Janji Yang Kau Ingkari

Janji Yang Kau Ingkari
56. Masa lalu


__ADS_3

"Om, apa kabar?" sapa Adisti sambil mencium punggung tangan pria paruh baya itu.


"Baik. Kamu kapan sampai?" tanya Edwin balik.


"Baru tadi, Om."


"Kenapa kalian malah ngobrol di sini? Ayo kita masuk makan siang juga sudah siap," tegur Vira yang baru saja datang.


Adisti dan Edwin pun mengikuti gadis itu menuju ruang Makan. Mereka menikmati hidangan yang ada di atas meja, semuanya juga terasa begitu lezat hingga tidak terasa makanan pun cepat habis. Edwin mencoba untuk mengajak keponakannya itu berbicara, banyak hal yang ingin dia tanya. Apalagi mereka sudah cukup lama tidak bertemu. Vira hanya diam mendengarkan.


"Bagaimana usaha kamu?" tanya Edwin pada Adisti.


"Alhamdulillah semuanya lancar, Om. Usaha Om sendiri bagaimana?"


"Lancar juga. Semoga usaha kita semakin maju dan bisa menciptakan lapangan pekerjaan untuk orang-orang di luaran sana, yang membutuhkan pekerjaan. Bukankah itu juga tujuan kamu mendirikan butik? Padahal kamu sudah memiliki usaha dari kedua orang tuamu."


Adisti tersenyum, Edwin memang selalu tahu apa yang menjadi tujuannya. "Selain karena alasan itu, aku juga ingin menyalurkan hobi. Aku 'kan sangat menyukai fashion."


"Kamu sangat beruntung, Adisti, bisa meraih cita-citamu. Aku juga suka dengan fashion, tapi papa sangat melarangku dan memaksaku untuk melanjutkan usahanya," sela Vira dengan cemberut.


"Sayang, selain kamu siapa lagi yang akan mewarisi usaha Papa?"

__ADS_1


"Almarhum papanya Adisti juga memiliki usaha, tapi Adisti masih bisa meraih cita-citanya. Kenapa aku tidak boleh?"


"Sudah, kamu jangan banyak tanya, ini semua juga demi masa depanmu. Seorang ayah tidak akan menjerumuskan anaknya."


"Iya, iya, aku tahu," sahut Vira dengan kesal. Selalu saja seperti itu alasan saat dirinya protes.


Setelah selesai makan siang, Vira dan Adisti membereskan meja makan, sementara Edwin pergi ke taman samping rumah. Pria itu ingin menghubungi asistennya untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai. Tadi ada beberapa berkas yang dia tinggalkan begitu saja. Untungnya Edwin memiliki orang yang bisa diandalkan dalam pekerjaan, tidak terlalu sulit juga untuk mengaturnya.


Adisti yang sudah selesai dalam pekerjaannya pun segera menemui Edwin yang berada di taman. Dia sengaja ingin mengenang masa lalu, sekaligus bertanya banyak hal pada pamannya itu. keduanya juga sudah lama tidak bertemu.


"Eh, kamu, Dis. Om kira kamu masih sibuk sama Vira. Ya sudah, sini duduklah!" ucap Edwin saat melihat sang keponakan. Dia pun memberi ruang pada Adisti agar bisa duduk di sampingnya.


Adisti pun tidak membuang banyak waktu dan segera mengikuti perintah omnya. Di taman ini udara begitu sejuk, pemandangan bermacam-macam bunga pun memanjakan mata. Pantas saja omnya lebih suka menghabiskan waktu di tempat ini, itu yang Vira katakan tadi.


"Maksudmu apa? Melakukan apa?"


"Aku rasa Om pasti sudah paham apa yang aku maksud jadi, aku tidak perlu menjelaskannya secara detail."


Edwin menatap keponakannya dengan kening mengerut. "Tapi Om benar-benar tidak tahu apa yang kamu maksud."


"Oh, seperti itu, tapi aku merasa Om sudah tahu dan hanya berpura-pura tidak tahu. Baiklah kalau begitu, biar aku jelaskan biar semuanya jelas. Kenapa Om bekerja sama dengan Bryan untuk menculikku? Kenapa Om ingin mencelakaiku? Apa kesalahanku?" Adisti menatap ke arah pria yang ada di sampingnya dengan pandangan terluka.

__ADS_1


Pelaku sebenarnya memanglah Edwin. Tentu saja hal itu membuat Adisti kecewa. Selama ini wanita itu sudah menganggap omnya itu seperti orang tua kandungnya, tetapi siapa yang menyangka jika Edwin bisa setega itu. Dalam hati dia juga bertanya-tanya, apakah Vira juga terlibat dalam penculikan atau tidak.


Edwin sendiri terdiam setelah mendengar kalimat yang keluar dari bibir Adisti. Dia tidak menyangka jika keponakannya mengetahui hal itu, padahal tadinya pria itu mengira jika keponakannya tidak tahu apa-apa. Apalagi Bryan juga mengatakan jika Adisti tidak melakukan apa pun. Tentu membuatnya tenang karena aksinya tertutupi.


"Kenapa diam saja, Om? Tidakkah Om ingin membela diri? Aku sudah sangat menyayangi Om seperti orang tua kandungku sendiri, tapi aku tidak menyangka Om bisa berbuat seperti itu padaku. Apa salahku? Jika memang ada sesuatu yang salah dalam diriku, kenapa tidak Om katakan secara langsung, hingga aku bisa mengetahui kesalahanku dan mencoba untuk berubah. Om tidak harus melakukan kejahatan yang seperti ini. Kakek dan nenek juga pasti akan kecewa melihat semua ini karena selama ini Om adalah anak kebanggaan mereka. Tentu Om tidak lupa dengan hal itu, bahkan papaku selalu tersisih karena kakek dan nenek lebih memuji kehebatan Om," ucap Adisti dengan mata berkaca-kaca.


Sedari tadi Adisti sudah mencoba untuk terlihat tegar dan baik-baik saja di depan omnya. Dia tidak ingin terlihat lemah agar nantinya tidak mudah di tindas lagi, tapi tetap saja air mata mengalir begitu saja. Apalagi pria di depannya itu selama ini menjadi tumpuan hidupnya. Setiap kali ada masalah, Adisti sering bercerita padanya, tetapi sekarang justru Edwin yang menimbulkan masalah dalam kehidupannya.


Siapa yang menyangka akan seperti ini jadinya. Bermimpi pun Adisti tidak pernah membayangkan hal ini. Sungguh apa yang dilakukan oleh Edwin telah melukai hatinya sebagai anak. Andai waktu bisa diputar, dia lebih memilih tidak tahu siapa pelaku penculikannya waktu itu.


"Sebagai seorang ayah, aku akan melakukan apa pun demi kebahagiaan putriku. Aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakitinya. Kalaupun memang papa dan mama kecewa padaku, aku tidak masalah. Asalkan putriku bahagia itu sudah cukup karena itulah yang akan dilakukan oleh semua orang tua yang ada di bumi ini."


Adisti mengerutkan keningnya, sama sekali tidak mengerti maksud dari kalimat Edwin.


"Kebahagiaan putri Om? Vira? Apa maksud Om dengan kebahagiaan Vira dan penculikan itu? Apa Vira yang menginginkannya atau Vira yang merencanakan semua itu?" tanya Adisti dengan dada berdebar, takut jika apa yang dipikirkan memanglah kenyataannya.


"Kamu jangan mengambil kesimpulan begitu saja. Vira tidak ada hubungannya dengan apa yang terjadi padamu kemarin."


Adisti menghela napas lega, ternyata pikirannya salah. "Lalu apa maksud dari kata-kata yang mengatakan bahwa, Om akan melakukan apa pun demi putri Om? Padahal saat ini kita sedang membahas tentang penculikan yang dilakukan Bryan atas perintah Om."


"Apa kamu tidak ingat dengan apa yang kamu lakukan pada Vira beberapa tahun yang lalu?" tanya Edwin yang dijawab gelengan Adisti dengan ragu. "Kamu lebih mempercayai temanmu dan menyingkirkan Vira dari kehidupanmu, padahal Vira sudah sangat baik padamu. Dia hanya ingin memiliki seorang saudara karena itu dia sangat protektif padamu. Setiap kali ada orang yang ingin menyakitimu, dia akan berdiri paling depan untuk membelamu, tapi lihatlah apa yang kamu berikan padanya? Kamu malah menuduhnya yang tidak-tidak dan lebih memilih membela temanmu itu dan itu semua membuat Vira sakit hati. Berhari-hari dia mengurung diri di kamar. Setiap hari dia menangis karena kehilangan saudaranya. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke luar kota dan tinggal bersamaku di kota ini."

__ADS_1


Adisti mendelik mendengarnya. Dia tidak menyangka jika hal yang dianggapnya sepele ternyata sangat menyakiti sepupunya. Wanita itu mengira Vira memang ingin tinggal bersama dengan papanya hingga tinggal di luar kota. Siapa yang tahu jika ternyata karena salah paham.


"Om pasti tahu saat itu aku sedang emosi. Aku tidak benar-benar marah pada Vira. Lagi pula aku juga sudah menjelaskan semuanya waktu itu lewat sambungan telepon. Vira juga sudah memaafkanku."


__ADS_2