
Satu minggu telah terlewati. Hari ini sesuai janji Yasa jika pria itu akan mengajak Adisti untuk menemui kedua orang tuanya. Sepanjang perjalanan tidak ada pembicaraan di antara keduanya sama sekali. Adisti sibuk dengan pikirannya sendiri, yang takut dengan sambutan yang akan diterimanya nanti dari calon mertuanya.
Sementara itu, Yasa sedang fokus pada kemudinya. Sesekali pria itu juga menatap ke arah Adisti yang duduk dengan tidak nyaman. Dia tahu apa yang membuat wanita itu gelisah.
"Kamu kenapa? Dari tadi gelisah terus. Apa takut karena akan bertemu dengan kedua orang tuaku?"
Adisti menatap ke arah Yasa dan berkata, "Tentu saja aku takut. Meskipun sebelumnya kami pernah bertemu, tapi tetap saja aku takut jika reaksi mereka berbeda dengan dulu."
"Kalau memang reaksi mereka tidak sesuai dengan apa yang kamu pikirkan bagaimana? Apa kamu akan menyerah begitu saja?"
"Tentu saja tidak. Aku sudah memutuskan untuk menerima kamu jadi aku juga akan memperjuangkan hubungan kita. Kalaupun nanti kedua orang tuamu tidak setuju, bukankah kita akan sama-sama berusaha agar mendapatkan Restu?"
Yasa tersenyum haru, tidak menyangka jika Adisti mau berjuang bersamanya. Seandainya saja hal itu mereka lakukan sejak dulu, tetapi dia tidak mau mengingat lagi masa lalu. Kini ada masa depan yang harus diperjuangkan.
"Tentu. Kita akan sama-sama berjuang untuk mendapatkan restu kedua orang tuaku. Apa pun nanti yang akan mereka katakan, aku akan ada di sampingmu. Semoga kita bisa melewati segala cobaan yang ada."
Tidak berapa lama akhirnya mobil yang dikendarai oleh Yasa sampai juga di halaman rumah kedua orang tua pria itu. Keduanya turun dan langsung masuk rumah begitu saja karena memang pintu juga sedang terbuka.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, calon menantu Mama. Akhirnya datang juga. Dari tadi Mama nungguin kamu loh," sambut Mama Riana—mama Yasa—sambil memeluk tubuh kekasih putranya.
__ADS_1
Hal tersebut tentu saja membuat Adisti terkejut. Tadinya dia mengira jika calon mertuanya akan bersikap kasar padanya, tetapi sekarang yang terlihat justru malah kebalikannya. Yasa yang melihat itu pun tersenyum. Dia memang sudah membicarakan tentang Adisti dengan kedua orang tuanya dan mereka bahagia. Tadi pria itu hanya ingin menguji kekasihnya.
Di belakang Mama Riana juga ada Papa Doni yang tersenyum ke arah mereka. Adisti juga memberi salam pada pria itu. Dia begitu senang mendapat sambutan baik dari kedua calon mertuanya, berharap tidak hanya sampai di sini saja, besok dan seterusnya semoga semakin bertambah baik. Dia juga ingin mendapat kasih sayang orang tua dari mereka.
"Ayo, duduk!" ajak Mama Riana sambil menarik tangan Adisti, kemudian meminta bibi untuk membuatkan minuman. "Lama tidak bertemu sekarang kamu makin cantik," pujinya.
"Tante bisa saja. Tante sendiri jauh lebih cantik daripada saya."
"Ah kamu ada-ada saja. Tante ini semakin hari semakin tua, mana ada semakin cantik. Papanya Yasa tidak jatuh cinta pada wanita lain saja sudah membuat Mama beruntung."
"Mama itu bicara apa sih? Mana mungkin Papa jatuh cinta dengan wanita lain. Bagi Papa cuma Mama yang ada di hati Papa, selamanya akan seperti itu. Itu juga berlaku pada Yasa nanti. Awas saja kalau dia mempermainkan hati wanita, Papa akan menjadi orang pertama yang menghajarnya. Jadi Adisti kalau nanti kalian sudah menikah, kalau Yasa berani macam-macam segera kamu laporkan saja sama Papa, biar Papa yang membereskannya," sahut Papa Doni.
"Papa dan Mama ini kenapa malah jelek-jelekin aku? Bukankah seharusnya mama dan papa itu mengatakan yang baik-baik tentangku, biar Adisti ini makin cinta sama aku. Ini malah sebaliknya, yang ada nanti Adisti jadi ilfeel padaku," sahut Yasa dengan wajah kesal.
Jangan sampai itu terjadi, pria itu sudah sangat berusaha mendapatkan wanita itu. Jangan sampai nanti berubah pikiran, dia tidak tahu harus melakukan apa nanti.
"Tanpa Mama katakan pun kalau Adisti memang cinta sama kamu juga pasti akan tetap cinta, tidak usah memperlihatkan kebaikanmu. Biarlah Adisti melihatnya sendiri, itu akan membuat cinta dia sama kamu semakin besar," sahut Mama Riana yang diangguki Yasa.
Pria itu tersenyum, benar apa yang dikatakan sang mama. Jika Adisti yang melihat kebaikannya sendiri, itu akan jauh lebih spesial dan membuat wanita itu mempertahankannya. Itu pun kalau sang kekasih melihatnya. Yasa mengusap wajahnya pelan, biarlah semua berjalan apa adanya.
Bibi membawakan minuman untuk Adisti dan semua orang. Mereka pun berbincang-bincang sejenak akhirnya Mama Riana mengajak Adisti untuk jalan-jalan di mall, hanya berdua saja. Tadinya Yasa ingin ikut, takut jika terjadi sesuatu diantara sang kekasih dan mamanya. Dia sering mendengar hal itu, tentang ketidak cocokan mertua dan menantu.
__ADS_1
Akan tetapi, Mama Riana melarang karena dirinya hanya ingin berdua saja dengan calon menantunya. Selain untuk berbelanja kebutuhan para wanita, wanita itu juga ingin merasakan bagaimana rasanya jalan-jalan dengan menantunya. Dari dulu dia sudah sangat menginginkannya, tapi Yasa tidak pernah membawa wanita ke rumah. Kali ini ada kesempatan dan wanita itu tidak ingin melewatkannya begitu saja.
Mama Riana dan Adisti pergi ke mall dengan menggunakan mobil. Tadinya Adisti ingin mengemudi sendiri, tetapi Papa Doni meminta agar membawa sopir saja supaya tidak lelah. Pasti nanti mereka juga akan berbelanja banyak.
Kedua wanita itu menghabiskan banyak waktu untuk mengelilingi mall dan membeli segala macam pakaian, tas, sepatu, aksesoris dan lainnya. Hingga tidak terasa waktu pun beranjak siang. Mama Riana mengajak Adisti mampir di sebuah restoran, mereka sudah kelaparan karena lelah berkeliling.
"Bagaimana menurutmu tentang Yasa?" tanya Mama Riana di sela makan siang mereka.
"Maksud Tante?" tanya Adisti balik karena belum faham maksud calon mertuanya itu.
"Hanya ingin tahu bagaimana pendapat kamu tentang anak tante itu."
Adisti berpikir sejenak dan menjawab, "Yasa pria yang baik dan sopan. Dia juga suka menolong orang lain, tidak peduli orang itu jahat padanya atau tidak."
"Hanya itu saja?"
"Sebenarnya banyak juga, tapi sulit untuk dijelaskan."
"Seperti layaknya orang lain, anak Mama juga memiliki kekurangan. Dia mudah percaya pada orang lain, itu juga yang membuat Tante takut jika suatu hari nanti dia dimanfaatkan oleh orang lain."
Adisti hanya diam mendengarkan. Dia merasa seperti calon mertuanya ini tengah menyembunyikan sesuatu dan ingin menjelaskan, tetapi sulit. Entah apa itu.
__ADS_1