
"Telepon? Hanya itu yang bisa kamu lakukan? Tidakkah kamu ingin menemui Vira secara langsung dan meminta maaf di depannya? Memang sekarang zaman sudah canggih, tapi hubungan kalian itu sudah sangat dekat seperti saudara kandung. Bahkan Vira rela jauh dariku agar bisa selalu berada di sampingmu dan menemani dalam suka maupun duka, tapi kamu juga yang sudah mengecewakannya. Kamu juga pasti mengerti mengecewakan Vira berarti juga mengecewakanku," ucap Edwin dengan menatap tajam ke arah keponakannya.
Air mata Adisti menetes, sungguh dia tidak bermaksud seperti itu. Dulu gadis itu berpikir jika sepupunya baik-baik saja dan mengira jika Vira sengaja ingin tinggal bersama papanya. Siapa yang menyangka jika seperti ini akhirnya. Melihat keponakannya menangis tergugu membuat Edwin tidak tega. Namun, hatinya masih terasa sakit saat mengingat apa yang suka keponakannya itu lakukan pada putrinya.
"Pa, Dis, ada apa ini? Kenapa Adisti menangis?" tanya Vira yang baru datang.
Dari kejauhan dia bisa melihat jika papa dan sepupunya sedang bersitegang. Entah apa yang sudah terjadi hingga membuat keduanya berdebat. Terlihat wajah papanya yang sedang emosi, sementara Adisti yang menangis. Pasti mereka sedang ada masalah, entah apa itu.
"Vira!" seru Edwin yang begitu terkejut melihat putrinya yang sudah berada di sana, sementara Adisti memalingkan wajahnya untuk menghapus air mata. Dia tidak ingin sepupunya tahu apa yang sudah terjadi, pasti nanti Vira akan merasa bersalah. Apalagi kata Edwin tadi gadis itu tidak tahu apa-apa mengenai apa yang sudah dilakukan oleh omnya itu.
"Pa, kenapa diam saja? Apa yang sebenarnya terjadi sampai membuat dia menangis? Papa marahin dia?" tanya Vira lagi karena tak kunjung mendapatkan jawaban.
"Tidak, Papa hanya menasehatinya saja. Kalau kamu tidak percaya tanyakan saja padanya," jawab Edwin tanpa melihat putrinya, berharap Vira percaya dan tidak bertanya lagi. Namun, itu hanya angan semata.
Vira pun beralih menatap Adisti, berharap sepupunya itu mau berkata sejujurnya. Meskipun itu rasanya sangat tidak mungkin karena pasti wanita itu akan menutupi kebenaran.
"Pa, aku bukan anak kecil lagi, tolong katakan sejujurnya apa yang Papa lakukan pada Adisti?"
Edwin mengalihkan pandangannya karena tidak mau bertatapan dengan putrinya. Vira sangat hapal dengan kebiasaan papanya, sudah pasti pria itu berbohong.
"Dis, katakan ada apa? Jangan bohongin aku! Kita sudah baikan, jangan sampai kita ada masalah lagi."
__ADS_1
Adisti pun mencoba untuk tersenyum ke arah sepupunya dan berkata, "Aku tidak apa-apa, kok, Vir. Benar kata Om tadi, Om Edwin hanya menasehatiku saja. Kamu tahu 'kan kalau aku ini orangnya keras kepala jadi, harus keras dalam menasehatiku."
Edwin sekilas melirik ke arah keponakannya, tidak menyangka jika Adisti malah mau berbohong. Padahal tadinya dia pikir Adisti akan menceritakan semuanya para Vira dan berakhir dirinya akan bertengkar dengan sang putri, tapi siapa sangka yang terjadi malah sebaliknya.
Vira menghela napas, sepertinya percuma saja bertanya pada papa dan sepupunya. Mereka pasti akan tetap menutupi apa yang sudah terjadi. Jika memang seperti itu kemauan keduanya, biarlah yang pasti dia berharap apa pun masalah yang terjadi, mudah-mudahan semuanya baik-baik saja. Vira pun duduk di tengah-tengah keduanya, dia mulai berusaha untuk mencairkan suasana agar baik Adisti maupun sang papa tidak menaruh dendam.
"Besok kita jalan-jalan yuk, Dis! Ke mana saja, asal bisa mendinginkan kepala," ajak Vira.
"Maaf, Vir, bukannya aku mau menolak, tapi besok aku harus kembali pulang, ada pekerjaan yang sudah menunggu," jawab Adisti berbohong.
Padahal dia niatnya di kota ini selama tiga atau empat hari, tetapi setelah tahu kebenarannya membuat wanita itu enggan untuk berlama-lamaan di kota ini. Apalagi harus tinggal satu rumah dengan orang yang berusaha untuk mencelakainya. Bukan karena Adisti takut jika Edwin akan mencelakainya lagi. Dia dianya merasa kecewa pada omnya. Edwin juga tidak akan sampai setega itu mencelakai dirinya di rumah ini.
Dia yakin jika ada yang sengaja disembunyikan dan itu pasti masalah serius. Adisti tidak mungkin akan pergi begitu saja saat rencana sudah disusun. Vira jadi khawatir hal tersebut akan membuat hubungan keluarga jadi renggang, padahal dia sudah sangat berusaha agar semua baik-baik saja.
"Bukan seperti itu, Vir. Aku memang ada pekerjaan mendadak dari sekretarisku. Aku harap kamu mengerti," sahut Adisti tang masih mencoba membujuk sepupunya.
"Tidak, kamu pasti berbohong. Aku tahu pasti kepulanganmu karena masalah tadi dengan papa, kan?"
"Tidak, Vir. Harus berapa kali aku katakan kalau aku tidak ada masalah dengan Om Edwin. Kamu jangan berburuk sangka kepadaku dan papamu, itu tidak baik."
"Maka dari itu kamu harus tetap di sini beberapa hari. Aku ingin kita pergi bersama ke banyak tempat."
__ADS_1
Adisti menghela napas panjang, sepertinya akan sulit membujuk sepupunya. Lebih baik mengikuti saja, dia juga sudah berencana seperti itu sebelumnya. Sekarang tinggal melanjutkan sesuai rencana saja.
"Baiklah, jika itu maumu. Nanti aku akan menghubungi sekretarisku dan menunda beberapa pekerjaan, tapi aku hanya bisa di sini sampai tiga hari, lebih dari itu aku tidak bisa."
"Iya, tidak apa-apa. Tiga hari juga sudah cukup. Aku tahu kamu orang sibuk, pasti banyak pekerjaan," sahut Vira ketus yang sengaja dibuat-buat, hingga membuat Adisti merasa tidak enak.
"Maaf, bukan maksudku seperti itu Aku juga ingin lebih lama lagi di sini."
"Iya, aku mengerti sudah. Kamu tidak perlu merasa menyesal, sekarang sebaiknya kita membicarakan hal lain saja."
Adisti pun mengangguk sambil tersenyum. Dia tidak akan mungkin tega melaporkan omnya ke kantor polisi, pasti nanti Vira akan merasa sedih. Mungkin kali ini dia harus melupakan kejadian itu, bukan karena dirinya takut pada para pelaku, tetapi ini demi hubungan kekeluargaan dengan Vira. Nanti dia akan menghubungi pengacaranya agar mencabut laporan mengenai penculikan waktu itu.
Meskipun hal itu bisa menjerat mantan suaminya, tetapi Adisti tidak ingin omnya dipenjara. Bryan juga tidak akan mungkin melepaskan Edwin begitu saja jika ditangkap, bahkan mungkin nanti akan memanfaatkan omnya itu untuk mendapatkan uang. Kali ini dia harus siap dengan apa pun yang akan dilakukan Bryan. Jika nanti Edwin kembali terlibat, terpaksa wanita itu akan membawa ke jalur hukum.
"Kamu tadi ke sini nggak bawa minuman, Vir? Masa kita ngobrol di sini cuman diam saja! Bawa minuman sama cemilan kek, biar nggak bengong aja," seru Edwin membuat Vira menepuk keningnya.
"Oh iya, lupa. Ya sudah tunggu sini biar aku masuk ke dalam. Aku ambilin cemilannya, kebetulan kemarin aku beli banyak sama Bibi." Vira pun segera berlalu dari sana, meninggalkan sang papa dan sepupunya.
"Kenapa kamu tidak mengatakan yang sejujurnya pada Vira?" tanya Edwin begitu bayangan Vira tidak terlihat lagi.
"Tidak ada alasan untuk mengatakan yang sejujurnya. Aku juga tidak ingin melihat kekecewaan di wajah Vira. Untuk kali ini aku memaafkan Om, tapi tidak untuk nanti. Jika aku tahu Om kembali terlibat, Maafkan aku jika aku tidak sopan terhadap Om."
__ADS_1