Janji Yang Kau Ingkari

Janji Yang Kau Ingkari
96. Edwin dan Vira pulang


__ADS_3

Sejak Yasa pulang dari kantor hingga makan malam, Adisti selalu diam dan tidak banyak bicara. Saat ditanya pun hanya menjawab seadanya dan hal tersebut membuat sang suami bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi pada sang istri. Om Edwin dan Vira sendiri hanya diam, keduanya berpikir jika Adisti dan Yasa sedang ada masalah dan mereka tidak berhak untuk ikut campur, kecuali sang keponakan sendiri yang meminta bantuannya, barulah dia akan turun tangan.


Sepengetahuan Edwin, Yasa juga tidak melakukan kekerasan, maka mereka akan memahami. Bukankah setiap rumah tangga pasti akan ada masalah. Tergantung setiap manusia mau menanggapinya seperti apa.


"Sayang, kamu ada apa? Dari tadi kamu diam saja, saat ditanya pun kamu hanya menjawab seadanya. Kamu ada masalah?" tanya Yasa begitu keduanya berada di dalam kamar.


Adisti pun segera mengambil amplop yang tadi dia temukan dan memberikannya pada sang suami. "Kamu lihat ini saja, nanti juga akan tahu jawabannya sendiri."


Yasa yang penasaran pun segera membukanya dan begitu terkejut melihat gambar dirinya dengan salah satu rekan bisnisnya. "Apa yang salah, Sayang? Lagi pula dia ini rekan kerjaku, di dalam foto ini juga kami nggak melakukan hal yang macam-macam."


"Aku tahu kamu tidak melakukan hal yang macam-macam, tapi lihatlah! Semua foto itu diambil di beberapa tempat, berarti pertemuan kalian tidak satu dua kali, tapi beberapa kali. Kalian juga terlihat begitu sangat intens, tidak ada asisten juga yang menemani kalian," sahut Adisti sambil menatap sang suami.


"Itu karena Irene tidak mau ada yang mengganggu makan kita waktu itu." Yasa terus berusaha menjelaskan agar sang istri mengerti dan tidak lagi salah paham.


"Hebat sekali, ya! Sampai-sampai mengusir asisten agar tidak mengganggu waktu saat kalian bersama."


"Bukan begitu maksudku, Sayang. Irene itu termasuk orang yang sangat sulit menikmati makan saat ramai-ramai jadi, dia meminta hanya berdua saja."


Adisti diam, tidak lagi banyak bicara. Percuma juga banyak bicara dengan sang suami nyatanya Yasa lebih membela rekan kerjanya yang bernama Irene itu. Kalau memang Irene tidak nyaman makan bersama dengan orang banyak, kenapa harus dengan Yasa? Kenapa tidak makan berdua dengan asistennya saja.

__ADS_1


Padahal sebelumnya Yasa orang yang sangat peka, tapi entah kenapa sekarang justru setelah menikah memberikan celah pada orang lain untuk masuk ke dalam kehidupannya. Mungkin ini yang namanya cobaan dalam rumah tangga, terkadang kita tidak sadar dengan apa yang dilakukan. Mudah-mudahan saja sang suami tidak terpengaruh bujuk setan. Dia tidak ingin merasakan yang namanya kehilangan lagi.


Adisti pun memilih merebahkan tubuhnya, tidak ingin berdebat dengan sang suami. Biarlah nanti waktu yang jawabnya. Semoga saja saat itu tiba tidak ada penyesalan. Wanita itu memejamkan mata, tidak sanggup menerima hal yang tidak diinginkan.


"Sayang, kenapa tidur? Kamu percaya padaku, kan? Aku tidak mungkin melakukan hal yang macam-macam. Bisa memilikimu membuatku bahagia, aku tidak mungkin mengkhianatimu."


Adisti masih berada di posisinya, dia ingin Yasa sendiri yang sadar dengan apa yang sudah pria itu lakukan. Kalau tidak tahu juga mungkin memang sang suami memang terlalu polos untuk mengartikan sikap seorang wanita. Padahal sebelumnya sangat pandai menjaga hatinya kenapa sekarang malah kebalikannya.


"Sayang, kita belum selesai bicara."


"Aku sudah lelah, biarkan aku istirahat. Besok aku harus kembali lagi bekerja," sahut Adisti tanpa mengubah posisinya.


Yasa tidak lagi memaksa dan memilih merebahkan tubuhnya di samping sang istri. Dia memandang langit-langit kamar, memikirkan kemarahan sang istri dan penyebabnya. Apakah mungkin dirinya memang salah telah berbuat baik kepada rekan kerjanya, tapi sungguh tidak memiliki maksud apa pun terhadap wanita itu ataupun wanita lainnya.


Keesokan paginya, Adisty dan Yasa sudah siap dengan pakaian kerjanya. Om Edwin dan Vira juga sudah bersiap akan kembali ke kotanya. Adisti hari ini akan mengantar mereka ke bandara lebih dulu, barulah pergi ke butik. Sebenarnya wanita itu masih ingin bersantai di rumah, tetapi di rumah seorang diri membuatnya jenuh dan memilih kembali beraktifitas.


Yasa sendiri ada janji dengan klien jadi tidak bisa mengantar Om Edwin dan Vira. Kedua orang itu pun tidak keberatan jika hanya diantar Adisti karena memang ada yang ingin dibicarakan.


"Kamu lagi ada masalah sama Yasa?" tanya Om Edwin sebelum meninggalkan kota ini.

__ADS_1


Meskipun tadi pagi keduanya sudah terlihat lebih baik. Namun, Edwin masih bisa merasakan ketegangan di antara keduanya. Memang itu hal yang wajar, tetapi sebagai orang tua tentu dia khawatir dan selalu ingin rumah tangga anaknya baik-baik saja.


"Ya ... begitulah, namanya juga rumah tangga pasti akan ada saja masalah yang datang," jawab Adisti sekenanya.


"Tapi kalian itu masih pengantin baru, rasanya aneh saja belum juga kalian pergi berbulan madu, tapi masalah ada saja yang datang. Jangan terlalu remeh dalam menghadapi masalah, tadinya masalah kecil akan semakin membesar jika tidak segera diselesaikan. Hadapi semuanya dengan kepala dingin. Om percaya kamu bisa menghadapi setiap masalah yang datang," ujar Edwin sebelum dia meninggalkan keponakannya.


"Iya, Om. Aku akan selalu mengingat nasihat yang Om berikan. Doakan saja agar rumah tanggaku dan Yasa baik-baik saja."


"Tentu Om akan selalu mendoakanmu. Bagi Om kamu juga sama seperti Vira, sudah Om anggap seperti anak sendiri." Edwin pun memeluk Adisti sebagai tanda perpisahan. "Jaga diri baik-baik, tempatkan dirimu sebagai seorang istri. Meskipun kamu bisa memiliki segalanya, tapi selalu ingatlah kodratmu sebagai wanita dan sebagai istri."


"Iya, Om. Aku akan selalu mengingat nasehat yang Om berikan."


Adisti mengurai pelukan Edwin, beralih memeluk sepupunya itu dan berkata, "Jaga diri baik-baik, jaga Om Edwin sebaik-baiknya. Jika ada sesuatu segera hubungi aku, nanti aku akan selalu melaporkan apa saja kegiatan Rio di sini. Jika sampai dia macam-macam aku yang akan menghajarnya, kamu tenang saja."


Vira mencebikkan bibirnya sambil memutar bola matanya malas. "Rio bukan orang yang seperti itu jadi, kamu tidak perlu susah-susah mengawasinya."


"Wah! Sepertinya kamu sudah mengenal dia luar dalam. Aku salut sama kamu," sahut Adisti dengan mengacungkan kedua jempolnya.


"Bukan seperti itu, hanya saja aku percaya padanya. Meskipun kami baru saling mengenal, tapi aku bisa melihat sesuatu yang tulus dari matanya dan tingkah lakunya."

__ADS_1


Adisti tersenyum dan mengangguk. Andai saja dirinya bisa seperti Vira yang begitu percaya pada pasangan, pasti dirinya tidak akan bermasalah seperti ini. Namun, setelah penghianatan yang dirinya rasakan, dia selalu saja merasa takut jika akan dicurangi lagi. Demi mengantisipasi semuanya, Adisti perlu bertanya dan mencari tahu apa yang terjadi.


Suara panggilan terdengar dengan kota tujuan Edwin dan Vira. Keduanya pun segera masuk, sementara Adisty akan pergi ke butiknya.


__ADS_2