
"Sayang, tadi aku dapat telepon dari pengacara, katanya Arsylla dan Bryan mendapat hukuman masing-masing delapan tahun penjara. Apa kamu puas dengan hal itu? Jika tidak, kita bisa mengajukan banding," tanya Yasa saat keduanya sedang bersantai setelah makan malam.
"Bryan dan Arsylla 'kan ditangkap karena ingin melakukan kejahatan di kantor kamu, Mas. Kenapa malah bertanya padaku?" tanya Adisti balik.
"Memang mereka ditangkap karena itu, tapi aku melaporkan mereka untuk kamu, anggap saja sebagai balasan atas apa yang mereka perbuat."
"Tidak perlu, Mas. Biarkan saja, berapa lama pun mereka dihukum tidak akan merubah sifat mereka sama-sama pengkhianat. Sejujurnya aku sendiri tidak begitu peduli dengan mereka."
"Ya sudah jika itu memang sudah menjadi keputusanmu. Aku hanya bisa menuruti saja, aku melakukannya juga untukmu. Oh ya, Sayang tadi ada seseorang yang sengaja mengirim foto kamu sama Haris. Lihatlah! Foto ini sengaja diambil seolah kalian begitu dekat. Bik Rina juga tidak ditampilkan," ucap Yasa sambil menunjukkan foto yang dikirim oleh seseorang dari nomor yang tidak dikenal.
Adisti melebarkan matanya, tidak menyangka orang itu semakin nekat. Untung saja sang suami tidak terpengaruh dan percaya padanya. Jika tidak, sudah pasti akan menjadi masalah kedepannya.
"Mereka nekat sekali menghancurkan rumah tangga kita, Mas. Mereka pikir kita tidak tahu apa rencana mereka! Mereka itu penjahat amatiran, tapi berlagak sok paling berkuasa," ucap Adisti dengan kesal.
"Iya, tenanglah. Aku punya satu rencana, entah kamu mau mengikutinya atau tidak. Jika mereka menginginkan rumah tinggal kita hancur, bagaimana kalau kita mengikuti permainan mereka."
"Mengikuti permainan mereka? Maksud kamu apa? Aku sama sekali tidak mengerti," tanya Adisti sambil menatap wajah sang suami, menunggu pria itu menjawab.
"Bagaimana kalau kita pura-pura bertengkar, mengikuti permainan mereka. Aku juga ingin tahu apakah benar kecurigaan kita jika Bu Irene dan Haris bekerja sama. Aku juga ingin tahu bagaimana reaksi mereka saat rencana mereka benar-benar terwujud. Tadi setelah mendapat pesan foto kamu itu, Bu Irene kembali mengirim pesan dan memberi perhatian padaku jadi, bagaimana kalau kita juga mempermainkan perasaan mereka."
__ADS_1
Adisti mengangguk sambil berpikir sebentar. "Aku ikut saja apa katamu. Jika memang itu bisa membuat kita tahu siapa pelaku sebenarnya, tidak masalah. Lagi pula sudah lama juga aku tidak berakting, sepertinya bagus juga." Keduanya pun tertawa bersama.
Keesokan paginya Rio izin pada Yasa untuk berangkat terlambat karena dia harus menjemput ibunya di stasiun. Bu Aisyah hari ini akan datang untuk persiapan lamaran sang putra. Dia datang sendiri karena sang putri masih sibuk dengan sekolahnya.
Adisti sendiri juga harus ke butik biar segera menyelesaikan pekerjaannya agar besok bisa menemani ibunya Rio untuk belanja kebutuhan lamaran. Namun, lagi-lagi wanita itu dibuat kesal karena ternyata Haris sudah ada di sana. Untung saja tadi dirinya ke sini bersama Alex jadi, ada yang melindunginya.
"Halo, sepupu ipar, apa kabar hari ini? Kenapa kemarin kamu menghindariku padahal aku ingin bercerita banyak hal sama kamu," sapa Haris.
"Siapa yang menghindar? Aku memang sedang banyak pekerjaan."
"Iya, iya, aku percaya padamu. Sekarang apa boleh aku ikut masuk ke butikmu? Aku juga masih ada beberapa hal yang ingin dibicarakan dengan kamu."
Adisti ingin berlalu dari sana. Namun, lagi-lagi Haris menghadang jalannya. Alex yang tadi berdiri di belakang berniat ingin membantu atasannya. Namun, Adisti memberi kode agar Alex diam saja karena sepupu suaminya ini masih dalam batas normal.
Haris menatap Alex dan memperhatikannya dari ujung rambut hingga kaki. "Wah! Sekarang kamu sudah ada body guard yang menjagamu!" serunya dengan tatapan mengejek.
"Sepertinya kamu tidak terlalu mengenalku. Alex bekerja padaku sudah lama, sejak aku belum menikah dengan Yasa, hanya saja akhir-akhir ini dia memang sedang menjaga orang tuanya yang sedang sakit."
Haris mengangguk dan kembali menatap wajah Adisti. Sebenarnya dia sudah terlalu malas menghadapi istri dari sepupunya itu. Akan tetapi, dirinya garis tetap mendekati wanita itu agar rencananya berhasil. Adisti juga orang yang sangat kaku dan juga terkesan sombong. Haris sangat tidak menyukainya, lebih tepatnya dia tidak menyukai apa pun dan siapa pun yang berhubungan dengan Yasa. Baginya Yasa adalah penghalang dan tidak akan pernah membiarkannya hidup bahagia, akan selalu saja ada musibah yang datang.
__ADS_1
"Ada apa ini? Kenapa semuanya berdiri di sini dan kamu, Haris! Ternyata kamu belum jera juga ya setelah apa yang aku lakukan padamu waktu itu. Apa kamu masih mau mengulangi lagi?" tanya Yasa yang baru saja datang.
Dia hanya ingin memberikan map sang istri yang tertinggal di rumah, siapa yang menyangka jika di sini bertemu sang sepupu yang selalu saja mengganggu istrinya. Entah apa tujuan dari pria itu sebenarnya. Haris mendengar dan memalingkan wajah. Rasa bencinya pada Yasa saja belum hilang karena masa lalu, tapi sekarang harus bertambah lagi karena dirinya yang disekap oleh sepupunya itu.
"Aku hanya datang berkunjung, ingin berbincang sebentar saja dengan Adisti. Lagi pula dia 'kan pemilik butik, wajar aku datang, siapa saja orang yang ingin membeli baju datang ke sini, begitu pun dengan aku. Aku ingin memesan jas untuk pesta ke tempat temanku. Apa itu salah?"
"Tidak ada yang salah, hanya saja caramu saat datang yang salah. Kami tidak menyukai kehadiranmu yang suka menguntit orang," sahut Adisti ketus.
Beberapa pasang mata menatap ke arah mereka. Hal tersebut membuat Adisti jadi tidak enak dan pasti sudah mengganggu para pembeli yang datang.
"Sudah, Mas, tidak usah diperpanjang lagi. Sebaiknya kita masuk saja. Dan kamu, Haris, kalau kamu mau pesan baju silakan saja atau mau cari baju yang lain juga terserah. Aku mau masuk dulu, nggak enak juga dilihatin banyak orang."
Adisti menarik tangan sang suami untuk segera masuk agar tidak menjadi bahan tontonan lagi. Yasa tadinya ingin pergi ke kantor karena banyak pekerjaan, terpaksa dia batalkan. Tidak mungkin membiarkan istrinya menghadapi Haris seorang diri.
***
"Kenapa anak papa ini? Kenapa cemberut? Bukankah seharusnya senang karena sebentar lagi Rio akan melamarmu?" tanya Edwin pada putrinya.
"Aku hanya kesal saja, Pa, pada Adisti. Padahal dulu saat dia lamaran, aku datang ke sana dan membantunya bersiap, tapi sekarang dia malah nggak bisa katanya banyak pesanan. Dia juga lebih memilih membantu ibunya Rio buat mempersiapkan segala keperluan seserahan. Padahal 'kan dia sepupuku, tapi kenapa malah memilih membantu asisten itu," jawab Adisti yang masih cemberut.
__ADS_1
Edwin tersenyum ke arah sang putri. "Bukannya sama saja membantu kamu atau membantu Rio, tujuannya juga untuk acara lamaran agar berjalan lancar. Lagi pula di sana tidak ada kerabat Rio, jadi wajar kalau minta bantuan pada Adisti."