
Seperti yang Adisti katakan jika pemandangan di tempat ini memang begitu sangat indah. Vira terlihat begitu menikmati suasana yang begitu segar dan menenangkan. Pemandangan alam juga sangat segar dan teduh, sangat cocok untuk pasangan. Mereka malah datang berdua.
Kedua wanita itu sekarang duduk di sebuah batu, yang bisa melihat secara langsung air terjun bebas. Beberapa orang juga tampak sedang mandi di bawahnya. Mereka terlihat begitu bahagia bersama dengan keluarga masing-masing. Adisti dan Vira hanya salah menikmati pemandangan saja tanpa ikut menceburkan diri dalam air.
Keduanya juga tidak membawa baju, tadi Adisti sudah menawarkan diri untuk membeli di depan. Namun, Vira menolak dan lebih memilih menikmati pemandangan saja yang begitu indah. Sekarang mereka duduk santai, sementara Alex dari kejauhan juga menikmati suasana, tetapi pandangan matanya tidak lepas dari sang majikan dan sekitar, takut jika ada seseorang yang ingin mencelakainya.
"Sekarang ceritakan bagaimana bisa kamu dikhianati suami dan sahabatmu dan juga mengenai wanita di foto itu. Sebenarnya siapa dia? Apa itu Arsylla? Tapi sepertinya tidak," tanya Vira yang sudah tidak sabar.
"Iya, kamu benar. Dia memang bukan Arsylla, dia memang wanita lain yang berstatus sebagai istri kedua suamiku."
Vira begitu terkejut hingga tanpa sadar dia berteriak, "Apa? Jadi mereka sudah menikah?"
Adisti mengangguk dan melihat ke depan dengan pandangan kosong. "Suamiku menikahi wanita itu secara siri. Entah berapa banyak uang yang sudah dihabiskan oleh Bryan untuk istri keduanya itu, karena aku memang tidak pernah tahu berapa gajinya. Selama ini aku selalu percaya padanya."
"Memang selama ini Bryan tidak pernah memberimu nafkah?" tanya Vira dengan mengerutkan keningnya, dia benar-benar dibuat heran sepupunya yang mudah dibodohi atau memang benar-benar bodoh.
Adisti menggeleng. "Tidak pernah karena dia berpikir jika aku sudah memiliki uang."
Vira berdecak kesal. "Walaupun kamu sudah punya banyak uang, bahkan jika kamu seorang konglomerat pun suamimu masih tetap wajib menafkahimu, kamu itu benar-benar lugu atau bodoh?"
__ADS_1
"Aku tahu aku memang salah, bahkan yang terakhir dia membelikan rumah untuk istri keduanya itu. Untung saja aku masih bisa mengambil alih rumah itu jadi, rumah itu bisa kembali padaku. Meskipun pada akhirnya aku harus merelakan untuk membayar hutang Bryan pada perusahaan yang sudah dia korupsi."
"Jadi selain berselingkuh suamimu juga korupsi?"
"Iya ... namanya Sahna, dia adalah sepupu Arsylla yang dari kampung. Bahkan saat ini wanita itu sedang hamil. Mungkin itu sebabnya Bryan berselingkuh karena sampai detik ini aku belum bisa memberikannya anak. Dia menganggapku wanita mandul, bahkan hal yang lebih gila adalah Bryan meminta aku menerima dia bersama istri keduanya karena wanita itu bisa menjadikan aku seorang ibu. Tentu saja aku menolak, banyak cara yang membuat aku menjadi Ibu. Kalau memang aku tidak bisa hamil dan melahirkan, aku bisa mengadopsi anak yang ada di panti asuhan. Aku rasa mereka juga sedang membutuhkan kasih sayang orang tuanya. Hanya saja memang saat ini aku belum mau melakukannya. Kamu tahu sendiri aku selalu sibuk dengan pekerjaanku. Aku takut anak yang aku ambil akan terabaikan dan tidak mendapatkan kasih sayang."
"Itulah, sudah aku bilang dari dulu, kamu sebagai wanita jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan, hingga suamimu punya istri sampai hamil pun kamu tidak tahu," cibir Vira dengan kesal.
Apa yang dikatakan Vira memang benar, tetapi bukan berarti dia tidak menjalankan perannya dengan baik. Adisti bahkan selalu memasak untuk sang suami meskipun tubuhnya juga lelah. Setiap apa pun yang pria itu inginkan sebisa mungkin wanita itu menurutinya, tetapi sekarang malah akan jadi seperti ini.
"Mungkin itu memang salah satu dari kesalahanku. Setelah aku berpikir mungkin Tuhan tidak memberiku anak karena takut anakku nanti akan terlantar."
"Aku tidak tertarik untuk menjalani kehidupan rumah tangga lagi, Vir. Apa pun yang kamu katakan itulah keputusanku. Mungkin ini yang dinamakan trauma, aku sudah tidak percaya dengan adanya pria yang baik di zaman sekarang," ucap Adisti dengan penuh keyakinan.
Vira menggelengkan kepala. Setelah apa yang dilalui oleh Adisti, pantas saja wanita itu mengatakan hal demikian. Jika itu terjadi padanya mungkin dia juga akan melakukan hal yang sama. Walaupun sebenarnya tidak semua laki-laki punya sifat yang sama sekalipun sama juga pasti bisa berubah.
"Mengenai Yasa, bagaimana bisa kamu bertemu dengannya?" tanya Vira mengalihkan pembicaraan, dia juga penasaran dengan pria itu.
"Siapa yang bertemu dengannya? Aku saja tidak tahu dia ada di mana sekarang."
__ADS_1
"Lah! Terus kemarin kamu menanyakan Yasa padaku untuk apa? Aku pikir kamu sudah bertemu dengannya."
"Tidak, kemarin aku bertanya karena saat itu aku mendapat kiriman bunga mawar putih. Hanya dia yang bisa mengirimkan bunga itu dan hanya dia dan Bryan yang tahu jika aku pernah menyukai mawar putih."
Vira sempat terkejut, tetapi kembali menormalkan ekspresinya. "Kamu tahu jika Yasa yang mengirimkan bunga terdahulu, tapi kenapa kamu malah tetap ingin menikah dengan Bryan?" tanya Vira yang tidak mengerti dengan jalan pikiran sepupunya.
"Kamu pikir aku ini wanita bodoh yang tidak tahu sama sekali tingkah laku orang yang sekitar kita lakukan? Aku tahu semuanya. Bryan bukan orang romantis yang bisa membuat kalimat romantis. Bryan juga bukan orang kaya yang bisa membayar orang untuk membuatkanku taman bunga mawar. Saat itu aku hanya berpikir jika Bryan adalah pria yang baik dan bertanggung jawab. Setidaknya dia lebih gentlemen mau menghadapiku secara langsung dan lebih cepat dari orang yang aku harapkan selama ini, tapi pada akhirnya pilihanku salah dan harus berakhir juga seperti sebelumnya. Mungkin memang aku ditakdirkan hanya untuk sendiri. Lagi pula aku juga saat ini sangat menikmati hidupku yang seperti ini. Aku bebas melakukan apa yang aku mau tanpa melibatkan siapa pun."
Vira menatap sedih ke arah sepupunya. Seandainya saja dia tidak pernah pergi dan selalu di samping Adisti, pasti sepupunya tidak akan dicurangi sedemikian rupa. Apa boleh buat, semuanya sudah terjadi dan tidak bisa terulang lagi.
"Aku juga tidak tahu apa yang ada di kepalamu, tapi apa pun itu aku pasti akan selalu mendukungmu seperti dulu dan aku harap kamu juga bisa seperti dulu, yang bisa selalu terbuka terhadapku dan menceritakan apa pun yang mengganjal di hatimu."
"Terima kasih, kamu sudah sangat baik padaku. Padahal aku pernah jahat juga padamu, Vir."
Vira tersenyum dan menggenggam telapak tangan sepupunya. "Lupakan saja, saat itu kamu sedang dalam pengaruh mereka dan aku senang akhirnya kamu bisa sadar juga."
Keduanya pun tertawa dan bercanda, menikmati pemandangan yang indah di sekitar. Mereka juga tidak mau melewatkan semuanya, sesekali ber-selfie dan meminta Alex untuk mengambil gambar. Hingga tidak terasa waktu sudah begitu tarik. Perut mereka pun sudah berbunyi, pertanda minta untuk segera diisi.
Untung saja di sekitar sana ada warung makan sederhana. Keduanya sama sekali tidak masalah apa pun makanannya karena yang penting halal dan bisa dimakan. Tempatnya pun nyaman, dengan lesehan dan udara yang sejuk. Saat dulu mereka masih menuntut ilmu juga sering makan di pinggir jalan.
__ADS_1
Justru tempat seperti itu terlihat menyenangkan, apalagi kalau sudah rame-rame bersama dengan teman lainnya, sudah pasti akan semakin meriah. Dari tadi Alex juga selalu mengikuti kedua wanita itu dari jauh, dia tidak ingin mengganggu waktu liburan atasannya. Padahal Adisti sama sekali tidak masalah jika Alex mendekat.