Janji Yang Kau Ingkari

Janji Yang Kau Ingkari
93. Kesepakatan


__ADS_3

"Mau bagaimana lagi karena memang dia anak Ibu jadi, mau tidak mau terpaksa menemaninya," sahut Bu Aisyah yang semakin membuat Rio kesal.


"Karena itu, Bu, sebaiknya ibu tinggal di sini saja selama di kota ini jadi, aku ada temannya. Nanti kita juga bisa belanja sama-sama," ucap Adisti.


"Kalau itu ... Ibu merasa nggak enak kalau tinggal di sini, malah nantinya ibu akan semakin merepotkan kalian."


"Kenapa Ibu berpikir seperti itu? Tidak ada yang merasa direpotkan. Justru aku merasa senang karena ada temannya. Lagi pula suamiku juga besok sudah mulai kerja, aku di rumah sendirian jadi, Ibu sebaiknya menemaniku tinggal di sini untuk sementara."


"Nanti saya pikirkan dulu."


Adisti pun mengangguk, dia juga tidak mungkin memaksakanmu keinginannya pada ibunya Rio. Dirinya sendiri juga tidak akan nyaman jika tinggal di rumah orang yang masih asing. Meskipun sudah menganggap biasa seperti putranya sendiri, tetap saja rasanya akan berbeda jika di rumah anaknya. Mereka pun berbincang sambil menikmati makan malam.


Setelah selesai, Adisti mengajak semua orang ke taman samping rumah untuk acara barbeque. Wanita itu terlihat begitu antusias mengipasi arang bersama dengan Bu Aisyah. Tadi Vira juga ikut, tapi baru saja Rio mengajaknya berbincang sejenak. Adisti juga tidak melarang karena tahu ada yang ingin dibicarakan oleh sepupunya.


"Aku pikir kamu mau mengajakku makan di luar, nggak tahunya kamu yang datang ke sini dan Makan malam di rumah ini," ujar Vira membuka pembicaraan.


"Tadinya aku juga mau ngajakin kamu keluar, tapi tiba-tiba saja Ibu mau datang ke sini. Aku juga tidak mungkin membiarkannya datang sendiri jadi, terpaksa aku membatalkan rencana kita. Maafkan aku," sahut Rio yang merasa tidak enak.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, lagi pula di sini juga menyenangkan, rame jadi terasa kekeluargaannya."


Rio hanya mengangguk sambil melihat ke arah Vira sekilas dan melempar pandangannya ke depan. Keduanya masih bisa melihat kerepotan semua orang yang ada di taman. Keduanya tersenyum, berharap kebersamaan seperti ini akan selalu ada.


"Lusa aku dan papa akan pulang. Mungkin ke sini juga satu bulan sekali, bagaimana menurutmu?"


"Bagaimana apanya? Itu 'kan sudah menjadi keputusanmu, terserah padamu mau bagaimana."


Vira menatap sebal ke arah Rio karena pria itu sepertinya tidak mengerti apa yang dia maksud. Rio pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sepertinya dia telah salah berbicara.


"Kamu itu seorang laki-laki, masa tidak mengerti apa yang aku katakan!" ujar Vira dengan ketus, seketika membuat Rio bingung harus bagaimana.


"Maksudku bagaimana kelanjutan hubungan kita? Apakah harus LDR-an? Bagaimana kita saling mengenal kalau jarak kita terlalu jauh."


"Oh." Rio mengangguk, baru mengerti apa yang dimaksud oleh Vira. "Sebenarnya aku tidak masalah jika harus berhubungan jarak jauh, justru itu bagus."


Vira terperangah dengan jawaban yang diberikan Rio. Di luar sana pasti para pasangan akan merasa marah jika harus hubungan jarak jauh, tapi Rio malah berpikir yang sebaliknya. Pria itu justru merasa senang jika harus berjauhan. Apakah orang seperti ini yang nantinya akan menjadi suami Vira? Bisa-bisa gadis itu nanti akan kering dan haus akan kasih sayang. Padahal selama ini dia mendapatkan kasih sayang sepenuhnya dari sang papa.

__ADS_1


Rio menatap ke arah Vira saat tahu gadis itu menatapnya tajam. Rio menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sepertinya Vira telah salah paham dengan maksudnya. Sebaiknya dia menjelaskan agar tidak menjadi masalah ke depannya.


"Tunggu sebentar, Vira, aku belum menjelaskannya. Maksudku begini, kita masih dalam proses pengenalan. Jika kita berdekatan yang ada akan semakin menambah dosa, kalau berjauhan kita hanya bisa saling mendengarkan suara, melihat hanya sebatas video call jadi lebih meminimalkan dosa. Kita bisa berbicara banyak hal lewat ponsel. Jika kamu ingin menanyakan sesuatu ataupun ingin tahu sesuatu, kamu bisa langsung menanyakan padaku. Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa menanyakan pada orang-orang yang ada di sekelilingku. Apalagi sekarang Nona Adisti juga sudah menjadi istri Tuan Yasa, otomatis aku akan setiap hari bertemu dengannya. Aku yakin kalau Nona Adisti tidak akan membohongimu karena aku tahu betapa sayangnya dia padamu dan juga Om Edwin. Jika nanti kita berdua sama-sama cocok dan menikah, barulah aku akan membawamu tinggal bersamaku. Saat itu tiba aku tidak akan mau menjalani hubungan jarak jauh denganmu. Meskipun apa yang aku miliki tidak seberapa dengan apa yang papamu memiliki, tapi percayalah sebagai seorang suami aku akan berusaha untuk membuatmu bahagia. Apa pun akan aku lakukan untuk memenuhi keinginanmu."


Vira terharu mendengar begitu panjang kalimat yang diucapkan oleh Rio, tidak menyangka pria yang selama ini dia kenal dingin dan kaku bisa juga berkata romantis seperti tadi. Bukan romantis sih hanya dirinya saja yang baper, padahal apa yang dikatakannya hanya kalimat pernyataan saja.


"Apa kamu yakin dengan apa yang kamu katakan?" tanya Vira untuk memastikannya.


"Tentu saja aku yakin. Aku buka orang yang mudah mengobral janji, aku juga bukan orang yang suka ingkar janji. Semua akan aku lakukan agar janji itu terpenuhi."


"Baiklah, aku setuju dengan apa yang kamu katakan. Tidak ada salahnya kita menjalin hubungan jarak jauh, itu juga bagus agar kita terhindar dari dosa. Semoga kita berjodoh, kalaupun tidak aku tidak ingin ada dendam diantara kita. Anggap saja kita tidak pernah dekat dan bersikap seperti sebelumnya."


Rio hanya tersenyum dan mengangguk. Dalam hati dia meyakinkan diri bahwa cepat atau lambat Vira pasti akan menjadi miliknya. Entah dirinya yang harus berupaya juga dia tidak peduli, asalkan bisa memiliki sang pujaan hati.


Vira sendiri juga berdoa dalam hati agar dirinya dan Rio berjodoh. Di luar sana belum tentu juga ada pria yang sebaik Rio, belum tentu juga ada yang semenarik pria itu. Sebelumnya pasti ada banyak wanita yang pernah menyatakan cinta pada Rio. Namun, pria itu yang sudah menolaknya.


Meskipun Rio orang yang kaku dan dingin, tidak dipungkiri jika dia memiliki aura tersendiri yang membuat dirinya merasa kagum. Entah ini hanya perasaan kagum atau cinta yang sedang tumbuh, biarlah waktu yang menjawab. Kalaupun nanti dirinya dan pria itu tidak berjodoh, semoga saja perasaan ini segera hilang.

__ADS_1


"Sebaiknya kita kembali ke sana. Jika tidak pasti nanti Tuan Yasa dan Nona Adisti akan menyindir kita habis-habisan," ajak Rio.


Vira tersenyum dan mengangguk, dia juga sangat tahu bagaimana pasangan suami istri itu, yang ada nanti mereka akan menjelekkan dirinya di depan calon mertua. Memikirkan ibunya Rio, Vira jadi merasa tidak enak meninggalkan wanita paruh baya itu bekerja.


__ADS_2