
"Kamu kirimkan saja nomor telepon papa kamu, biar nanti Om yang sendiri yang akan menghubunginya," ucap Gunawan.
"Bagaimana kalau papa marah, Om? Pasti kamu akan menjadi sasarannya," sela Yasa yang sedikit ragu.
"Biar itu menjadi urusan Om. Kami sudah saling mengenal satu sama lain dari dulu. Kami juga mengerti keadaan hati satu sama lain."
"Tapi apa, Om, yakin kalau Papa mau bicara dengan Om?"
"Percayalah pada Om, biar itu menjadi urusan Om nanti, yang penting sekarang kita sudah berusaha. Kalau memang si tua bangka itu tidak mau pulang juga, biar Om yang datang ke sana dan menyeretnya untuk dibawa pulang."
Yasa meringis, tetapi tetap menganggukkan kepala. Dia sendiri tidak begitu mengenal Gunawan. Namun, pria itu percaya pada sang istri jika rencananya adalah benar. Apa pun yang menjadi keputusannya, Yasa percaya Adisti tidak akan mungkin menjerumuskannya.
Yasa meminta Adisti untuk mengirim nomor ponsel papanya ke nomor Gunawan, sang istri pun mengangguk dan melakukannya. Gunawan menyimpannya dan akan menghubunginya nanti saja saat di rumah jadi, bisa bicara dari hati ke hati.
Makanan yang tadi dipesan telah datang, mereka menikmati sambil bercerita satu sama lain. Yasa yang penasaran dengan keadaan ibunya pun banyak bertanya pada Gunawan, bagaimana saat-saat terakhir keadaan sang Mama sebelum meninggal. Gunawan dengan senang hati menceritakan keadaan wanita yang telah membawa pergi separuh hatinya.
Saat itu mama Yasa terlihat begitu lemah dan tidak bertenaga akibat penyakitnya yang semakin parah. Dia juga tidak pernah mau merepotkan orang lain. Sedikit apa pun hidupnya wanita tidak ada kata menyerah dalam hidupnya. Sampai akhirnya dia benar-benar menyerah karena sudah tidak kuat menahan rasa sakit yang dirasakannya.
__ADS_1
Yasa yang memang pernah mengenal mamanya, membenarkan apa yang diucapkan Gunawan. Mamanya memang tidak pernah berubah, selalu baik dan apa yang menjadi penilaiannya dulu memang tidaklah salah. Meskipun sang papa sering menjelek-jelekkan mamanya, tetapi Yasa tidak pernah percaya karena dia yakin jika mamanya adalah orang yang baik.
Setelah menyelesaikan makan malamnya, mereka pun kembali ke rumah masing-masing. Adisti dan Yasa merasa lega karena sudah membicarakan masalah ini dengan Om Gunawan. Kini tinggal menunggu kabar selanjutnya, apakah Papa Faisal mau pulang atau masih tetap berada di sana. Seperti yang dikatakan Gunawan tadi, apa kamu mungkin juga jika pria itu nanti akan menemui Papa Faisal di luar negeri. Apa pun bisa saja terjadi, yang penting bagi Yasa adalah papanya bisa pulang, itu sudah cukup. Terlepas dari bagaimana caranya bisa sampai di negara ini.
Sementara itu, Gunawan yang sudah ada di rumahnya hanya memandangi nomor ponsel sahabatnya. Dalam hati ada keraguan apakah Faisal menerima panggilannya atau tidak. Jika pun nanti panggilannya diangkat dia harus bagaimana, sementara dia sudah berjanji pada Yasa dan Adisti akan membuat Faisal pulang.
Setelah berpikir beberapa kali, akhirnya Gunawan pun mau beranikan diri untuk melakukan panggilan. Beberapa kali dia menarik napas, berharap Faisal mau bicara dengannya. Pada panggilan pertama tidak diangkat. Namun, pria itu tidak mau menyerah. Gunawan melakukan panggilan lagi dan akhirnya diangkat juga.
"Halo, siapa ini?" tanya Faisal yang berada di seberang telepon.
"Halo, siapa ini? Kenapa diam saja? Kalau tidak ada yang penting saya akan tutup teleponnya," ucap Faisal lagi.
"Tunggu, Sal, ada yang ingin aku bicarakan," ucap Gunawan membuat Faisal yang berada di seberang terdiam.
Meski sudah bertahun-tahun mereka sudah tidak pernah bertemu, tetapi entah kenapa Faisal masih sangat mengingat suara ini. Dia jadi dilema antara ingin mematikan sambungan telepon atau menunggu lawan bicaranya mengatakan sesuatu.
"Seperti sebelumnya bertahun-tahun yang lalu, aku ingin minta maaf padamu. Maaf sudah membuatmu dan istrimu berpisah, tapi sungguh aku tidak pernah bermaksud melakukannya. Aku dan dia juga tidak pernah memiliki hubungan apa-apa. Aku minta maaf karena sudah membuatmu salah paham padanya dan membuat kalian berpisah. Maafkan aku. Maaf."
__ADS_1
Air mata Gunawan akhirnya menetes juga. Meskipun dia laki-laki, tetapi juga punya perasaan dan hati. Sekarang dia merasa lega karena yang bisa mengatakan apa yang selama ini dipendam dalam dadanya. Dulu setiap kali dirinya datang menemui Faisal, temannya itu selalu menolak bahkan tidak pernah mau mendengarkan apa yang dikatakannya, tetapi kali ini temannya itu hanya diam jadi, dia memiliki kesempatan untuk berbicara banyak. Meskipun Gunawan tidak tahu apakah ucapannya didengar atau tidak.
Di seberang telepon Faisal merasa dirinya seorang penjahat. Dia yang bersalah, tetapi orang lain yang menanggung akibatnya dan meminta maaf. Bukankah sama saja dengan seorang pengecut yang enggan mengakui kesalahannya.
"Seharusnya akulah yang minta maaf. Aku yang membuat kesalahan karena tidak percaya pada istriku sendiri. Padahal dia sudah bersumpah tidak melakukan apa pun denganmu, tapi aku gelap mata hingga akhirnya menceraikannya. Aku menyesal, sungguh sangat-sangat menyesal, tapi semuanya percuma karena dia sudah pergi untuk selamanya. Andai saja waktu bisa diulang aku pasti akan menebus semua kesalahanku padanya. Aku ... aku ...."
Faisal tidak tahu harus berkata apa lagi. Semua kata tercekat di tenggorokannya, tidak mampu keluar apa pun padahal dia ingin mengutarakan isi hatinya, tetapi tidak bisa. Bayangan kesedihan dan keterpurukan sang mantan istri membuat Faisal tidak berdaya. Dirinya kini hidup dalam rasa penyesalan yang begitu dalam, sungguh sangat menyakitkan untuknya.
"Pulanglah, Sal! Apa kamu tidak merindukan negara kita? Apa kamu tidak merindukanku sebagai sahabat? Apakah kamu tidak ingin datang ke makam mantan istrimu? Setidaknya minta maaflah padanya, jangan pernah menyembunyikan diri sendiri dan menanggung kesedihan seorang diri. Keluarkan apa yang mengganjal dalam hatimu, itu akan membuatmu lebih tenang. Hidup dalam keterpurukan tidak akan bisa membuatmu bahagia. Lepaskan semuanya. Dia juga sudah bahagia di sana, jangan membuatnya terbebani dengan rasa penyesalanmu. Dia juga pasti bangga sama kamu karena sudah membesarkan anak yang begitu hebat."
"Kamu mengenal putraku?"
"Tentu saja, memangnya kamu yang tidak tahu apa-apa tentangnya! Yasa sudah menikah dengan Adisti. Kamu tahu, Adisti yang sudah aku anggap seperti anak sendiri. Dua adalah anak dari teman kita."
"Teman kita? Siapa? Hartono?" tanya Faisal dengan nada tidak percaya. Dia sendiri tidak tahu apa pun lagi tentang keluarga almarhum temannya itu. Padahal dulu dirinya pernah berjanji akan ikut menjaga putri mereka.
"Iya, benar. Dia anak almarhum Hartono."
__ADS_1