Janji Yang Kau Ingkari

Janji Yang Kau Ingkari
89. Nasehat Ibu


__ADS_3

"Tidak usah, aku bisa sendiri," tolak Adisti yang segera berdiri dari duduknya.


Wanita itu pun beranjak menuju kamar mandi. Namun, Yasa lebih dulu mencekal pergelangan tangan sang istri dan menariknya, membuat Adisti tersentak dan akhirnya menabrak tubuh Yasa. Segera pria itu memeluk sang istri, sungguh Adisti merasa dirinya sedang tidak baik-baik saja. Apalagi jantungnya kini berdetak tidak beraturan.


"Lepasin aku, Mas. Aku mau ke kamar mandi." Adisti mencoba memberontak dengan menggerakkan tubuhnya agar pelukan Yasa lepas, tetapi pelukan pria itu justru lebih erat.


Yasa tersenyum mendengar panggilan baru dari sang istri. Dia menatap dan memindai wajah sang istri yang terlihat begitu sangat cantik. Andai dulu mereka tidak putus, pasti saat ini keduanya sudah bahagia bersama, terapi


"Kamu memanggilku Mas?"


"Iya, apa kamu tidak suka? Kamu mau aku mengganti panggilan itu? Kamu mau dipanggil apa?"


"Aku suka dengan panggilan itu karena kamu yang memilihnya."


"Syukurlah kalau begitu, tapi lepaskan aku dulu, aku mau membersihkan tubuhku."


"Aku merasa kenapa kamu sepertinya sedang malu-malu dan ingin menghindariku? Bukankah kita sudah sah suami istri? Apa aku juga akan mendapatkan hakku malam ini?" bisik Yasa tepat di wajah sang istri.


Adisti gelagapan, dia sendiri juga bingung harus berbuat apa, padahal dirinya sudah pernah menikah, tetapi disaat seperti ini kenapa justru dirinya terlihat seperti orang bodoh dan tidak tahu apa-apa. Melihat istrinya diam, Yasa pun menyeringai, memikirkan apa yang bisa dilakukannya.


Pria itu memajukan wajahnya, mengikis jarak keduanya. Adisti yang mengerti keinginan sang suami pun hanya bisa pasrah. Kini dirinya juga sudah menjadi seorang istri dan harus memenuhi keinginan sang suami. Namun, saat jarak hanya tinggal satu senti, pintu kamar hotel diketuk oleh seseorang dari luar, membuat Yasa mengeram kesal karena harus mengurungkan niatnya.


Adisti yang merasa pelukan sang suami melemah pun segera memberontak dan lari ke kamar mandi. Dia merasa lucu dengan tingkah sang suami padahal saat ini dirinya merasakan gugup yang luar biasa. Padahal ini bukan pertama kali untuknya, tetapi kenapa sensasinya sangat berbeda, sementara Yasa membuka pintu kamar dengan kasar. Ingin sekali memaki pelayan itu. Namun, dia mencoba untuk menahan diri. Tidak mungkin pria itu meluapkan kekesalannya pada orang yang tidak tahu apa-apa.

__ADS_1


***


"Anak Ibu kenapa melamun sendirian di sini?" tanya Ibu Aisyah pada putranya yang bernama Rio. Pria itu sedang duduk di kursi balkon sambil menatap ke arah langit yang sudah gelap. Bu Aisyah pun ikut duduk di samping putranya.


"Ibu. Aku tidak apa-apa, aku hanya sedang menenangkan pikiran saja. Terlalu banyak pekerjaan di kantor yang menunjuk sejak Tuan Yasa ambil cuti," jawab Rio dengan tersenyum.


"Kamu tidak perlu berbohong pada Ibu. Pekerjaan kantor tidak akan membuatmu galau seperti ini, pasti ini soal wanita, kan? Ibu senang kalau akhirnya kamu memikirkan masa depanmu juga. Kamu sudah berumur, sudah waktunya membangun sebuah rumah tangga. Meskipun kamu pria yang hebat dan bisa mendapatkan apa pun yang kamu inginkan, tapi tanpa seorang wanita kamu bukan apa-apa. Seorang pria yang hebat diakui kehebatannya setelah memiliki istri dan mampu membahagiakannya."


Rio menghela napas pelan, ibunya memang orang yang tidak bisa dibohongi. Dari dulu selalu seperti itu, seolah tahu apa yang dipikirkan.


"Aku memang sedang dekat dengan seorang gadis, Bu, tapi aku ragu dengan kelanjutan hubungan kami."


Ibu Aisyah menatap ke arah sang putra dan bertanya, "Apa ada sesuatu yang tidak kamu sukai dari dirinya?"


Pria itu memang sudah lama menyukai Vira. Sejak dia bekerja dengan Yasa, itu untuk pertama kalinya bertemu dengan gadis itu. Awalnya Rio mengira Yasa memiliki hubungan dengan Vira, sampai akhirnya pria itu mencoba untuk menepis rasa sukanya. Namun pada akhirnya dia mengetahui ternyata yang atasannya cintai adalah sepupunya Vira yaitu Adisti.


Tentu hal itu membuatnya Rio senang karena merasa memiliki kesempatan untuk mendapatkannya. Namun, lagi-lagi takdir memisahkan mereka. Vira memilih tinggal di luar kota bersama dengan papanya. Sejak saat itu Rio hanya bisa melihat gadis itu lewat sosial medianya, berharap suatu hari nanti bisa dipertemukan kembali. Sekarang saat kesempatan ada di depan mata, pria itu merasa tidak percaya diri. Dia merasa dirinya sangat kecil dan jauh perbedaannya dengan Vira.


"Jangan menyimpulkan sesuatu sepihak saja. Kamu belum mengenal keluarga mereka. Kenali mereka dulu, bagaimana karakter dan kepribadian mereka. Semoga mereka mau menerima keadaan kamu apa adanya. Apalagi keluarga kita yang semuanya dari kampung. Jika mereka tidak masalah untuk apa merasa tidak percaya diri. Justru kita harusnya bangga dengan apa pun yang ada pada diri kita."


Rio mengangguk dan berterima kasih pada ibunya yang sudah mau mendengar keluh kesahnya. Saat ini pria itu merasa sedikit lega karena bisa mengutarakan isi hatinya. Nanti dia akan mencoba untuk berbicara mengenai hal ini dengan Vira, berharap gadis yang dicintainya itu tidak keberatan dengan keadaan dirinya. Kalau pun nanti Vira menolak itu berarti mereka memang lah tidak berjodoh.


"Bagaimana tadi pesta pernikahan Yasa? Semuanya berjalan lancar, kan?" tanya Bu Aisyah.

__ADS_1


"Alhamdulillah, semuanya lancar, Bu. Seharusnya tadi Ibu ikut, pasti Ibu merasa bahagia juga bisa melihat Tuan Yasa bersanding dengan istrinya."


"Kamu ini mau buat malu di sana? Ibu tidak pernah datang ke pesta seperti itu, takutnya nanti malah jadi bahan pembicaraan orang dan membuat atasan kamu malu. Nanti saja Ibu menemuinya dan mengucapkan selamat. Ibu juga sudah lama tidak bertemu dengan Yasa."


"Iya, Bu, Tuan Yasa juga kemarin bilang begitu, katanya nanti setelah menikah akan datang berkunjung."


Yasa memang sudah menganggap ibunya Rio seperti ibunya sendiri, bahkan meminta Bu Aisyah memanggilnya dengan nama saja agar hubungan mereka lebih dekat. Awalnya tentu saja Bu Aisyah menolak karena merasa tidak sopan pada atasan putranya, tetapi karena Yasa yang memaksa jadinya wanita itu pun mengiyakannya saja. Lagipula Yasa juga pria yang baik, dia senang bisa perkenalan dengan pria itu. Meskipun kaya tetapi tetap rendah hati.


"Apa istrinya juga baik? Ibu juga penasaran ingin berkenalan dengannya."


"Nona Adisti juga baik, Bu. Buktinya dia merawat Tuan Yasa dengan baik saat terjadi kecelakaan waktu itu."


"Syukurlah kalau begitu, Ibu jadi tenang dan tidak memikirkannya lagi jadi, sekarang sudah ada yang merawatnya. Sekarang tinggal kamu yang mencari pasangan, ingat pesan ibu, jangan mudah memberi penilaian pada orang lain dan jangan mudah juga percaya begitu saja! Kamu harus merasakan semuanya agar tidak salah melangkah. Pikirkan semuanya baik-baik."


"Iya, Bu, terima kasih atas nasehatnya. Sekarang sudah semakin larut, sebaiknya Ibu istirahat. Angin malam tidak baik untuk kesehatan Ibu, ayo biar Rio yang antar!" Rio mengulurkan tangan agar bisa membawa ibunya ke kamar. Namun, ditepis Bu Aisyah.


"Ibu masih bisa berjalan, tidak perlu diantar."


"Iya, Rio tahu, tapi apa salahnya jika Rio ingin mengantar Ibu. Mungkin nanti Ibu bisa diantar menantu Ibu, doakan saja aku bisa mendapatkannya karena dia memang wanita yang baik."


"Ibu pasti akan selalu mendoakanmu."


Rio pun akhirnya mengantar sang ibu ke kamar untuk istirahat, kemudian barulah dirinya yang juga harus mengistirahatkan tubuhnya. Besok masih banyak pekerjaan yang sudah menunggu."

__ADS_1


__ADS_2