Janji Yang Kau Ingkari

Janji Yang Kau Ingkari
55. Berkunjung


__ADS_3

Hari Sabtu Adisti bersiap untuk pergi ke luar kota. Seperti janjinya kemarin dia akan datang ke rumah Vira. Wanita itu sudah tidak sabar ingin bertemu dengan sepupunya. Dari semalam Vira menanyakan tentang kepergiannya jadi atau tidak. Mungkin sepupunya itu juga sama seperti dirinya, yang sudah tidak sabar ingin bertemu. Padahal setiap hari mereka selalu melakukan panggilan telepon.


Adisti pergi bersama dengan Alex, keduanya pergi dengan menggunakan pesawat. Setelah kejadian kemarin dia benar-benar trauma, tidak ingin ke mana-mana sendiri. Sebelum pergi juga wanita itu sudah izin pada istri Alex, untungnya istrinya mengizinkan karena memang ini adalah pekerjaan sang suami.


Tidak berapa lama akhirnya Adisti dan Alex sampai juga di depan rumah Om Edwin. Belum juga wanita itu mengetuk pintu, seruan dari seorang gadis yang membukakan pintu membuat Adisti tersenyum. Siapa lagi kalau bukan Vira.


"Adisti! Aku kangen banget sama kamu! Aku dari tadi nungguin kamu, tapi kamu nggak sampai-sampai," gerutu Vira sambil memeluk sepupunya sebentar.


"Ya ampun, Vir! Itu kamu saja yang terlalu antusias. Aku dari kemarin juga bilang kalau pesawatku berangkatnya pagi, berarti sampai sini agak siangan."


"Iya, deh iya. Ayo kita masuk!" Tatapan Vira beralih pada Alex yang ada di belakan Adisti. "Kamu ngajak dia juga?"


"Iya, aku lebih aman kalau ada temennya."

__ADS_1


"Kenapa ngajak dia? Bukannya ngajak calon suami kamu."


"Kamu itu ada-ada saja. Hubunganku dengan Bryan saja belum jelas, sekarang malah bicarain pria lain," jawab Adisti sambil berjalan memasuki rumah.


Vira pun segera ikut berbalik dan mengikuti langkah sepupunya sambil bertanya, "Memangnya belum sah juga?"


"Belum, aku nggak tahu bagaimana kelanjutannya. Aku males datang kepersidangan. Aku sudah menyerahkan semuanya sama Julio."


"Semoga saja semuanya bisa terselesaikan dengan baik."


"Sudah, kamarmu di tempat biasanya, tapi ... aku nggak siapin kamar buat Alex. Aku nggak tahu kalau kamu ajak dia," sahut Vira dengan sesal.


"Hah! Kalau nggak ada kamar sebaiknya aku tidur di hotel sajalah," sahut Adisti yang merasa tidak enak pada Vira dan Alex.

__ADS_1


Ini kesalahannya juga tidak mengatakan apa pun pada Vira sebelum ke sini. Adisti juga tidak mungkin pergi seorang diri, mengingat jika dirinya masih menjadi incaran beberapa orang. Mungkin kepergiannya ke sini juga ada yang mengikutinya.


"Jangan gitu dong! Sebenarnya ada kamar, tapi sudah lama tidak dibersihkan, pasti berdebu."


"Saya tidur di mana saja, Nyonya. Di depan kamar Anda juga tidak apa-apa, justru saya lebih tenang seperti itu, bisa menjaga Anda," sahut Alex yang tidak ingin merepotkan pemilik rumah.


"Jangan begitu dong, Alex. Kalau seperti itu aku jadi merasa tidak enak. Kamu tunggu di sini saja, biar aku suruh bibi bersihkan. Tidak apa-apa 'kan nunggu sebentar," sela Vira.


Alex menatap Adisti seolah meminta persetujuan dari majikannya itu. Setelah mendapat anggukan dari Adisti, Alex pun berkata, "Tidak apa-apa, saya juga akan membantu membersihkan kamar itu biar lebih cepat."


"Terserah kamulah, ayo aku tunjukkan kamarnya!" Vira segera berjalan ke lantai dua.


Alex pun mengikuti langkah Vira, begitu juga dengan Adisti yang ingin tahu di mana tempat tidur bodyguard-nya itu. Alex membersihkan kamar tersebut dengan dibantu oleh asisten rumah tangga, sementara Vira dan Adisti sudah di kamar masing-masing. Vira sengaja membiarkan sepupunya beristirahat karena perjalanan pasti cukup melelahkan. Nanti saja jika ada waktu dirinya akan berbincang banyak hal dengan Adisti.

__ADS_1


Siang hari saat jam makan siang Vira sengaja menghubungi papanya agar segera pulang. Tadi pagi Edwin izin untuk bermain golf bersama dengan temannya. Tentu dengan senang hati pria itu langsung pamit pada temannya. Dia sudah tidak sabar bertemu dengan keponakannya.


__ADS_2