Janji Yang Kau Ingkari

Janji Yang Kau Ingkari
63. Kesempatan terakhir


__ADS_3

"Selamat pagi," sapa Yasa saat Adisti baru keluar dari rumah.


Tentu saja wanita itu terkejut karena tidak ada yang memberitahu jika ada orang yang sedang menunggunya. Bibi dari tadi juga bersikap biasa saja saat di dapur, sementara Naina yang berada di belakangnya pun bingung harus melakukan apa saat ini. Pasti pria itu ingin pergi bersama dengan atasannya.


Meskipun tidak mengenal, tapi Naina tahu jika Yasa menyukai atasannya. Dilihat dari penampilannya sudah dipastikan jika pria itu orang yang baik. Entah apa yang membuat Adisti ragu, itu bukanlah urusannya.


"Sejak kapan kamu ada di sini?" tanya Adisti sambil memperhatikan penampilan Yasa yang terlihat memakai pakaian santai, tidak seperti sebelumnya yang selalu memakai jas kebesarannya sebagai seorang pimpinan perusahaan.


Sejenak Adisti terpesona dengan penampilan pria itu yang terlihat lebih muda. Siapa yang tidak jatuh cinta melihat pria itu dengan tampilan yang seperti ini. Apalagi saat tahu jika Yasa adalah seorang pemilik perusahaan, pasti para wanita akan rela mengantri untuk mendapatkannya.


Adisti menggelengkan kepala pelan, dia tidak boleh terpesona begitu saja hanya karena penampilan. Semua itu tipuan semata. Dirinya harus fokus dengan apa yang sudah direncanakan sebelumnya.


"Aku baru datang. Hari ini biarkan aku yang mengantarmu, ada sesuatu juga yang ingin aku bicarakan jadi, sekalian kita bicara di jalan," jawab Yasa tersenyum.


"Tidak perlu. Langsung katakan saja di sini, aku rasa itu lebih baik."


"Tidak bisa begitu. Apa yang aku sampaikan cukup panjang jadi, tidak mungkin aku mengatakannya sekarang, bisa-bisa kamu terlambat datang ke butik. Bukankah kamu tidak suka terlambat. Ayo biar aku yang antar!" Yasa beralih menatap Naina yang ada di belakang Adisti dan bertanya, "Naina, kamu boleh ikut dengan kita atau kamu mau pergi bersama dengan Alex?"


"Saya pergi bersama dengan Alex saja, Tuan," jawab Naina.


Dia tidak mungkin mengganggu kedua orang berbeda jenis itu berbicara, yang ada nanti dirinya malah merasa tidak enak. Adisti sedari tadi memberi kode pada Naina agar ikut bersamanya saja, tetapi gadis itu pura-pura tidak melihat. Jika nanti atasannya itu marah dia bisa mencari alasan.

__ADS_1


"Baiklah, kami pergi dulu." Yasa segera menarik tangan Adisti dan meminta wanita itu naik ke mobilnya.


Awalnya Adisti menolak, tetapi Yasa terus saja memaksa hingga akhirnya mau tidak mau wanita itu pun menurut saja. Tidak ada salahnya berbicara berdua di mobil. Selama ini Yasa juga tidak pernah melakukan hal yang macam-macam, dia bukan laki-laki seperti itu.


"Kenapa kamu suka sekali memaksa! Aku masih ada pekerjaan yang harus didiskusikan dengan Naina, tapi kamu sudah mengambil waktuku," gerutu Adisti saat mereka sedang dalam perjalanan.


"Jika tidak suka, kamu bisa melakukan apa saja padaku, bahkan menghukumku. Aku rela mendapatkannya asalkan bisa bertemu denganmu setiap hari," sahut Yasa yang masih dengan senyumnya yang mengembang.


Adisti mencebikkan bibirnya, dia benar-benar semakin kesal pada Yasa, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.


"Katanya ada yang ingin kamu bicarakan, tapi dari tadi kamu diam saja. Jangan bilang nanti kamu bicara saat sampai di butik. Kalau begitu kenapa tidak tunggu aku di butik saja?"


"Bukankah sebelumnya sudah aku katakan kalau aku masih ingin sendiri? Aku tidak ingin menjalin hubungan dengan siapa pun dulu saat ini."


"Tapi aku hanya ingin kamu membuka hatimu saja. Izinkan aku berusaha untuk mendapatkanmu."


"Di luar sana banyak sekali gadis yang pastinya akan rela mengantri untuk mendapatkanmu. Kenapa kamu tidak membuka hatimu untuk mereka saja? Aku yakin mereka jauh lebih cantik dan lebih baik daripada aku."


"Tapi sayangnya aku sama sekali tidak tertarik dengan mereka. Hatiku sepenuhnya sudah terpaut padamu."


"Seperti kamu yang tidak mungkin jatuh cinta dengan gadis selain aku, aku pun juga begitu. Aku tidak mungkin membuka hatiku untuk saat ini karena aku memang benar-benar belum siap."

__ADS_1


"Apa kamu yakin?" tanya Yasa sambil menatap Adisti dengan wajah serius.


Adisti mengangguk ragu sambil menatap ke arah Yasa juga. Dia bisa melihat raut wajah kekecewaan yang begitu besar di wajah pria itu, tapi mau bagaimana lagi, wanita itu juga tidak yakin dengan perasaannya.


"Itulah juga yang ingin aku katakan. Mungkin setelah ini aku tidak akan mendatangimu lagi. Mamaku memaksaku untuk segera menikah dengan wanita pilihannya. Aku sudah mencoba segala cara untuk membujuk Mama agar mau menunggu sampai aku bisa meyakinkanmu lebih dulu, tapi mama menolak karena memang dari dulu mama selalu ingin aku segera menikah. Makanya aku diberi mama waktu selama satu minggu untuk mendapatkan wanita yang mau aku nikahi. Jika sampai waktunya habis dan aku belum juga mendapatkan wanita yang mau aku nikahi, mau tidak mau aku harus menerima wanita pilihan mama. Batas waktunya hingga minggu depan karena itu, sekarang aku mengatakannya padamu. Pikirkan semuanya baik-baik, hari Sabtu aku akan menunggumu di kafe biasa. Jika kamu datang berarti kamu memberiku kesempatan, tapi jika di hatimu sudah benar-benar tidak ada aku sama sekali, kamu boleh mengabaikan apa yang aku katakan hari ini. Aku tidak akan memaksakan perasaanku padamu."


Adisti terdiam, perasaannya tidak menentu. Dia masih belum siap untuk membuka hati, apalagi untuk masa lalunya, tetapi waktu yang diberikan oleh orang tua Yasa juga tidak panjang. Entah wanita itu rela atau tidak kehilangan pria itu nanti. Sebaiknya Adisti memikirkan semuanya baik-baik, dia tidak ingin mengambil keputusan dengan tergesa-gesa, yang nantinya malah akan disesali seumur hidup.


"Maaf jika aku terlalu membebanimu, tapi ini semua sudah menjadi keinginan mama. Dia mengancam tidak akan minum obatnya jika aku tidak menyetujui keinginannya jadi, jalan satu-satunya hanya meminta waktu satu minggu, yang ternyata sangat singkat," lanjut Yasa.


Masih tidak ada jawaban dari Adisti. Wanita itu benar-benar bingung harus menjawab apa karena dia belum kepikiran mengenai hal tersebut. Hingga tidak terasa mobil yang dikendarai oleh Yasa sampai juga di depan butik. Adisti menawari pria itu untuk mampir lebih dulu. Namun, tidak seperti biasanya yang akan dengan senang hati menerima, pria itu memilih pergi saja. Dia juga masih ada pekerjaan yang harus dilakukan.


.


.


.


Maaf, kemarin author sakit jadi nggak bisa up. Alhamdulillah sekarang udah sembuh, tapi anakku sekarang yang sakit. Minta doanya agar anakku segera sembuh, ya.


Terima kasih ....

__ADS_1


__ADS_2