
Setelah perdebatan sejenak, akhirnya Adisti mau mengikuti Yasa pergi. Alex sendiri sudah pulang karena permintaan dari atasannya, tadi dia dari toilet, begitu kembali Adisti sudah akan pergi.
Mobil yang dikemudikan Yasa sudah melaju meninggalkan halaman butik. Adisti masih diam di kursi depan, ingin bertanya takut membuat lawan bicaranya jadi besar kepala. Tidak bertanya juga penasaran, dia jadi bingung.
Tidak berapa lama, akhirnya mereka berdua sampai juga di tempat yang dituju. Adisti masih terdiam di dalam mobil. Dia tidak menyangka bahwa Yasa akan mengajaknya ke sini. Tempat ini banyak sekali menyimpan kenangannya dulu bersama dengan pria itu. Bahkan sampai detik ini pun Adisti masih sangat mengingatnya karena memang banyak kenangan manis di sini.
Yasa juga tipe orang yang sangat perhatian, hingga membuat wanita itu susah untuk melupakan segala yang dilakukannya. Akan tetapi, karena ketidaktegasannya membuat hubungan mereka akhirnya berakhir. Itulah yang disesali pria itu.
"Ayo turun! Kenapa masih diam saja?" tanya Yasa saat pria itu sudah membukakan pintu untuk dirinya.
Terlalu larut dalam lamunannya hingga membuat Adisti tidak sadar kapan Yasa turun dari mobil. Tanpa banyak berkata, wanita itu pun ikut turun dan berjalan menuju tempat makan yang ada di sana. Tempatnya memang sederhana. Namun, dengan pemandangan laut yang ada di sampingnya, membuat suasana begitu menyenangkan. Yasa memesan dua nasi goreng beserta minumannya. Itu adalah makanan favorit keduanya dulu.
"Kenapa kamu mengajakku ke sini?" tanya Adisti di sela keheningan. "Apa kamu ingin bernostalgia? Rasanya semuanya percuma. Itu tidak akan mengembalikan masa lalu."
Yasa menatap sendu ke arah Adisti, wanita yang masih menguasai hatinya. "Tidak adakah kesempatan kedua untukku? Aku ingin memulai semuanya kembali bersamamu. Aku ingin merajut hubungan kita yang sebelumnya sudah kandas. Aku ingin mewujudkan keinginan kita yang belum tercapai."
"Keinginan? Keinginan yang mana? Rasanya sudah tidak ada keinginan dari kita yang sama."
Bukan Adisti tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Yasa, hanya saja dia tidak ingin membahas masa lalu. Namun, sepertinya di suasana yang seperti ini akan sangat sulit.
__ADS_1
"Keinginan kita untuk berumah tangga. Aku minta maaf sudah pernah mengecewakanmu karena lebih memilih kedua orang tuaku, tapi percayalah aku melakukan semuanya juga karena kita. Saat itu aku mengikuti keinginan orang tuaku untuk bertunangan dengan salah satu anak dari rekan bisnisnya, itu semua juga karena aku ingin mencari alasan yang tepat untuk membatalkan pertunangan itu. Kamu tahu sendiri bagaimana kedua orang tuaku sangat menyukai anak temannya, tapi mereka tidak tahu kejelekan dari wanita itu. Aku sudah pernah mengatakan padamu kalau aku ingin kamu menunggu, tapi kamu malah meninggalkanku dan memilih menikah dengan Bryan."
"Jadi kamu menyalahkanku atas apa yang sudah terjadi?"
"Bukan, bukan maksudku seperti itu hanya saja ...."
"Tidak usah dijelaskan. Aku mengerti maksudmu." Adisti memotong ucapan Yasa, dia sendiri bingung harus berbuat apa.
Dulu Yasa memang mintanya untuk bersabar karena pria itu akan membuktikan sesuatu padanya. Namun, karena Adisti terlanjur sakit hati karena Yasa menerima pertunangan itu, akhirnya memutuskan hubungannya dengan pria itu dan lebih memilih membangun hubungan baru dengan Bryan, yang saat itu sangat baik padanya. Perhatian dari Bryan mampu membuat Adisti luluh.
Dalam hati wanita itu menyesali andai saja dulu dia tidak terbawa emosi dan memilih menunggu Yasa, pasti semua ini tidak akan terjadi. Namun, kembali lagi ini adalah bagian dari takdir yang harus dia jalani. Itu semua juga menjadi pelajaran baginya agar ke depannya berpikir lebih dulu sebelum mengambil keputusan.
Makanan pesanan mereka telah datang, keduanya pun menikmati dengan tenang. Selasa melirik ke arah Adisti, wanita itu hanya diam tidak memperdulikannya. Meski hatinya saat ini sedang tidak baik-baik saja, sedari tadi sangat gelisah. Jantungnya berdetak tidak beraturan. Hanya saja dia pandai menutupi dan tidak menunjukkan ketidaknyamanannya.
"Kamu ada di depanku, mana mungkin aku mengabaikanmu. Setiap hari aku selalu memikirkan cara bagaimana agar bisa dekat denganmu dan bisa menikmati waktu setiap saat. Sekarang saat ada kesempatan, aku tidak mau menyia-nyiakannya."
"Kalau begitu lebih baik kita pulang saja."
"Kenapa pulang? Kita bahkan belum banyak bercerita. Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu."
__ADS_1
"Bicara apa lagi? Aku rasa tidak ada yang perlu dibicarakan."
"Banyak. Banyak sekali, tentang masa lalu kita. Perjalanan hidup kita selama ini. Aku ingin tahu banyak hal tentangmu."
Adisti berdecak sinis. "Bukankah kamu sudah mengetahuinya dari anak buahmu? Mereka lebih hebat jadi, sudah tidak perlu lagi menanyakan padaku."
"Tetap saja akan berbeda jika kamu yang menceritakan semuanya padaku." Yasa masih tidak mau menyerah. Dia ingin memperbaiki hubungannya dengan Adisti, semoga saja wanita itu mau membuka hati.
"Tidak ada yang spesial mungkin ceritamu lebih istimewa. Pasti banyak hal yang sudah kamu lalui bersama dengan tunanganmu itu." Entah kenapa Adisti tiba-tiba saja ingin mengetahui tentang tunangan Yasa. Padahal sebelumnya dia tidak mau tahu sama sekali.
"Sudah aku bilang jika pertunanganku hanya ingin menjelaskan pada kedua orang tuaku bahwa dia tidak pantas untuk dijadikan istri. Saat aku bertunangan dengannya, yang ada di kepalaku hanyalah bagaimana caranya agar bisa mengungkapkan pada mama dan papa kalau dia bukan wanita yang baik. Banyak hal yang aku lakukan meski tidak mudah karena kamu tahu sendiri jika wanita itu juga dari keluarga yang berada. Banyak yang menjaga privasi mereka dengan ketat."
Adisti masih mendengarkan apa yang dikatakan oleh Yasa. Dia tidak menyangka jika hal tersebut akan terjadi pada mantan kekasihnya. Ternyata banyak hal yang sudah dilewati.
"Apa kamu berhasil mengungkapkan semua itu?" Entah kenapa tiba-tiba Adisti mengajukan pertanyaan yang seharusnya tidak dia katakan. Hanya saja dia sangat penasaran bagaimana kelanjutan cerita dari mantan kekasihnya.
"Tentu saja aku berhasil. Kalau tidak mana mungkin sekarang aku ada di sini bersamamu dan berusaha untuk mendapatkan cintamu kembali."
Adisti memalingkan wajahnya, tidak tahu harus bahagia atau sedih. Di saat dirinya sudah memutuskan untuk menutup hatinya, tetapi tiba-tiba saja Yasa datang dengan kegigihannya untuk mendapatkan cinta itu kembali. Hatinya kembali dilanda kebingungan, entah harus memilih jalan yang mana.
__ADS_1
"Jangan terlalu dipikirkan. Kamu sudah selesai makannya? Kalau sudah sebaiknya kita jalan-jalan di tepi pantai, sudah lama tidak menghirup udara pantai di senja seperti ini."
Yasa memanggil pelayan dan membayar tagihan, kemudian mengajak Adisti berjalan di tepi pantai, menikmati langit senja yang sebentar lagi akan menghilang. Keduanya masih terdiam larut dengan pikiran masing-masing. Sesekali mengingat kenangan masa lalu di saat mereka masih bersama dulu. Tidak seperti biasanya kali ini Adisti lebih bisa menikmati waktu santainya dengan Yasa. Padahal sebelumnya wanita itu selalu merasa risih.