Janji Yang Kau Ingkari

Janji Yang Kau Ingkari
49. Terimakasih


__ADS_3

"Apa yang akan kamu lakukan dengan para preman itu?" tanya Adisti saat dirinya dan Yasa sedang dalam perjalanan pulang.


Pria itu pun menoleh sebentar dan kembali fokus pada kemudinya. Dia memang sengaja ingin mengantarkan Adisti pulang dengan menggunakan mobil wanita itu, tentunya dengan diikuti oleh anak buahnya yang berada di belakang. Ini sudah hampir tengah malam Yasa tidak mungkin membiarkan Adisti pulang seorang diri. Meskipun sebenarnya pria itu selalu mengirim orang untuk mengawasinya.


"Justru aku ingin menanyakannya sama kamu. Kamu ingin aku melakukan apa pada mereka? Kamu ingin bermain-main dulu atau langsung menghabisi mereka?"


Adisti begidik ngeri mendengar apa yang dikatakan oleh Yasa. Dia tidak menyangka jika pria yang ada di sampingnya memiliki sisi yang mengerikan juga, padahal selama ini terlihat lembut. Yasa yang paham dengan apa yang dipikirkan oleh Adisti pun hanya diam saja. Dia membiarkan wanita itu berpikir sendiri bagaimana karakter dirinya.


Inilah Yasa yang sekarang, terlihat lemah demi menutupi sisi lainnya, tidak seperti dulu. Meskipun terkadang memang manusia suka melakukan kesalahan, tetapi dia sudah berusaha untuk memperbaikinya. Jangan salah, sekarang jika ada yang menyakiti Yasa, maka pria itu tidak akan segan untuk melakukan sesuatu pada orang yang melakukannya, termasuk menghilangkan nyawa.


Tidak berapa lama akhirnya mobil yang dikendarai oleh Yasa sampai juga di halaman rumah Adisti. Padahal pria itu tadi sudah menawarkan untuk membawa mobil Adisti ke bengkel karena memang mobilnya ada beberapa bagian yang rusak. Meskipun hanya di bagian pintu dan jendela saja. Namun, karena wanita itu yang memang tidak ingin memiliki urusan apa pun dengan Yasa akhirnya menolak. Meskipun tadi pria itu sudah membebaskannya dari para preman yang ingin menculiknya.


"Terima kasih sudah menolongku dari gangguan para preman tadi. Maaf aku tidak bisa menawarkanmu untuk masuk dalam rumah karena ini sudah terlalu larut. Tidak baik membawa tamu laki-laki masuk dalam rumah. Apalagi saat ini dengan statusku yang masih belum jelas. Aku tidak ingin ada fitnah nantinya," ujar Adisti saat keduanya sudah turun dari mobil.


Selain karena tidak ingin ada fitnah, dia juga tidak ingin memberi harapan palsu pada pria itu. Biarlah kata-katanya terdengar kasar asal tidak menimbulkan masalah untuknya.

__ADS_1


"Tidak masalah aku ke sini juga karena ingin mengantarkanmu, tidak ada tujuan lainnya. Lain kali kalau mau pergi ke mana pun tunggu bodyguard-mu. Kalau memang dia memiliki kesibukan yang lain, setidaknya kamu cari pengganti, jangan ke mana-mana sendiri seperti tadi. Apalagi di tengah malam dan jalanan sepi."


Adisti mengangguk. "Terima kasih sudah mengingatkanku. Akan aku ingat pesanmu."


Yasa pun ikut mengangguk dan segera berlalu dari sana memasuki mobil yang menunggunya di depan gerbang. Adisti hanya diam sambil memandangi mobil sampai menghilang. Dia merasa lega karena akhirnya bisa sampai rumah dengan selamat juga. Meskipun ada beberapa lecet di mobilnya yang tidak luput dari insiden tadi. Namun, itu tidak masalah baginya asal semua bisa teratasi dengan baik.


Tubuhnya pun hanya mengalami cedera di bagian pergelangan tangan, yang sedikit membiru saat tadi ditarik oleh salah satu preman yang membawanya. Adisti perlahan masuk ke dalam rumah. Tubuhnya hari ini benar-benar lelah dan butuh istirahat. Mengenai pergelangan tangannya, nanti dia bisa mengompresnya dengan air dingin dan mengolesinya dengan salep nyeri agar besok bisa lebih baik lagi.


***


Dia merasa bersalah karena sudah pulang lebih dulu meninggalkan atasannya seorang diri. Padahal gadis itu sudah tahu kalau Alex hari ini tidak masuk. Seharusnya dirinya peka dan menunggu Adisti sampai selesai bekerja, tetapi mau bagaimana lagi, kemarin juga ada barang yang harus diantar dan arahnya sama dengan tujuannya pulang. Adisti saat itu juga memintanya untuk langsung pulang saja sambil membawa motor butik dan bisa mengembalikan keesokan harinya.


"Tidak apa-apa, hanya ada segerombolan preman yang ingin merampok, tapi untung saja ada orang yang menolongku jadi, aku tidak apa-apa. Memang mobilnya ada yang sedikit penyok, jendelanya juga pecah, tapi kamu jangan khawatir, aku baik-baik saja," jawab Adisti sambil tersenyum, untuk memperlihatkan jika dirinya baik-baik saja.


"Kenapa Bu Adisti tidak menghubungiku? Aku pasti akan datang ke sana langsung."

__ADS_1


"Memangnya kamu bisa melawan para preman? Mereka badannya gede-gede loh! Semalam saja harus banyak orang agar para preman itu pergi. Kamu sanggup?" tanya Adisti sambil mencoba menahan tawa.


Bukan maksudnya untuk meremehkan Naina, hanya saja ekspresi gadis itu sangat lucu di matanya dan membuat dia terkekeh geli. Padahal tadi wanita itu ingin terlihat biasa saja agar Naina tidak khawatir, tetapi melihat ekspresinya seperti itu membuat Adisti ingin mengerjainya.


"Ya ... nggak juga, aku 'kan bisa meminta bantuan orang lebih banyak agar para preman itu bisa segera pergi."


"Terima kasih kamu sudah mengkhawatirkan aku, tapi kamu tenang saja. Aku baik-baik saja dan mungkin ke depannya aku akan lebih berhati-hati."


Naina mengangguk, memikirkan segala kemungkinan yang menjadi penyebab kejadian tersebut. "Apa Ibu tidak curiga kenapa para preman itu ingin mencelakai Bu Adisti? Mungkinkah mereka suruhan salah satu orang yang ingin mencelakai Ibu? Segala kemungkinan bisa saja terjadi, kan? Anda harus berhati-hati."


Sebenarnya dari semalam Adisti juga mencurigai hal tersebut. Namun, dia juga tidak memiliki bukti apa pun, tidak baik juga menuduh orang sembarangan. Mungkin nanti dia akan menyelidikinya lagi dengan bantuan Leo. Siapa pun pelakunya, wanita itu tidak akan melepaskannya dengan mudah.


Adisti dan Naiina pun pergi ke butik bersama-sama dengan didampingi Alex tentunya. Pria itu sudah kembali bekerja, mengenai urusan keluarganya sudah ada yang mengurus. Administrasi juga sudah pria itu bayar semua jadi, dia bisa bekerja dengan tenang.


Alex juga sudah mengetahui apa yang terjadi pada atasannya, dia merasa bersalah karena disaat dirinya tidak bekerja, Adisti diserang oleh orang tidak dikenal. Padahal selama ini tidak ada satu orang pun yang berani mendekati wanita itu. Adisti memberi pengertian bahwa ini semua bukan kesalahannya. Memang takdirlah yang sudah menentukan jalan hidupnya.

__ADS_1


Begitu sampai di butik, Adisti mengerutkan keningnya saat melihat ada sebuah mobil yang sudah terparkir di sana. Dia sangat tahu betul siapa pemilik dari mobil tersebut karena semalam mobil itu juga yang ikut mengantarkannya pulang. Wanita itu menghela napas panjang, ada urusan apalagi pria itu ke sini. Dia juga sudah mengucapkan terima kasih, apa mungkin meminta imbalan? Rasanya sangat tidak mungkin.


__ADS_2