti yang ada di dalam mobil sudah jelas mendengar perdebatan mereka. Dia sengaja tidak turun karena tidak ingin menambah masalah. Wanita itu memutar bola matanya malas melihat tingkah Bryan dan Lusi dan segera turun dari mobil. Alex yang melihat atasannya turun pun segera ikut. Dia tidak ingin gagal dalam menjalankan tugasnya.


Memang selama ini saat bekerja dengan Adisti, Alex tidak banyak pekerjaan yang dilakukan, hanya sebagai sopir saja. Padahal sebelumnya dia berpikir bahwa nanti akan ada banyak orang-orang jahat yang akan melukai majikannya, ternyata apa yang dipikirkan salah. Hanya orang-orang dari masa lalunya saja yang suka mengusik kehidupan Adisti.


"Ada apa Anda ingin mencariku? Bukankah sudah aku katakan jika kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi? Jadi untuk apa datang ke sini lagi?" tanya Adisti yang sudah muak dengan tingkah Lisa.

__ADS_1


Sebisa mungkin Lisa menampilkan senyum manisnya. Dia ingin memberi kesan yang baik dan berharap tujuannya datang ke sini bisa terwujud.


"Apa tidak sebaiknya kita bicara baik-baik di dalam?" tanya Lusi sambil melirik ke arah rumah yang dulu selalu dia datangi semaunya. "Di sini banyak orang lewat, takutnya akan mengundang perhatian tetangga kamu."


"Tidak apa-apa, aku juga sudah terbiasa kedatangan tamu yang membuat onar di kompleks ini jadi, sekarang bertambah satu pun tidak masalah. Warga di sini juga pasti akan mengerti. Sekarang katakan saja tujuan kalian datang ke sini, setelah itu kalian boleh pergi."


Lusi sangat kesal dengan menantunya. Wanita itu tidak bisa menyalahkannya secara langsung, yang ada nanti malah akan membuat dirinya repot karena keinginannya tidak tercapai. Lusi memberi kode pada putranya agar berbicara lebih dulu, tetapi sepertinya laki-laki itu kebingungan harus bicara dari mana. Padahal tadi di rumah mereka banyak membicarakan hal ini.


Vira memutar bola matanya jengah. "Kalau kalian tidak ingin bicara, sebaiknya pulang saja. Kami sudah lelah ingin istirahat, seharian bekerja cari uang itu sangat melelahkan."


Vira akan menarik tangan sepupunya, tetapi Bryan lebih dulu berbicara. "Tunggu, Dhek. Aku ingin bicara sama kamu. Aku mohon padamu untuk menarik kembali gugatan perceraian kita. Aku tidak bisa berpisah denganmu, aku masih sangat mencintaimu. Pikirkan semuanya baik-baik, sudah berapa banyak waktu tang sudah kita habiskan bersama. Banyak sekali kenangan yang sudah kita ciptakan. Apa begitu mudahnya kamu melupakan itu semua? Aku mohon pikirkan kembali, aku yakin dalam hatimu pasti masih ada cinta untukku. Kita bisa memperbaiki semuanya bersama-sama."


Adisti menatap Bryan dengan tajam dan berkata, "Kalau kamu mencintaiku, kamu tidak akan pernah menduakanku seperti yang kamu lakukan. Cinta? Kamu hanya mencintai hartaku dan apa yang sudah aku miliki. Seharusnya kamu tanyakan pada dirimu sendiri sebelum mengkhianatiku. Tidakkah kamu memikirkan rumah tangga yang sudah kamu bangun, sebelum menghadirkan orang ketiga di tengah-tengah kita? Kenapa menyalahkanku atas apa yang terjadi? Kenapa kamu tidak memikirkan semuanya dari awal? Rasanya percuma juga bicara denganmu, kamu tidak akan pernah mengerti apa arti dari kesetiaan dan saling menghargai pasangan satu sama lain. Dari dulu kamu selalu ingin menang sendiri, tanpa memikirkan bagaimana perasaanku dan apa yang aku rasakan. Untuk kali ini sudah cukup, aku sudah sangat lelah dengan keberadaan kamu yang tidak pernah berubah," ujar Adisti yang segera berlalu memasuki rumah.


Vira tersenyum mengejek ke arah Bryan dan Lusi, dia melambaikan tangan ke arah keduanya dan mengikuti langkah sepupunya.

__ADS_1


__ADS_2