
Adisti memeriksa email yang dikirimkan oleh Leo kemarin mengenai Nadia. Dari semua bukti, asistennya itu ternyata tidak ada tanda-tanda menghianatinya. Dia jadi merasa bersalah karena sudah menuduh Nadia yang tidak-tidak. Namun, itu semua tidak boleh membuatnya lengah, harus tetap waspada. Kita tidak akan pernah tahu apa isi hati orang lain.
Saat tengah sibuk dengan pikirannya sendiri, ponsel Adisti berdering. Tertera nama Vira di sana, wanita itu pun segera mengangkatnya. "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," sahut Vira cepat.
Adisti mengerutkan keningnya saat mendengar suara Vira yang terdengar ketus. "Kamu kenapa? Apa ada masalah? Kedengarannya sedang tidak baik-baik saja."
"Tidak!"
"Tapi dari nada suaramu sepertinya kamu sedang kesal. Memang ada masalah apa?"
Vira menghela napas kasar dan berkata, "Bagaimana aku nggak kesal. Aku sudah bela-belain pulang cepat dari sana ternyata papa bohongin aku. Dia bilang lagi sakit dan aku disuruh pulang, pas aku sudah sampai di sini ternyata dia baik-baik saja. Dia cuma bilang berkata seperti itu katanya kangen sama aku, padahal aku tahu dia itu sedang berbohong. Pasti hanya akal-akalan dia karena nggak mau sendirian di rumah."
Adisti terkekeh mendengarnya, dia senang bisa kembali mendengar gerutuan sepupunya. Wanita itu sangat tahu omnya itu yang tidak akan pernah bisa jauh-jauh dari putrinya, begitupun dengan Vira. Hubungan keduanya begitu sangat dekat, hanya saja mungkin omnya itu gengsi untuk mengakuinya.
"Pasti ada alasan kenapa Om Edwin sampai melakukan hal itu. Kamu sendiri sebagai seorang anak harusnya peka, harus lebih perhatian lagi pada ayahmu. Kamu harusnya bersyukur karena masih ada orang tua yang menjagamu," sahut Adisti dengan tenang.
"Kenapa kamu jadi bicara seperti itu, Dis? Bukankah papa juga orang tuamu? Dia selalu menganggapmu seperti putrinya sendiri. Kamu jangan pernah melupakan hal itu."
"Iya, tapi pasti rasanya akan berbeda jika memiliki ayah kandung sendiri."
__ADS_1
Vira tidak tahu harus berbicara apa. Bukan dia tidak mengerti perasaan Adisti karena dirinya pun merasakan hal yang sama, merindukan sosok ibu yang sudah lama meninggalkannya. Bahkan demi menjaga cintanya padahal sang mama, papanya tidak pernah mau menikah lagi. Padahal di luaran sana banyak sekali wanita yang ingin merebut perhatian pria itu.
"Maaf, aku tidak bermaksud untuk membuatmu sedih," ucap Vira pelan, membuat Adisti tersenyum sambil menggelengkan kepala meskipun dia tahu jika lawan bicaranya tidak bisa melihat apa yang dilakukannya.
"Tidak masalah, aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan saja, jangan merasa bersalah. Oh ya! Sampaikan salamku juga kepada Om Edwin, bilang katanya mungkin minggu depan aku akan datang berkunjung."
"Benar kamu mau ke sini?" seru Vira dengan begitu bersemangat, pasalnya sang sepupu sudah lama tidak datang.
"Tentu saja, tapi aku ke sana mau bertemu dengan Om Edwin, bukan denganmu," ucap Adisty yang sengaja ingin menggoda Vira.
Hal tersebut tentu saja berhasil karena sang sepupu saat ini memajukan bibirnya dengan cemberut. Keduanya pun terlibat obrolan yang panjang. Banyak hal yang keduanya ceritakan satu sama lain, padahal baru beberapa hari mereka berpisah.
Beberapa hari telah berlalu, Adisti mendapat pesan dari Leo, bahwa pria itu sudah mengirim hasil penyelidikannya mengenai dalang dibalik penculikan waktu itu. Dia pun tidak sabar untuk mengetahuinya. Wanita itu memeriksa secara detail berkas yang disampaikan diberikan oleh Leo. Adisti memeriksanya dengan teliti agar tidak ada satu pun yang terlewat.
Alangkah terkejutnya saat mendapati nama pelaku yang ada di balik rencana penculikan. Dia tidak menyangka, ternyata orang yang selama ini dia percaya ternyata sama penghianatnya seperti suami dan mertuanya. Entah apa Adisti membuat kesalahan, hingga semua orang bisa begitu tega padanya. Padahal setelah dipikir-pikir dirinya sama sekali tidak pernah mengganggu kehidupan mereka, tetapi kenapa justru balasannya seperti ini.
Rasanya sangat sulit dipercaya. Namun, setelah melihat beberapa bukti yang diserahkan oleh Leo, dia tidak bisa membantah lagi. Adisti harus mencari tahu sendiri mengenai hal ini. Wanita itu tidak ingin lagi menjadi orang bodoh. Kebaikannya telah dimanfaatkan oleh orang lain dan semuanya cukup sampai di sini.
"Besok aku harus ke rumah Om Edwin. Kemarin aku sudah berjanji pada Vira untuk datang ke sana. Apa mungkin aku harus membatalkan niatku saja? Aku harus menyelesaikan masalah ini dulu, tapi jika aku membatalkannya begitu saja, pasti Vira dan Om Edwin akan curiga akan sesuatu. Lebih baik aku tetap melakukan rencanaku saja, mengenai pelaku mungkin nanti aku bisa menanyakannya secara langsung kepada orang itu," gumam Adisti sambil memejamkan matanya sejenak, sambil mengurut pelipisnya yang tiba-tiba terasa pusing.
Wanita itu akan mencoba untuk terlihat biasa-biasa saja, dia tidak boleh lemah di hadapan orang lain. Apa pun yang terjadi, Adisti harus terlihat baik-baik saja agar orang yang ingin melihatnya hancur tidak bahagia. Bisa saja di luaran sana masih banyak lagi orang-orang yang tidak ingin melihatnya bahagia. Wanita itu tidak ingin membuat mereka merasa menang.
__ADS_1
Sore hari saat Adisti keluar dari butik, dia melihat Yasa sedang berdiri di samping mobilnya, entah apa tujuan dari pria itu. Padahal sudah jelas jika dirinya tidak ingin terlihat dekat dengan pria mana pun. Alex juga tidak tampak di sana, padahal sekarang sudah saatnya dirinya untuk pulang. Adisti juga tidak mungkin kembali ke dalam karena Yasa sudah melihat keberadaannya jadi, mau tidak mau wanita itu pun mendekat.
"Kamu kenapa berdiri di samping mobilku? Aku harus segera pergi dari sini," ucap Adisti yang sama sekali tidak ditanggapi Yasa.
"Kamu masuklah! Biar aku yang menyetir. Aku ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat."
"Maaf, tapi aku sudah sangat lelah. Aku ingin segera pulang."
"Hanya sebentar saja. Aku tahu saat ini kamu sedang dilema karena pelaku dari penculikan itu 'kan? Jadi lebih baik kamu ikut denganku."
Adisti diam menatap Yasa, dari mana pria itu tahu jika dirinya sudah mengetahui siapa pelaku penculik. Padahal dia sama sekali tidak mengatakan apa pun, Leo juga tidak mungkin membocorkan rahasia kliennya. Yasa yang mengerti kebingungan Adisti pun segera menjelaskan, jika dirinya sudah mengirim anak buahnya untuk memata-matai pergerakan pelaku tersebut. Yasa juga meminta mengawasi apa saja yang dilakukan para pelaku.
Yasa tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi jadi, sebisa mungkin dia melindungi wanita yang dia cintai. Adisti menatap pria yang ada di depannya, sungguh dia tidak menyangka jika Yasa sudah melakukan hal seperti itu, tapi kenapa di saat dirinya sedang tidak ingin menjalin hubungan dengan pria mana pun justru malah ada saja yang mendekatinya.
"Kenapa kamu melakukan semua ini untukku? Bukankah sudah pernah aku katakan kalau aku tidak memerlukan bantuanmu? Aku tidak ingin punya hutang budi pada siapa pun jadi, aku mohon hentikan semua yang kamu lakukan ini," ucap Adisti dengan menunduk, menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca.
"Aku memang berharap kalau bisa kembali bersamamu, tapi kalau kamu memang bisa bahagia bersama orang lain aku ikhlas. Aku hanya memohon izinkan aku menjagamu sampai seorang pria yang kamu harapkan datang dan bisa menjagamu. Setelah itu barulah aku akan mengikhlaskan kamu pergi. Asalkan kamu bahagia aku pun ikut bahagia, tapi selama kamu masih sendiri tolong jangan larang aku untuk melakukan apa yang aku inginkan. Cukup bagiku melihatmu bahagia, kamu tidak perlu membalas perasaanku karena saat ini prioritasku adalah kamu."
"Tapi itu semua pasti tidak adil untukmu. Aku tidak ingin melukai siapa pun dan aku tidak mau membuatmu menyesal di kemudian hari karena menyia-nyiakan waktu untukku."
"Aku sama sekali tidak terluka. Justru aku bahagia bisa berada di sisimu, terima kasih sudah mengkhawatirkan keadaanku."
__ADS_1