
Yasa dan Alex sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Adisti memilih ruang VVIP untuk keduanya. Alex awalnya menolak karena merasa tidak pantas di tempat seperti itu. Dia juga takut nantinya Adisti akan memotong gajinya untuk biaya rumah sakit. Bisa-bisa anaknya tidak jajan.
Adisti tetap bersikeras menempatkan Alex di ruang VVIP. Dia juga mengatakan tidak akan meminta ganti karena bagaimanapun juga Alex seperti ini karena menyelamatkannya. Andai saja tidak ada pria itu, entah akan jadi apa dirinya. Tidak lupa Adisti menghubungi keluarga Yasa dan Alex dan memberitahukan Apa yang terjadi.
"Bagaimana keadaan Alex?" tanya Yasa saat dirinya sudah sadar.
"Kenapa bertanya Alex? Kamu pikirkan kesehatanmu saja. Dia baik-baik saja, keluarganya juga sudah datang," jawab Adisti yang duduk di samping ranjang.
"Kamu juga menghubungi Mama?"
"Tentu saja. Mana mungkin aku tidak memberitahukan keadaan anaknya. Mungkin sebentar lagi akan sampai. Tadi Mama bilang sedang ada acara."
Yasa hanya mengangguk tanpa berkomentar apa pun. Sebenarnya dia tidak ingin orang tuanya tahu keadaannya, yang nantinya malah akan semakin merepotkan, tetapi kalau sudah terlanjur seperti ini mau bagaimana lagi. Setelah beberapa menit akhirnya kedua orang tua Yasa sampai juga. Mereka terkejut melihat putranya yang sudah lebam, padahal keduanya tahu jika Yasa memiliki anak buah yang hebat, bagaimana sekarang bisa sampai seperti ini.
"Kenapa kamu bisa sampai seperti ini? Siapa yang melakukan ini sama kamu?" tanya Mama Riana saat sudah berdiri di samping ranjang sang putra.
"Biasalah, Ma, aku 'kan seorang pengusaha jadinya ada saja orang yang tidak suka," jawabnya sambil tersenyum.
__ADS_1
Adisti terkejut karena Yasa telah berbohong pada kedua orang tuanya. Pasti pria itu tidak ingin menjelekkan namanya karena jika tahu alasan yang sebenarnya, pasti Mama Riana dan Papa Doni akan sangat marah padanya. Adisti mau menjelaskan sesuatu pada Mama Riana, tetapi Yasa lebih dulu mengajak kedua orang tuanya berbicara.
"Mama sama papa kenapa bisa sampai di sini? Siapa yang memberitahu? Padahal aku cuma luka sedikit."
"Adisti tadi yang menelpon Mama. Lagian kamu, luka seperti ini dibilang sedikit, bagaimana kalau terjadi sesuatu sama kamu!" ujar Mama Riana dengan tatapan bengis.
"Aku 'kan laki-laki, Ma. Aku baik-baik saja. Mama saja yang terlalu berlebihan."
Mama Rihanna memukul pelan tangan sang putra pelan. "Kamu ini selalu saja begitu. Mama itu khawatir sama kamu. Pokoknya mulai sekarang jangan berhubungan sama pebisnis yang suka berlaku curang seperti itu. Mama tidak mau terjadi sesuatu yang buruk lagi terhadap kamu."
"Mama tenang saja. Aku sekarang sedang sibuk mengurusi rencana pernikahanku jadi, tidak ada waktu untuk mengurusi mereka," sahut Yasa dengan tersenyum sumringah.
"Sudah, Pa. Rio sedang mengurusnya. Biarkan saja dia yang menangani segalanya."
Adisti masih terdiam entah apa yang dikatakan Yasa benar atau tidak karena dari tadi pria itu juga belum bicara dengan Rio, tetapi asisten itu juga sudah pergi dari tadi. Adisti tidak mengerti jalan pikiran para pembisnis seperti Yasa. Apa benar jika orang yang menghadangnya tadi memang rival bisnis Yasa? Nanti dia akan bertanya secara langsung setelah kedua orang tua ini pergi.
***
__ADS_1
Sementara itu, di sebuah perusahaan Rio berjalan bersama dengan beberapa polisi memasuki perusahaan. Semua karyawan saling pandang dan berbisik mempertanyakan kira-kira apa yang telah terjadi. Asisten itu membawa polisi naik ke lantai atas. Namun, tidak ada orang yang berani bertanya secara langsung.
Rio pun mengajak para polisi masuk ke dalam ruangan atasannya. Di sana sudah ada Arsylla dan Bryan dengan tangan terikat di lantai. Di sampingnya juga sudah berdiri anak buah Rio yang memang ditugaskan asisten itu.
"Itu dia orang, Pak, silakan bahwa mereka ke kantor polisi," ucap Rio sambil menunjuk Arsylla dan Bryan.
"Rio! Apa yang kamu lakukan! Kenapa kamu melakukan ini padaku? Apa salahku?" teriak Arsylla.
Namun, Rio tidak menghiraukan sama sekali, hingga para polisi pun membawa mereka. Bryan hanya diam tanpa melakukan perlawanan. Dia sudah menyangka akan seperti ini hasilnya, yang anehnya kenapa dia tetap menuruti keinginan Arsylla, padahal sudah sangat jelas bagaimana hasilnya. Andai saja dia mengikuti perintah mamanya, semua tidak akan terjadi seperti ini.
Arsylla kali ini juga tidak akan bisa lolos karena Yasa sudah pasti memiliki bukti yang kuat, kalau tidak mana mungkin pria itu berani berbuat sampai sejauh ini. Para karyawan terkejut saat polisi membawa Arsylla. Mereka saling berbisik, kira-kira apa kesalahan dari pegawai baru itu. Apa mungkin korupsi, tetapi gadis itu baru saja bekerja, mana mungkin bisa secepat itu. Namun, tidak ada yang tidak mungkin dalam sebuah kejahatan.
"Bryan, kenapa kamu diam saja tidak melakukan perlawanan?" tanya Arsylla saat keduanya sudah berada di dalam mobil polisi.
"Untuk apa juga melawan, nantinya juga kita akan kalah. Aku sudah tahu akan seperti ini hasilnya, tapi bodohnya aku tetap saja melakukan apa yang kamu minta. Andai saja aku mau mengikuti saran mama, pasti tidak akan seperti ini sekarang. Kalau sudah seperti ini bagaimana? Sementara di rumah ada mama dan juga Sahna yang membutuhkan tanggung jawabku. Apalagi Sahna juga sebentar lagi melahirkan, sedangkan aku ada di penjara, tidak mungkin bisa melihat anakku. Bukankah semuanya sekarang terasa sia-sia? Aku menduakan Adisti demi memiliki seorang anak, tapi saat semuanya sudah terwujud aku malah kehilangan Adisti dan semua yang aku miliki. Sekarang aku juga mungkin akan kehilangan calon anakku. Kamu tahu, semua yang terjadi dalam hidupku juga gara-gara kamu. Andai saja kamu tidak datang dalam kehidupanku, pasti saat ini aku masih baik-baik saja bersama dengan Adisti. Rumah tangga kami pasti akan bahagia," ujar Bryan dengan penyesalannya.
Arsylla tertawa mengejek. "Itu tidak akan terjadi. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah membiarkan Adisti bahagia. Aku bakal melakukan apa pun untuk menghalangi jalannya."
__ADS_1
"Itulah kesalahanmu. Kamu terlalu tamak, padahal selama ini Adisti begitu baik dalam memperlakukanmu, tapi karena keserakahanmu semuanya hancur begitu saja. Bukan hanya hidupmu, tapi juga orang-orang yang ada di sekelilingmu. Entah kamu sadar akan hal itu atau tidak. Jika kamu ingin hancur, kenapa tidak hancur seorang diri saja? Kenapa harus mengajak kami, orang yang sama sekali tidak tahu menahu tentang dendammu. Kami juga punya keluarga, kami juga ingin bahagia, tetapi kenapa kamu melibatkan kami."
Arsylla terdiam, ada pergulatan batin dalam hatinya antara membenarkan apa yang dikatakan Bryan dan sisi lainnya menolak. Baginya apa yang dilakukan adalah benar, seharusnya dirinyalah yang mendapatkan semua itu, tetapi kenapa harus Adisti? Dia juga pintar dan cantik, tetapi kenapa selalu wanita itu.